RADAR KUDUS – Pertengkaran merupakan fenomena yang tak pernah lepas dari kehidupan manusia.
Sejak awal penciptaannya, manusia telah dibekali potensi untuk menjalin hubungan sekaligus potensi untuk berselisih.
Dalam perjalanan hidup, keduanya berjalan beriringan, melahirkan harmoni di satu sisi, dan konflik di sisi lainnya.
Baca Juga: Belajar dari Konflik: Ini Penyebab Pertengkaran dalam Kehidupan Sehari-hari
Pertengkaran tidak semata-mata dipicu oleh besar kecilnya persoalan, melainkan lebih dalam dari itu: bagaimana manusia mengelola hati, pikiran, serta perbedaan yang ada.
Dalam perspektif religius, pertengkaran bisa menjadi cermin kelemahan diri, namun juga dapat menjadi sarana penyucian jiwa apabila dihadapi dengan kesabaran dan kebijaksanaan.
Al-Qur’an sendiri telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keberagaman agar saling mengenal, bukan untuk saling bermusuhan (QS. Al-Hujurat: 13).
Namun dalam realitasnya, perbedaan justru kerap menjadi titik awal pertengkaran.
Baca Juga: Tak Sekadar Menahan Lapar, Puasa Latih Kendali Diri dan Tingkatkan Iman
Pertengkaran pada dasarnya adalah refleksi dari dinamika batin manusia.
Ia muncul ketika keinginan tidak sejalan, ketika ego lebih dominan, atau ketika hati tidak mampu menerima kenyataan.
Dalam Islam, konflik tidak selalu dipandang negatif.
Ia bisa menjadi ujian yang mengasah kesabaran, melatih pengendalian diri, serta mengajarkan pentingnya keadilan dan keikhlasan.
Dari sinilah manusia diuji: apakah ia memilih jalan amarah, atau jalan kedewasaan.
Qabil dan Habil: Iri yang Berujung Tragis
Kisah pertengkaran pertama dalam sejarah manusia tergambar dalam cerita Qabil dan Habil (QS. Al-Ma’idah: 27–31).
Keduanya diperintahkan untuk berkurban, namun hanya kurban Habil yang diterima.
Rasa iri dan dengki yang tidak terkendali membuat Qabil kehilangan akal sehat hingga tega menghabisi nyawa saudaranya sendiri.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa pertengkaran yang berakar dari kecemburuan dapat membawa manusia pada kehancuran.
Ketika emosi dibiarkan tanpa kendali, ia mampu menutup hati dari kebenaran.
Bani Israil: Perdebatan yang Memperumit Perintah
Kisah lain tampak dalam perjalanan Nabi Musa bersama Bani Israil (QS. Al-Baqarah: 67–71).
Ketika Allah memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi, mereka justru memperpanjang persoalan dengan berbagai pertanyaan yang tidak perlu.
Perintah yang sederhana berubah menjadi rumit karena sikap keras kepala dan gemar berdebat.
Dari kisah ini, terlihat bahwa pertengkaran sering kali muncul bukan karena sulitnya masalah, tetapi karena sikap manusia yang enggan menerima dengan lapang dada.
Perdebatan tanpa hikmah hanya akan memperbesar konflik.
Nabi Daud: Pentingnya Keadilan dalam Konflik
Dalam kisah Nabi Daud (QS. Shad: 21–25), diceritakan dua orang yang datang membawa sengketa.
Salah satunya memiliki banyak kambing dan ingin mengambil milik saudaranya yang hanya satu.
Nabi Daud sempat memberikan keputusan secara cepat, namun kemudian menyadari bahwa tergesa-gesa dalam menyelesaikan konflik bisa menimbulkan ketidakadilan.
Kisah ini mengajarkan bahwa dalam pertengkaran, keadilan harus menjadi prioritas.
Mendengar semua pihak dan mempertimbangkan dengan bijak adalah kunci agar konflik tidak melahirkan ketimpangan.
Nabi Yusuf: Dari Iri Menuju Pemaafan
Kisah Nabi Yusuf (QS. Yusuf: 7–18) menjadi salah satu gambaran paling menyentuh tentang pertengkaran dalam keluarga.
Saudara-saudaranya diliputi rasa iri karena perhatian ayah mereka lebih besar kepada Yusuf.
Kecemburuan itu mendorong mereka melakukan tindakan kejam, yakni membuang Yusuf ke dalam sumur.
Namun, akhir dari kisah ini justru menghadirkan pelajaran mulia.
Ketika Allah mengangkat derajat Yusuf, ia memilih untuk memaafkan saudara-saudaranya.
Di sinilah terlihat bahwa pemaafan adalah puncak penyelesaian konflik.
Pertengkaran tidak harus berakhir dengan dendam, tetapi bisa ditutup dengan kelapangan hati.
Dari berbagai kisah tersebut, terlihat bahwa pertengkaran bukan sekadar peristiwa sosial, melainkan bagian dari pendidikan jiwa.
Ia lahir dari berbagai sebab emosi, kepentingan, perbedaan, hingga kelemahan dalam memahami kebenaran.
Namun Islam memberikan tuntunan yang jelas dalam menghadapinya.
Menjaga lisan, menahan amarah, berlaku adil, serta memaafkan adalah nilai-nilai utama yang diajarkan.
Allah berfirman: "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 134).
Belajar dari Kisah, Menata Kehidupan
Kisah Qabil dan Habil mengajarkan bahaya iri hati.
Bani Israil memberi pelajaran tentang keras kepala. Nabi Daud mengingatkan pentingnya keadilan.
Sementara Nabi Yusuf menunjukkan keindahan pemaafan.
Semua kisah tersebut menjadi cermin bahwa pertengkaran bisa membawa kehancuran, tetapi juga bisa menjadi jalan menuju kedewasaan jika disikapi dengan benar.
Pada akhirnya, pertengkaran bukanlah akhir dari sebuah hubungan.
Ia adalah ujian yang mengukur sejauh mana manusia mampu mengendalikan diri dan menjaga hati.
Kedamaian sejati tidak lahir dari ketiadaan konflik, melainkan dari kemampuan mengelolanya dengan bijak.
Dengan berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an dan teladan para nabi, pertengkaran dapat diubah menjadi sarana memperbaiki diri.
Di situlah letak makna terdalam kehidupan: bukan menghindari konflik sepenuhnya, tetapi belajar darinya untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, adil, dan penuh kasih. (top)
Editor : Ali Mustofa