RADAR KUDUS – Setiap manusia pada hakikatnya memiliki peluang yang sama untuk memperoleh hidayah dari Allah SWT.
Hidayah tersebut merupakan cahaya petunjuk yang menuntun manusia menuju kebenaran, termasuk kesadaran untuk memeluk dan menjalankan ajaran Islam dengan sepenuh hati.
Dalam Islam, langkah awal yang wajib dilakukan setiap manusia adalah mengenal Allah SWT sebagai Sang Pencipta, Pengatur, dan Pemelihara seluruh alam semesta.
Kesadaran untuk mengenal Allah bukan hanya sekadar pengetahuan teoritis, melainkan sebuah kebutuhan mendasar yang akan menuntun manusia pada keyakinan, ketenangan batin, dan arah hidup yang jelas.
Hakikat Manusia dan Kebutuhan kepada Tuhan
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah dan penuh keterbatasan. Dalam berbagai kondisi kehidupan, manusia selalu membutuhkan pertolongan pihak lain.
Gambaran sederhana dapat dilihat ketika seseorang sedang bepergian, lalu kehabisan bekal dan dilanda kelaparan.
Ia datang kepada seorang kaya, memohon bantuan dengan penuh harap. Karena kebaikan hati tuan rumah, ia pun dijamu dengan makanan dan minuman, bahkan diberi bekal untuk melanjutkan perjalanan.
Perumpamaan ini menggambarkan bahwa manusia pada hakikatnya selalu membutuhkan pertolongan.
Jika kepada sesama manusia saja kita bergantung, maka terlebih lagi kepada Allah SWT yang menjadi sumber segala pertolongan dan pemberi segala nikmat kehidupan.
Al-Qur’an menjelaskan konsep ketauhidan melalui kalimat la ilaha illallah, yang menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Segala sesuatu berasal dari-Nya dan berada dalam kekuasaan-Nya. Sebelum segala sesuatu ada, Allah telah ada sebagai Yang Maha Awal dan Maha Akhir, sumber dari seluruh keberadaan.
Karena itu, Allah bersifat qadim, tidak bermula dan tidak berakhir, serta menjadi sebab utama dari segala sesuatu yang ada.
Akal dan Bukti Keberadaan Tuhan
Islam menempatkan akal sebagai sarana penting dalam mengenal Allah. Setiap akibat pasti memiliki sebab.
Alam semesta yang begitu teratur tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa pencipta.
Sebagai contoh, jika terjadi kebakaran rumah, manusia akan mencari sebabnya, apakah karena korsleting listrik atau ledakan kompor.
Tidak ada orang yang menerima bahwa sesuatu terjadi tanpa sebab.
Demikian pula dengan keberadaan alam semesta. Alam adalah akibat, dan setiap akibat memerlukan sebab.
Sebab utama dari segala sebab itulah yang dalam Islam disebut musabbibul asbab atau penyebab dari segala penyebab.
Sebab ini harus lebih dahulu ada daripada yang disebabkan dan bersifat kekal. Dalam ajaran Islam, wujud yang menjadi penyebab utama tersebut dikenal sebagai Allah SWT.
Namun dalam kehidupan modern, banyak manusia terjebak dalam gaya hidup yang menjauhkan dirinya dari perenungan tentang Tuhan.
Kecenderungan mengejar kesenangan dunia, kemewahan, dan hawa nafsu sering kali membuat manusia enggan berpikir tentang hakikat keberadaan.
Sebagian pemikir tasawuf mengkritik sikap hidup yang berlebihan dan foya-foya, karena hal itu dapat menumpulkan kesadaran spiritual.
Ketika manusia terlalu tenggelam dalam kesenangan duniawi, ia kehilangan kesempatan untuk merenung dan akhirnya menjauh dari pengenalan terhadap Tuhan.
Kondisi ini bahkan melahirkan berbagai paham yang menolak keberadaan Tuhan, seperti ateisme dan nihilisme, yang berakar dari ketidakmauan manusia untuk berpikir secara mendalam tentang asal-usul kehidupan.
Inti Ilmu adalah Mengenal Allah
Dalam tradisi Islam, inti dari proses belajar agama adalah mengenalkan manusia kepada Allah atau ma’rifatullah.
Tujuan utama pendidikan keagamaan bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menumbuhkan kesadaran tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Mengenal Allah dilakukan melalui dua jalan utama. Pertama, melalui wahyu atau Al-Qur’an yang menjelaskan sifat dan kebesaran-Nya.
Kedua, melalui akal yang digunakan untuk merenungi ciptaan-Nya di alam semesta.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Ayat ini menegaskan bahwa alam semesta merupakan bukti nyata keberadaan dan kekuasaan Allah bagi mereka yang menggunakan akalnya. (top)
Editor : Ali Mustofa