RADAR KUDUS - Dalam rangkaian ibadah shalat, gerakan berpindah dari posisi berdiri menuju sujud merupakan salah satu tahapan yang tampak singkat, namun memiliki makna dan manfaat yang sangat besar.
Peralihan ini dilakukan dalam waktu yang relatif cepat, tetapi mengandung hikmah mendalam, baik dari sisi kesempurnaan ibadah maupun manfaat bagi kesehatan tubuh manusia.
Gerakan turun menuju sujud bukan sekadar perpindahan posisi, melainkan proses yang menunjukkan kepatuhan total seorang hamba kepada Allah SWT.
Selain itu, secara fisiologis gerakan ini memengaruhi sirkulasi darah dan kerja otot tubuh secara selaras dan seimbang.
Dalam praktik shalat, Rasulullah SAW mencontohkan tata cara turun menuju sujud dengan penuh ketenangan dan tertib.
Gerakan ini dilakukan sebagai bagian dari kesempurnaan rukun shalat yang harus dijalankan dengan tuma’ninah (tenang).
Rasulullah SAW bersabda: “Kemudian sujudlah hingga engkau tuma’ninah dalam sujud.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Hadis tersebut menegaskan bahwa setiap perpindahan gerakan dalam shalat, termasuk saat turun dari berdiri menuju sujud, harus dilakukan dengan tenang dan sempurna agar ibadah menjadi sah dan bernilai di sisi Allah SWT.
Tata Cara Gerakan dengan Tuma’ninah
Perpindahan dari berdiri menuju sujud dilakukan secara bertahap dan terkendali.
Seorang muslim menurunkan tubuh dengan khidmat, dimulai dengan membungkukkan badan, kemudian menempatkan anggota tubuh secara berurutan hingga mencapai posisi sujud.
Gerakan ini menuntut ketenangan, tidak tergesa-gesa, serta menjaga keseimbangan tubuh.
Setiap bagian tubuh bergerak secara harmonis sehingga tercipta keselarasan antara gerakan jasmani dan kekhusyukan hati.
Dalam ajaran Islam, ketertiban gerakan tersebut menjadi bagian dari kesempurnaan shalat.
Perpindahan yang dilakukan dengan tenang menunjukkan sikap tunduk dan kepasrahan seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
Hikmah Kesehatan dan Sirkulasi Darah
Dari sisi kesehatan, gerakan turun menuju sujud memiliki pengaruh penting terhadap sistem peredaran darah.
Saat tubuh bergerak dari posisi berdiri ke posisi yang lebih rendah, terjadi proses pemompaan darah secara maksimal pada pembuluh darah, khususnya di bagian kaki dan perut.
Gerakan ini merangsang aktivitas pembuluh darah samping agar bekerja lebih aktif dan efektif.
Otot-otot pada betis dan paha mengalami kontraksi yang membantu meningkatkan tekanan darah pada area tersebut.
Sehingga aliran darah terdorong dari pembuluh kecil menuju pembuluh yang lebih besar.
Proses tersebut terjadi melalui beberapa mekanisme penting: Pengerutan otot kaki dan paha, yang berfungsi membantu memompa darah dari bagian bawah tubuh.
Peningkatan tekanan pada pembuluh darah betis dan paha, sehingga memperlancar aliran darah menuju bagian tubuh atas.
Serta kontraksi otot perut, yang membantu mendorong darah dari jaringan pembuluh menuju sistem sirkulasi utama.
Koordinasi gerakan ini menunjukkan keseimbangan kerja tubuh yang selaras dengan gerakan ibadah.
Dengan demikian, setiap perpindahan posisi dalam shalat turut membantu menjaga stabilitas peredaran darah.
Keselarasan Jasmani dan Spiritualitas
Lebih dari sekadar manfaat fisik, gerakan turun menuju sujud mencerminkan simbol ketundukan total kepada Allah SWT.
Dari posisi berdiri yang menunjukkan kesiapan dan penghormatan, seorang hamba kemudian merendahkan dirinya hingga bersujud sebagai bentuk kepasrahan sepenuhnya.
Peralihan ini mengajarkan keseimbangan antara kekuatan jasmani dan kerendahan hati.
Gerakan tubuh yang teratur dan harmonis berpadu dengan kekhusyukan jiwa, sehingga menghadirkan ketenangan dan kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
Pada akhirnya, setiap gerakan dalam shalat, termasuk saat turun dari berdiri menuju sujud, tidak hanya mengandung nilai ibadah.
Tetapi juga membawa hikmah kesehatan serta keseimbangan hidup bagi manusia yang menjalankannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. (top)
Editor : Ali Mustofa