RADAR KUDUS - Kedatangan bulan Sya’ban 1447 Hijriah bukan sekadar penanda bahwa Ramadhan kian dekat.
Bagi masyarakat Jawa, bulan ini memiliki ruh tersendiri yang dikenal dengan sebutan Ruwah. Tak sekadar pergantian kalender, Ruwah menjadi momentum sakral untuk menyambung doa antara mereka yang hidup dengan para leluhur yang telah berpulang.
Lantas, mengapa Sya’ban bertransformasi menjadi "Bulan Ruwah"?
Etimologi dan Jejak Sanad Mbah Moen
Rahasianya terungkap melalui penjelasan ulama kharismatik asal Rembang, almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen).
Melalui murid kesayangannya, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, dijelaskan bahwa kata "Ruwah" bukanlah istilah sembarang.
"Saya ingat betul saat Mbah Moen mengajar, beliau menerangkan bahwa Ruwah berasal dari kosakata Arab, yakni Arwah.
Lidah masyarakat Jawa kemudian menyerapnya menjadi Ruwah," ujar Gus Baha dalam sebuah kajian yang dikutip dari kanal YouTube Kalam-Kajian Islam.
Secara harfiah, Ruwah memang menjadi "Bulan Arwah", waktu di mana konsentrasi ibadah dan sosial masyarakat difokuskan untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului.
Jejak Tradisi Yaman dan Haul Nabi Hud
Ada fakta sejarah menarik di balik tradisi ini. Gus Baha mengungkapkan bahwa tradisi mengirim doa secara massal di bulan Sya’ban memiliki kaitan erat dengan tradisi di Yaman.
Di sana, bulan Sya’ban dirayakan dengan peringatan haul (peringatan wafat) Nabi Hud AS.
"Tradisi di Indonesia banyak yang mengikuti Yaman. Di sana ada haul Nabi Hud pada bulan Sya’ban. Maka, kiai-kiai di Jawa mengakomodasi hal tersebut dengan mengirim doa serentak di bulan yang sama," jelas pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA Narukan tersebut.
Adaptasi budaya ini membuktikan betapa harmonisnya hubungan antara tradisi Islam global dengan kearifan lokal di nusantara.
Dari Nyekar hingga Munggahan: Ragam Ekspresi Bakti
Meski esensinya sama—yakni mendoakan leluhur dan bersedekah—namun sebutannya beragam di setiap penjuru tanah air:
-
Nyekar: Istilah yang akrab di telinga masyarakat Jawa Tengah saat berziarah.
-
Kosar: Sebutan tradisi serupa di wilayah Jawa Timur.
-
Munggahan: Tradisi menyambut Ramadhan di tatar Sunda.
-
Arwahan: Istilah umum untuk pembacaan tahlil dan doa bersama.
Bagi masyarakat Jawa, ritual ini telah menjadi semacam "keharusan" batin. Memasuki Ramadhan tanpa melewati tradisi Ruwahan terasa ada yang kurang.
Ziarah kubur, tahlil, hingga sedekah makanan menjadi simbol pembersihan diri dan pelunasan bakti sebelum memasuki bulan yang paling suci.
Geliat Ekonomi di Bulan Sya'ban
Sisi lain yang menarik, Ruwah bukan hanya soal spiritualitas. Bulan ini juga menjadi penggerak roda ekonomi.
Geliat perdagangan, mulai dari bunga ziarah hingga kebutuhan pokok untuk sedekah, meningkat tajam.
Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan di Indonesia selalu mampu menciptakan energi positif di berbagai lini kehidupan. (*)
Editor : Mahendra Aditya