RADAR KUDUS - Di antara ayat-ayat yang menggambarkan kemuliaan Lailatul Qadr, terdapat satu ungkapan yang kerap mengundang perhatian para ulama, yakni penyebutan “turunnya malaikat dan ruh”.
Frasa ini tidak hanya menunjukkan keagungan malam tersebut, tetapi juga membuka ruang penafsiran yang luas dalam khazanah keilmuan Islam.
Perbedaan pandangan para ahli tafsir terhadap makna “ruh” justru menjadi bukti kekayaan pemahaman umat dalam menelaah ayat-ayat Al-Qur’an.
Setiap penafsiran lahir dari upaya mendekatkan makna ayat dengan kebesaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Penyebutan “ruh” dalam Surah Al-Qadr berdampingan dengan malaikat menjadi penegasan bahwa ada makhluk istimewa yang turut hadir pada malam tersebut.
Hal ini tentu bukan tanpa makna, karena Al-Qur’an menggunakan susunan kata yang penuh hikmah dan tujuan.
Allah SWT berfirman: “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr: 4)
Ayat ini menjadi dasar utama bagi para ulama dalam menafsirkan makna “ruh”, yang hingga kini tetap menjadi pembahasan menarik dalam ilmu tafsir.
Ruh sebagai Malaikat Jibril
Pendapat yang paling kuat dan banyak dipegang oleh para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “ruh” adalah Malaikat Jibril a.s.
Penafsiran ini didasarkan pada kedudukan Jibril sebagai malaikat pembawa wahyu, sekaligus makhluk yang memiliki keistimewaan di antara malaikat lainnya.
Imam ar-Razi termasuk di antara ulama yang menguatkan pandangan ini.
Menurutnya, penyebutan “ruh” secara khusus setelah kata malaikat menunjukkan kemuliaan dan keutamaan Jibril.
Ia disebut secara tersendiri sebagai bentuk penghormatan, meskipun secara umum sudah termasuk dalam golongan malaikat.
Dengan demikian, turunnya “ruh” pada malam Lailatul Qadr semakin menegaskan bahwa malam tersebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Makhluk Besar yang Luar Biasa
Sebagian ulama lain memiliki pandangan berbeda.
Mereka menafsirkan “ruh” sebagai makhluk yang sangat besar dan agung, bahkan digambarkan memiliki ukuran yang begitu luar biasa hingga langit dan bumi tampak kecil di hadapannya.
Penafsiran ini menunjukkan bahwa “ruh” bukan sekadar makhluk biasa, melainkan entitas yang memiliki kedudukan tinggi dalam ciptaan Allah.
Kehadirannya pada Lailatul Qadr semakin memperkuat kesan bahwa malam tersebut dipenuhi oleh makhluk-makhluk mulia yang membawa rahmat.
Kelompok Malaikat Khusus
Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa “ruh” merujuk pada sekelompok malaikat khusus.
Mereka hanya turun pada malam Lailatul Qadr bersama para malaikat lainnya, dan tidak tampak pada waktu-waktu selainnya.
Pandangan ini menegaskan bahwa Lailatul Qadr merupakan malam yang sangat istimewa, hingga Allah menurunkan makhluk-makhluk khusus yang tidak biasa hadir di waktu lain.
Hal ini semakin memperkaya pemahaman tentang betapa agungnya malam tersebut.
Makhluk Tersendiri Selain Malaikat dan Manusia
Pendapat lain yang juga disebutkan dalam kitab-kitab tafsir menyatakan bahwa “ruh” adalah makhluk tersendiri, bukan malaikat dan bukan pula manusia.
Ia digambarkan sebagai makhluk yang memiliki sifat berbeda, bahkan disebut dapat makan dan minum.
Penafsiran ini menunjukkan bahwa alam ciptaan Allah sangat luas dan tidak seluruhnya dapat dipahami oleh manusia.
Kehadiran “ruh” dalam ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ada banyak hal gaib yang berada di luar jangkauan akal manusia.
Kekayaan Tafsir dan Hikmah di Baliknya
Beragamnya penafsiran tentang “ruh” dalam Surah Al-Qadr tidak seharusnya menjadi perdebatan yang memecah, melainkan menjadi bukti luasnya cakrawala keilmuan Islam.
Perbedaan ini justru memperkaya pemahaman dan membuka ruang refleksi yang lebih dalam terhadap ayat-ayat Allah.
Apa pun makna yang diambil, satu hal yang pasti: penyebutan “ruh” bersama para malaikat menunjukkan betapa agung dan mulianya Lailatul Qadr.
Malam itu bukan hanya dipenuhi oleh ibadah manusia, tetapi juga oleh kehadiran makhluk-makhluk langit yang membawa rahmat dan keberkahan. (top)
Editor : Ali Mustofa