RADAR KUDUS - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, perhatian publik kembali tertuju pada satu momen krusial: rukyatul hilal dan sidang isbat penentuan awal puasa.
Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan proses pemantauan hilal berjalan ilmiah, transparan, dan akuntabel.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 133 titik pemantauan hilal disiapkan di seluruh Indonesia.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa penetapan awal Ramadhan 2026 dilakukan dengan pendekatan ilmiah sekaligus syar’i, memadukan metode hisab (astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung).
Baca Juga: Ini Bacaan Niat Puasa Ramadan 1447 H Lengkap Arab-Latin-Arti
133 Titik Pantau Hilal: Kolaborasi Ilmiah dan Syar’i
Dari total titik pemantauan tersebut, Kemenag mengerahkan tim di 96 lokasi, sementara BMKG melakukan observasi di 37 titik strategis.
Kolaborasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari komitmen menghadirkan kepastian hukum bagi umat Islam dalam menyambut bulan suci.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa seluruh hasil rukyat dan data hisab akan dibahas dalam sidang isbat yang digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta Pusat.
Sidang ini mempertemukan para pakar falak, ormas Islam, MUI, serta perwakilan negara sahabat.
“Penetapan awal Ramadhan dilakukan secara ilmiah, terbuka, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” demikian penegasan resmi Kemenag.
Baca Juga: Jadwal Puasa Ramadan 2026 di Arab Saudi: Kapan Resmi Dimulai? Ini Penjelasan Lengkapnya
Data Hisab: Hilal Masih di Bawah Ufuk
Berdasarkan perhitungan astronomi, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadhan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 sekitar pukul 19.01 WIB. Namun, ketika matahari terbenam di wilayah Indonesia, posisi hilal tercatat masih berada di bawah ufuk.
Ketinggian hilal berkisar antara:
-
-2° 24’ 42” hingga -0° 58’ 47”
-
Sudut elongasi antara 0° 56’ hingga 1° 53’
Data ini menunjukkan bahwa secara teori, hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyat (kemungkinan terlihat). Kriteria yang digunakan merujuk pada standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat untuk dapat dinyatakan terlihat secara astronomis.
Artinya, peluang terlihatnya hilal pada 29 Sya’ban 1447 H sangat kecil.
Baca Juga: Masih Haid Saat Masuk Ramadan, Haruskah Mandi Wajib? Ini Jawaban Ulama
Analisis Lembaga Falakiyah NU: Metode Tahqiqi Tadqiki
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) juga merilis data yang sejalan dengan temuan Kemenag dan BMKG.
Dengan metode hisab tahqiqi tadqiki ashri (metode falak khas NU), posisi hilal di seluruh Indonesia masih negatif.
Titik tertinggi tercatat di Sabang, Aceh dengan tinggi hilal sekitar -1° 41’. Sementara titik terendah berada di Jayapura, Papua, dengan ketinggian -3° 12’.
Di Jakarta, tepatnya di markaz Gedung PBNU Kramat Raya, tinggi hilal berada di angka sekitar -1° 44’.
Data ini memperkuat dugaan bahwa awal Ramadhan 1447 H kemungkinan besar tidak jatuh pada 18 Februari 2026, melainkan berpotensi dimulai sehari setelahnya, menunggu keputusan resmi sidang isbat.
Mengapa Rukyat Tetap Dilakukan Jika Data Negatif?
Pertanyaan ini kerap muncul di tengah masyarakat. Jika secara hisab hilal tidak mungkin terlihat, mengapa rukyatul hilal tetap dilakukan?
Jawabannya terletak pada prinsip syariat. Dalam tradisi fikih, rukyat tetap menjadi bagian penting dari mekanisme penentuan awal bulan hijriah. Hisab bersifat prediktif, sedangkan rukyat menjadi verifikasi lapangan. Kombinasi keduanya memastikan keputusan tidak hanya berbasis angka, tetapi juga sesuai tuntunan syariat.
BMKG sendiri memastikan bahwa observasi dilakukan dengan dukungan teleskop optik, kamera CCD, serta tim astronom profesional di tiap titik pengamatan.
Baca Juga: Niat Mandi Wajib Sebelum Puasa Ramadan dan Tata Cara yang Benar Menurut Syariat
Transparansi Digital: Masyarakat Bisa Menyaksikan Langsung
Di era digital, proses rukyatul hilal tidak lagi eksklusif. Publik dapat mengikuti siaran langsung pemantauan dan hasil sidang isbat melalui kanal resmi YouTube Kemenag, NU Online, serta laman resmi BMKG.
Langkah ini menjadi bagian dari transparansi pemerintah agar masyarakat memahami proses penetapan awal Ramadhan secara utuh, bukan sekadar menunggu pengumuman.
Implikasi Jika Hilal Tak Terlihat
Apabila hilal benar-benar tidak terlihat dan tidak memenuhi kriteria imkanur rukyat, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Konsekuensinya, awal Ramadhan 1447 H akan dimulai pada hari berikutnya.
Secara historis, keputusan seperti ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, data astronomi sering kali selaras dengan hasil sidang isbat, sehingga jarang terjadi perbedaan signifikan antarormas besar di Indonesia.
Namun, tetap ada kemungkinan perbedaan metode di sejumlah negara lain. Beberapa wilayah yang menggunakan kriteria berbeda bisa saja memulai puasa lebih awal atau lebih lambat.
Dimensi Spiritual di Balik Angka Astronomi
Di balik angka-angka derajat dan elongasi, ada dimensi spiritual yang lebih luas. Rukyatul hilal bukan sekadar ritual teknis, tetapi simbol kesiapan umat menyambut bulan penuh ampunan.
Ramadhan bukan hanya soal kapan dimulai, melainkan bagaimana mempersiapkan diri: melunasi utang puasa, memperbaiki niat, serta memperkuat ibadah.
Momentum ini mengajarkan bahwa sains dan syariat berjalan beriringan. Astronomi memberikan presisi, sementara agama memberikan makna.
Menanti Ketetapan Resmi
Berdasarkan data hisab terkini dari Kemenag, BMKG, dan LF PBNU, posisi hilal 29 Sya’ban 1447 H masih berada di bawah ufuk dan belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS. Artinya, peluang awal Ramadhan jatuh pada 18 Februari 2026 relatif kecil.
Namun, keputusan final tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Yang pasti, proses penentuan awal Ramadhan tahun ini menunjukkan sinergi kuat antara lembaga keagamaan dan sains modern. Dengan 133 titik pemantauan, publik mendapatkan kepastian berbasis data dan dalil.
Kini, umat tinggal menunggu pengumuman resmi. Satu hal yang tak berubah: Ramadhan selalu datang membawa harapan baru—apa pun tanggalnya.
Editor : Mahendra Aditya