Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ujung Malam yang Menenangkan: Cara Islam Mengatasi Sulit Tidur dan Mimpi Buruk

Ali Mustofa • Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:29 WIB
Ilustrasi perempuan sedang tidur (freepik)
Ilustrasi perempuan sedang tidur (freepik)

RADAR KUDUS – Dalam ajaran Islam, mimpi bukan sekadar bunga tidur tanpa arti.

Ia bisa menjadi isyarat, pengingat, bahkan kabar yang mengandung makna spiritual. 

Karena itu, Nabi Muhammad SAW memberikan tuntunan bagaimana seorang Muslim menyikapi mimpi, baik yang menyenangkan maupun yang menggelisahkan.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam merespons mimpi.

Ketika seseorang mengalami mimpi buruk, Rasulullah SAW menganjurkan untuk segera memohon perlindungan kepada Allah.

Dengan membaca ta’awudz, lalu meludah ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali, serta tidak menceritakan mimpi tersebut kepada siapa pun.

Sikap ini bertujuan agar dampak buruk dari mimpi tidak memengaruhi hati dan pikiran.

Sebaliknya, jika mimpi yang datang terasa indah dan menenangkan, maka diperbolehkan untuk membagikannya kepada orang yang dapat dipercaya.

Hal ini karena mimpi baik diyakini sebagai bagian dari kabar gembira.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Mimpi yang baik berasal dari Allah…” (HR. Bukhari)

Pesan ini menegaskan bahwa tidak semua mimpi memiliki nilai yang sama.

Ada mimpi yang membawa kebaikan, dan ada pula yang harus diabaikan agar tidak menimbulkan kegelisahan.

Menemukan Ketenangan di Ujung Malam

Tidak jarang seseorang merasakan tubuhnya letih, namun matanya enggan terpejam.

Dalam kondisi seperti ini, Islam memberikan solusi yang sederhana namun sarat makna.

Dianjurkan untuk bangkit sejenak dari pembaringan, kemudian membaca Surah Al-Falaq dan An-Nas, lalu mengusapkan kedua tangan ke seluruh tubuh sebelum kembali berbaring.

Amalan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk ikhtiar menenangkan batin.

Bacaan ayat suci menjadi peneduh jiwa, sementara gerakan sederhana tersebut menjadi simbol penyerahan diri atas segala kegelisahan yang dirasakan.

Ruang Hening yang Penuh Makna

Tidur sejatinya adalah ruang sunyi yang kerap diabaikan maknanya.

Di balik keheningan malam, tersimpan kesempatan untuk merenung, menata kembali hati, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Bahkan dalam kondisi paling sederhana, seperti menjelang tidur atau setelah terbangun karena mimpi, seorang hamba tetap memiliki peluang untuk meraih nilai ibadah.

Kesadaran inilah yang menjadikan tidur tidak lagi sekadar rutinitas harian.

Ia berubah menjadi perjalanan batin yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya.

Pada akhirnya, setiap malam adalah kesempatan untuk menutup hari dengan cara terbaik.

Dengan menjaga adab, mengendalikan respons terhadap mimpi, serta menghadirkan dzikir dalam setiap keadaan, seorang Muslim dapat menjadikan tidurnya sebagai bagian dari ibadah.

Lebih dari itu, tidur juga menjadi pengingat bahwa kehidupan memiliki batas.

Maka, menjaga kesadaran spiritual sebelum terlelap adalah bentuk persiapan menuju akhir yang baik.

Yaitu sebuah harapan akan husnul khatimah, ketika setiap helaan napas terakhir ditutup dalam keadaan penuh keimanan. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Kebaikan #islam #Allah SWT #ibadah #mimpi