RADAR KUDUS – Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, manusia kerap menilai kebenaran dari apa yang tampak di permukaan.
Penampilan, kata-kata, dan pencitraan sering dijadikan tolok ukur, seolah semuanya bisa diatur dan dikendalikan sesuai kehendak.
Padahal, tidak semua hal dapat ditutupi rapat-rapat. Ada mekanisme yang bekerja diam-diam, jujur, dan konsisten, mencatat setiap pilihan hidup yang diambil manusia.
Di balik wajah yang tersenyum dan tutur kata yang tertata, terdapat satu “ruang pengadilan” yang tak pernah libur, yaitu: tubuh manusia itu sendiri.
Ia menyimpan rekam jejak paling lengkap, merekam apa yang dikonsumsi, bagaimana rezeki diperoleh, serta ke mana arah kehidupan dijalankan.
Dari sinilah kemudian tubuh berbicara, bukan dengan kata-kata, melainkan melalui kondisi kesehatan, ketenangan batin, atau sebaliknya, rasa sakit yang datang tanpa bisa ditawar.
Pada titik inilah manusia diajak untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya soal bagaimana terlihat di hadapan sesama, melainkan bagaimana ia dipertanggungjawabkan hingga ke dalam dirinya sendiri.
Sebab sebelum kelak berdiri di hadapan Allah SWT, tubuh telah lebih dulu menjadi saksi yang tak bisa diajak berdamai dengan kepura-puraan.
Tubuh sebagai Saksi yang Tak Bisa Dikelabui
Tubuh manusia bukan sekadar kumpulan organ yang bekerja secara mekanis.
Di dalamnya terdapat sistem pengawasan yang sangat canggih, berjalan otomatis tanpa perlu perintah sadar, serta bekerja dengan kecepatan dan ketepatan yang nyaris sempurna.
Setiap asupan, setiap kebiasaan, dan setiap pilihan hidup terekam rapi dalam sistem saraf dan mekanisme biologis yang saling terhubung.
Tubuh memiliki kemampuan alami untuk mengenali sumber rezeki yang masuk, bagaimana ia diperoleh, dan untuk apa ia dimanfaatkan.
Ia dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang wajar dan mana yang berlebihan.
Dari proses inilah tubuh kemudian “menjatuhkan keputusan”, entah berupa rasa bugar dan tenang, atau sebaliknya, kelelahan, sakit, dan penderitaan yang muncul perlahan namun pasti.
Hal ini sejalan dengan peringatan Allah SWT, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195).
Cara kerja ini sejatinya menyerupai proses audit dalam dunia keuangan, di mana aliran dana ditelusuri dari sumber hingga penggunaannya.
Di hadapan manusia lain, seseorang mungkin mampu menyembunyikan fakta, berkolusi, atau memanipulasi aturan yang tertulis.
Namun tubuh tidak mengenal kompromi. Sistem saraf tidak bisa diajak berdamai dengan kebohongan.
Allah SWT menegaskan bahwa kelak seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi atas perbuatan manusia.
Artinya: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. Yasin: 65).
Bahkan dalam ayat lain disebutkan, “Pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Isra: 36).
Tubuh, dengan demikian, adalah saksi paling jujur atas setiap pilihan hidup yang diambil manusia.
Antara Akal dan Perasaan
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir dan merenung secara jernih.
Seruan afalaa ta’qiluun, tidakkah kamu menggunakan akal, menjadi penegasan bahwa dalam Islam, nalar memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan arah hidup.
Akal bukan sekadar pelengkap, melainkan alat utama untuk menimbang kebenaran, memahami tanda-tanda kebesaran Allah, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum: 21).
Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran dan hikmah hanya dapat ditangkap oleh mereka yang mau menggunakan akalnya secara sehat.
Namun dalam praktik keseharian, tidak sedikit manusia yang justru lebih mengandalkan perasaan.
Keputusan sering lahir dari dorongan emosi, kebiasaan, atau tekanan lingkungan.
Ungkapan “menurut perasaan saya” terdengar lebih dominan daripada “menurut pertimbangan saya”.
Akibatnya, banyak pilihan hidup diambil tanpa kajian matang, dan berujung pada penyesalan yang seharusnya bisa dihindari.
Nabi Ibrahim AS memberikan teladan yang sangat jelas dalam hal ini. Ia tidak serta-merta mengikuti keyakinan orang tua dan tradisi nenek moyangnya.
Dengan akalnya, ia mengamati, mempertanyakan, dan mencari kebenaran tentang Tuhan, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an saat ia merenungi bintang, bulan, dan matahari (QS. Al-An’am: 76–79).
Seandainya ia hanya mengikuti perasaan atau arus kebiasaan di sekitarnya, tentu ia akan larut dalam praktik pembuatan dan penyembahan berhala yang saat itu dianggap wajar.
Dari kisah inilah manusia diajak untuk menempatkan akal sebagai penuntun, sementara perasaan menjadi pengiring, agar kehidupan berjalan lebih lurus dan bermakna. (top)
Editor : Ali Mustofa