Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Belajar dari Konflik: Ini Penyebab Pertengkaran dalam Kehidupan Sehari-hari

Ali Mustofa • 2026-03-18 14:48:59
Ilustrasi perang. (AI GENERATED/CHATGPT
Ilustrasi perang. (AI GENERATED/CHATGPT

RADAR KUDUS – Pertengkaran kerap hadir dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari dinamika hubungan sosial.

Ia bisa muncul di tengah keluarga, pertemanan, hingga lingkungan kerja.

Tidak sedikit konflik berawal dari hal sederhana, namun berkembang menjadi besar karena tidak dikelola dengan bijak.

Dalam pandangan yang lebih dalam, pertengkaran bukan sekadar benturan kepentingan, tetapi juga cerminan kondisi hati, cara berpikir, serta kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri.

Al-Qur’an sendiri telah mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbeda untuk saling mengenal, bukan saling bermusuhan (QS. Al-Hujurat: 13).

Berikut sejumlah faktor yang kerap menjadi penyebab pertengkaran, beserta nilai-nilai dalil yang dapat menjadi pedoman dalam menyikapinya.

1.     Komunikasi: Lisan yang Bisa Menyatukan atau Melukai

Komunikasi menjadi pintu utama dalam setiap hubungan.

Namun, kesalahan dalam menyampaikan pesan sering kali menjadi awal konflik. 

Kata-kata yang kasar, sindiran tajam, atau cara bicara yang tidak tepat dapat melukai hati dan memancing emosi.

Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat lain juga menegaskan: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra: 53).

Ketika komunikasi tidak dibangun dengan kelembutan dan kejelasan, kesalahpahaman mudah terjadi, dan pertengkaran pun sulit dihindari.

2.    Emosi Pribadi: Amarah yang Menjadi Pemicu Utama

Setiap manusia memiliki emosi yang tidak selalu stabil.

Rasa marah, cemburu, tersinggung, atau sakit hati dapat menjadi bahan bakar pertengkaran jika tidak dikendalikan.

Dalam banyak kasus, konflik bukan dipicu oleh masalah besar, melainkan oleh reaksi emosional yang berlebihan.

Rasulullah SAW mengingatkan: "Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan diri ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Qur’an juga memuji orang yang mampu menahan emosi: "Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia." (QS. Ali Imran: 134).

Pengendalian emosi menjadi kunci agar pertengkaran tidak berkembang menjadi permusuhan yang berkepanjangan.

3.    Kepentingan dan Kepemilikan: Dunia yang Sering Diperebutkan

Pertengkaran juga kerap muncul karena benturan kepentingan, baik terkait harta, jabatan, maupun hak.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa terjadi di keluarga, tempat kerja, hingga lingkungan sosial.

Al-Qur’an mengingatkan: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau..." (QS. Al-Hadid: 20).

Ketika kepentingan duniawi terlalu diutamakan, manusia cenderung mempertahankan haknya tanpa memikirkan dampak bagi orang lain.

Di sinilah pertengkaran sering tak terhindarkan.

4.    Perbedaan Pandangan: Keragaman yang Seharusnya Dirawat

Perbedaan pendapat, keyakinan, maupun cara pandang adalah hal yang wajar dalam kehidupan manusia.

Namun, tanpa sikap saling menghargai, perbedaan justru menjadi sumber konflik.

Allah berfirman: "Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat, tetapi mereka senantiasa berselisih." (QS. Hud: 118).

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah.

Yang menjadi persoalan bukan perbedaannya, tetapi cara manusia menyikapinya. 

Jika dihadapi dengan ego, perbedaan akan berubah menjadi pertengkaran.

5.     Lingkungan: Pengaruh yang Membentuk Cara Bersikap

Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk karakter seseorang.

Lingkungan yang penuh ketegangan, provokasi, atau persaingan tidak sehat dapat memicu konflik lebih mudah.

Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang itu tergantung agama temannya, maka perhatikanlah dengan siapa ia berteman." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Lingkungan yang baik akan mendorong penyelesaian masalah dengan bijak, sedangkan lingkungan yang buruk justru memperbesar potensi pertengkaran.

6.     Tekanan: Beban Hidup yang Memicu Ledakan Emosi

Tekanan hidup menjadi faktor yang sering tidak terlihat, tetapi sangat berpengaruh.

Masalah ekonomi, pekerjaan, maupun persoalan pribadi dapat membuat seseorang kehilangan kesabaran.

Allah berfirman: "Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan..." (QS. Al-Baqarah: 155).

Ketika tekanan tidak dikelola dengan baik, emosi menjadi mudah tersulut.

Hal kecil pun bisa memicu pertengkaran besar sebagai bentuk pelampiasan.

Pertengkaran sebagai Cermin dan Ujian Kehidupan

Jika direnungkan, pertengkaran sejatinya bukan hanya persoalan luar, tetapi juga cermin kondisi dalam diri manusia.

Lemahnya komunikasi, rapuhnya pengendalian emosi, serta sempitnya cara pandang menjadi faktor yang memperbesar konflik.

Namun di sisi lain, pertengkaran juga bisa menjadi sarana pembelajaran.

Ia mengajarkan pentingnya sabar, menahan diri, serta menghargai orang lain. 

Dalam perspektif Islam, setiap konflik adalah ujian untuk meningkatkan kualitas iman dan akhlak.

Pada akhirnya, pertengkaran bukanlah akhir dari hubungan, melainkan peluang untuk memperbaiki diri.

Dengan berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah, manusia dapat mengubah konflik menjadi jalan menuju kedewasaan dan kedamaian. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Kehidupan #islam #konflik #emosi #pertengkaran #komunikasi