RADAR KUDUS – Setiap manusia pada hakikatnya dilahirkan dengan potensi suci untuk mengenal dan mengabdi kepada Allah SWT.
Kesadaran tentang keberadaan Tuhan telah tertanam dalam jiwa manusia sejak awal kehidupannya, menjadi fitrah yang membimbing hati menuju pengenalan terhadap Sang Pencipta.
Fitrah ketuhanan ini ibarat cahaya batin yang mengarahkan manusia pada kebenaran serta menguatkan kesadaran akan tujuan hidup yang sejati.
Namun, perjalanan kehidupan kerap membuat manusia menjauh dari kesadaran tersebut.
Berbagai godaan duniawi seperti harta, kedudukan, kesenangan, dan dorongan hawa nafsu sering kali mengambil tempat sebagai pusat perhatian dan kecintaan.
Bahkan tidak sedikit manusia yang menjadikan dirinya sendiri sebagai ukuran kebenaran, sehingga perlahan melupakan hakikat penghambaan kepada Allah SWT.
Godaan untuk menyimpang dari fitrah itu semakin kuat karena bisikan setan dan dorongan nafsu yang terus memengaruhi hati manusia.
Keduanya berusaha menanamkan keraguan, mempertanyakan keberadaan Tuhan, dan melemahkan keyakinan yang telah tertanam sejak lahir.
Oleh sebab itu, Allah SWT mengingatkan bahwa setan merupakan musuh nyata bagi manusia yang senantiasa mengajak kepada jalan kesesatan.
Kesaksian Manusia Sebelum Dilahirkan
Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa sebelum manusia dilahirkan ke dunia, Allah SWT telah menanamkan kesaksian tentang keesaan-Nya dalam jiwa setiap insan.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-A’raf ayat 172, yang menggambarkan bahwa manusia telah bersaksi atas ketuhanan Allah sejak di alam ruh.
Allah SWT berfirman: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”
Kesaksian tersebut menjadi dasar fitrah yang mengarahkan manusia untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Meski demikian, tidak semua manusia mampu menjaga fitrah tersebut sepanjang hidupnya. Sebagian tergelincir dengan menempatkan sesuatu selain Allah sebagai pusat pengabdian.
Harta, jabatan, kesenangan dunia, bahkan ilmu pengetahuan dan logika semata dapat berubah menjadi “tuhan” bagi manusia jika dijadikan sebagai tujuan utama kehidupan.
Dalam perkembangan zaman modern, fenomena ini semakin beragam, mulai dari pengagungan terhadap rasio semata hingga kultus terhadap tokoh atau kekuatan tertentu yang menyesatkan.
Penyimpangan dari Tujuan Penciptaan
Al-Qur’an menegaskan bahwa pada dasarnya manusia pasti memiliki sesuatu yang disembah atau dijadikan sandaran hidup.
Ketika seseorang menolak Allah, ia tetap menempatkan hal lain sebagai pusat pengabdian. Bentuknya mungkin berbeda, tetapi hakikatnya tetap sama, yakni mengabdi kepada selain Allah SWT.
Karena itu, godaan untuk meninggalkan fitrah akan selalu ada sepanjang kehidupan manusia.
Setan dan hawa nafsu terus mendorong manusia untuk meragukan, memperdebatkan, dan mempertanyakan hakikat ketuhanan hingga akhirnya melupakan tujuan penciptaannya.
Allah SWT pun memperingatkan bahwa setan adalah musuh yang nyata, yang hanya mengajak pengikutnya menuju kesengsaraan dan azab.
Kesadaran akan fitrah ketuhanan tersebut harus senantiasa dijaga melalui proses mengenal, memahami, dan mengabdi kepada Allah SWT.
Dengan memelihara fitrah yang suci, manusia dapat kembali kepada jalan yang benar, menjalani kehidupan sesuai tujuan penciptaannya, serta memperoleh keberkahan dan ketenangan batin.
Fitrah yang terpelihara akan menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah manusia menuju kehidupan yang penuh makna, kedamaian, dan kebahagiaan sejati.
Bukti Keberadaan Tuhan dalam Alam Semesta
Alam semesta yang kita tinggali adalah salah satu bukti paling nyata akan keberadaan Allah SWT.
Setiap benda, makhluk, dan fenomena di jagat raya tidak muncul begitu saja tanpa sebab.
Segala keteraturan, keseimbangan, dan keindahan alam menjadi tanda-tanda kehadiran Pencipta Yang Maha Kuasa.
Dari langit yang membentang hingga bumi yang menopang kehidupan, semuanya menunjuk pada satu kenyataan: ada Sang Pencipta yang mengatur segalanya dengan hikmah.
Sejak zaman dahulu, para nabi menegaskan pentingnya merenungkan alam sebagai jalan untuk mengenal Tuhan.
Nabi Ibrahim AS, misalnya, pernah menatap bintang, bulan, dan matahari untuk memahami hakikat kekuasaan Allah.
Sementara Nabi Musa AS bertanya tentang kedekatan Allah dengan hamba-Nya, menunjukkan bahwa pengenalan terhadap Tuhan bisa dilakukan melalui perenungan dan kesadaran batin.
Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 186 bahwa Dia senantiasa dekat dengan hamba-Nya dan mendengar setiap doa yang dipanjatkan dengan ikhlas.
Untuk memahami keberadaan Tuhan, manusia perlu memiliki pola pikir yang tepat. Cara berpikir menentukan sikap, pandangan hidup, dan tindakan sehari-hari.
Jika cara berpikir benar, kehidupan akan tertata dengan baik. Sebaliknya, pola pikir yang salah akan membuat hidup tak menentu, seolah berjalan tanpa arah.
Sama seperti saat kita melihat sebuah rumah yang terbakar, kita akan menelusuri penyebabnya, mungkin korsleting atau kompor meledak.
Tidak mungkin rumah itu terbakar begitu saja tanpa sebab. Demikian juga alam semesta, keteraturan dan sistem yang ada menunjukkan adanya pencipta yang mengaturnya.
Analogi sederhana lainnya bisa ditemukan dalam dunia kerja. Bayangkan seseorang bekerja di kantor cabang perusahaan besar, sementara kantor pusatnya berada di luar negeri.
Siapapun tentu mengetahui bahwa ada pemilik perusahaan yang mengatur kebijakan, menentukan gaji, dan menetapkan aturan meski ia tidak bertatap muka langsung.
Kehidupan manusia di dunia serupa. Kita menjalani hari-hari, bekerja, bernapas, dan bergerak, meski tidak melihat Allah dengan mata kasat.
Keberadaan-Nya nyata dan dapat dirasakan melalui ciptaan-Nya yang tiada terhitung manfaatnya bagi manusia.
Allah SWT telah menetapkan aturan alam, seperti jumlah bulan dalam setahun. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.”
Dengan mengamati ciptaan-Nya, manusia bisa menyimpulkan bahwa setiap benda pasti memiliki pencipta.
Tidak ada yang hadir begitu saja. Kisah orang Badui yang mengamati telapak kaki dan kotoran unta menegaskan hal ini: keberadaan sesuatu selalu menunjukkan adanya pembuat.
Para nabi juga menegaskan bahwa makhluk yang ada adalah bukti langsung dari keagungan Allah.
Hukum kausalitas atau sebab-akibat memperkuat argumen ini. Segala akibat memiliki sebab, dan Allah adalah Sebab dari segala sebab, musabbibul asbab.
Dalam Islam, Dia dikenal dengan nama Allah, yang Maha Esa, tidak terbatas oleh ruang atau waktu, dan tiada yang setara dengan-Nya.
Ulama pun menekankan kehati-hatian dalam perkara akidah, menjawab pertanyaan manusia tentang Tuhan secara jelas dan tegas.
Sejarah menunjukkan bahwa bahkan para nabi pernah bertanya tentang Tuhan. Nabi Ibrahim AS mengamati langit untuk memahami keberadaan Allah.
Nabi Musa AS menanyakan kedekatan Allah dengan hamba-Nya. Nabi Muhammad SAW, saat menerima wahyu pertama, pun bertanya kepada Waraqah bin Naufal untuk memastikan kebenaran wahyu.
Allah SWT menegaskan: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu (ahli kitab). Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS Yunus: 94)
Melalui ayat-ayat Al-Qur’an, Allah SWT memperkenalkan diri-Nya secara jelas: “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha: 14)
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlas: 1-4)
Dengan demikian, setiap manusia, dari yang awam hingga nabi, diajak merenungkan ciptaan-Nya sebagai bukti keberadaan Allah SWT.
Alam semesta, hukum sebab-akibat, dan pengalaman sehari-hari semua menjadi tanda yang menguatkan keimanan, menegaskan bahwa hidup ini terarah, terpantau, dan penuh hikmah oleh Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. (top)
Editor : Ali Mustofa