Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sholat Nisfu Syaban 100 Rakaat: Tradisi Ulama, Dalil, dan Amalannya

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 2 Februari 2026 | 16:39 WIB
Ilustrasi Orang Sholat
Ilustrasi Orang Sholat

RADAR KUDUS - Malam Nisfu Syaban selalu hadir sebagai penanda penting dalam kalender spiritual umat Islam. Ia bukan sekadar pertengahan bulan, tetapi momentum refleksi, harapan ampunan, dan perbaikan diri menjelang Ramadhan.

Di antara berbagai amalan yang berkembang di tengah umat, shalat Nisfu Syaban 100 rakaat kerap menjadi topik yang memancing perhatian—sekaligus perdebatan.

Sebagian muslim melaksanakannya sebagai bentuk ikhtiar memperbanyak ibadah di malam istimewa, sementara yang lain memilih bersikap hati-hati karena perbedaan pandangan ulama terkait dalilnya.

Di titik inilah pemahaman yang utuh menjadi penting: bukan hanya bagaimana caranya, tetapi bagaimana menyikapinya secara proporsional.

Nisfu Syaban: Malam yang Dimuliakan, Bukan Disakralkan Berlebihan

Banyak ulama sepakat bahwa malam ke-15 bulan Syaban memiliki keutamaan. Imam al-Ghazali, misalnya, menyebut Nisfu Syaban sebagai salah satu malam yang patut diisi dengan amal saleh.

Dalam kerangka tasawuf, malam-malam utama dipandang sebagai “ladang dagang” bagi orang beriman—waktu di mana pahala dilipatgandakan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Namun penting dicatat, keutamaan malam tidak otomatis menjadikan seluruh bentuk ibadah di dalamnya bersifat baku atau wajib. Di sinilah letak perbedaan antara anjuran memperbanyak amal dan penetapan ritual tertentu dengan jumlah spesifik.

Di Mana Posisi Sholat 100 Rakaat?

Praktik sholat Nisfu Syaban 100 rakaat banyak dinisbatkan pada riwayat-riwayat yang beredar di kalangan ulama klasik.

Disebutkan bahwa sholat ini dilakukan dengan pola dua rakaat satu salam, disertai bacaan Surah Al-Ikhlas berulang.

Sebagian ulama tasawuf menerima praktik ini sebagai amalan fadhail (keutamaan)—bukan ibadah wajib atau sunnah muakkad. Artinya, ia ditempatkan sebagai bentuk latihan spiritual, bukan standar baku yang harus diikuti semua orang.

Di sisi lain, banyak ulama hadis menilai riwayat tentang sholat 100 rakaat tidak mencapai derajat sahih.

Karena itu, mereka tidak menganjurkannya secara khusus, namun juga tidak serta-merta melarang selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau ajaran pasti dari Nabi Muhammad SAW.

Waktu Pelaksanaan Nisfu Syaban 2026

Berdasarkan kalender Hijriah Indonesia yang dirilis Kementerian Agama, Nisfu Syaban 1447 H jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Dengan demikian, malam Nisfu Syaban dimulai sejak Senin malam, 2 Februari 2026, selepas matahari terbenam.

Sholat sunnah dan amalan lainnya dapat dilakukan:

Tidak ada batasan waktu khusus selain berada di rentang malam tersebut.

Tata Cara Sholat Nisfu Syaban 100 Rakaat

Bagi mereka yang memilih mengamalkan sholat ini sebagai bentuk ibadah sunnah, tata caranya dijelaskan sebagai berikut:

Dengan skema ini, total bacaan Surah Al-Ikhlas mencapai 1.000 kali dalam satu rangkaian ibadah. Karena jumlahnya besar, sholat ini lazim dikerjakan secara bertahap dan membutuhkan kesiapan fisik serta niat yang kuat.

Bacaan Niat Sholat Nisfu Syaban

Niat sholat dibaca di dalam hati saat takbiratul ihram. Lafaz yang biasa digunakan adalah:

Arab:
أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin:
Ushalli sunnata nisfi sya‘bāna rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya:
“Saya berniat sholat sunnah Nisfu Syaban dua rakaat karena Allah Ta‘ala.”

Niat ini diulang setiap memulai dua rakaat.

Sikap Bijak: Fokus pada Esensi, Bukan Sekadar Jumlah

Angle yang sering terlewat dalam pemberitaan adalah esensi dari ibadah Nisfu Syaban itu sendiri. Para ulama mengingatkan, nilai utama malam ini bukan terletak pada banyaknya rakaat, melainkan pada:

Bagi yang tidak mampu atau ragu melaksanakan sholat 100 rakaat, masih terbuka banyak pintu ibadah lain: sholat sunnah mutlak, membaca Al-Qur’an, dzikir, atau memperbanyak doa pengampunan.

Islam tidak membangun ibadah di atas beban, tetapi di atas kesadaran dan kemampuan.

Antara Tradisi dan Dalil: Tidak Perlu Saling Menyalahkan

Perbedaan pandangan terkait sholat Nisfu Syaban seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.

Ulama sepakat bahwa menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan amal kebaikan adalah hal terpuji, selama tidak disertai keyakinan yang keliru atau sikap merasa paling benar.

Di sinilah pentingnya literasi keagamaan: memahami mana yang bersifat tradisi ulama, mana yang bersumber dari dalil kuat, dan mana yang termasuk wilayah ijtihad.

Nisfu Syaban sebagai Titik Balik Spiritual

Malam Nisfu Syaban sejatinya adalah titik balik batin—kesempatan membersihkan niat sebelum memasuki Ramadhan.

Sholat 100 rakaat boleh menjadi pilihan bagi sebagian orang, tetapi bukan satu-satunya jalan meraih rahmat Allah.

Yang terpenting bukan seberapa panjang ibadah dilakukan, melainkan seberapa dalam ia mengubah sikap, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Editor : Mahendra Aditya
#tata cara sholat Nisfu Syaban #Tata cara shalat Malam Nisfu Syaban #Dosa yang Diampuni di malam Nisfu Syaban #Sunnah malam nisfu syaban 2026 #Keutamaan Puasa Nisfu Syaban #sholat Nisfu Syaban 100 rakaat #Amalan Nisfu Syaban #Bacaan doa setelah baca Yasin Nisfu Syaban #Puasa Nisfu Syaban #Doa buka puasa Nisfu syaban #Sholat Nisfu Syaban #Doa lengkap setelah membaca Yasin Nisfu Syaban #Membaca Yasin 3 Kali Nisfu Syaban #niat sholat Nisfu Syaban #Doa setelah baca Yasin Nisfu Syaban #doa nisfu syaban #Hukum puasa Nisfu Syaban #Ucapan nisfu syaban 2026 #salat khusus di malam Nisfu Syaban #malam nisfu syaban #nisfu syaban #Nisfu Syaban 1447 Hijriah #Shalat Malam Nisfu Syaban #Tata cara membaca Yasin malam Nisfu Syaban #Nisfu Syaban 2026 #Doa berbuka puasa sunah Nisfu Syaban