RADAR KUDUS - Malam Nisfu Syaban selalu hadir sebagai penanda penting dalam kalender spiritual umat Islam. Ia bukan sekadar pertengahan bulan, tetapi momentum refleksi, harapan ampunan, dan perbaikan diri menjelang Ramadhan.
Di antara berbagai amalan yang berkembang di tengah umat, shalat Nisfu Syaban 100 rakaat kerap menjadi topik yang memancing perhatian—sekaligus perdebatan.
Sebagian muslim melaksanakannya sebagai bentuk ikhtiar memperbanyak ibadah di malam istimewa, sementara yang lain memilih bersikap hati-hati karena perbedaan pandangan ulama terkait dalilnya.
Di titik inilah pemahaman yang utuh menjadi penting: bukan hanya bagaimana caranya, tetapi bagaimana menyikapinya secara proporsional.
Nisfu Syaban: Malam yang Dimuliakan, Bukan Disakralkan Berlebihan
Banyak ulama sepakat bahwa malam ke-15 bulan Syaban memiliki keutamaan. Imam al-Ghazali, misalnya, menyebut Nisfu Syaban sebagai salah satu malam yang patut diisi dengan amal saleh.
Dalam kerangka tasawuf, malam-malam utama dipandang sebagai “ladang dagang” bagi orang beriman—waktu di mana pahala dilipatgandakan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.
Namun penting dicatat, keutamaan malam tidak otomatis menjadikan seluruh bentuk ibadah di dalamnya bersifat baku atau wajib. Di sinilah letak perbedaan antara anjuran memperbanyak amal dan penetapan ritual tertentu dengan jumlah spesifik.
Di Mana Posisi Sholat 100 Rakaat?
Praktik sholat Nisfu Syaban 100 rakaat banyak dinisbatkan pada riwayat-riwayat yang beredar di kalangan ulama klasik.
Disebutkan bahwa sholat ini dilakukan dengan pola dua rakaat satu salam, disertai bacaan Surah Al-Ikhlas berulang.
Sebagian ulama tasawuf menerima praktik ini sebagai amalan fadhail (keutamaan)—bukan ibadah wajib atau sunnah muakkad. Artinya, ia ditempatkan sebagai bentuk latihan spiritual, bukan standar baku yang harus diikuti semua orang.
Di sisi lain, banyak ulama hadis menilai riwayat tentang sholat 100 rakaat tidak mencapai derajat sahih.
Karena itu, mereka tidak menganjurkannya secara khusus, namun juga tidak serta-merta melarang selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau ajaran pasti dari Nabi Muhammad SAW.
Waktu Pelaksanaan Nisfu Syaban 2026
Berdasarkan kalender Hijriah Indonesia yang dirilis Kementerian Agama, Nisfu Syaban 1447 H jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Dengan demikian, malam Nisfu Syaban dimulai sejak Senin malam, 2 Februari 2026, selepas matahari terbenam.
Sholat sunnah dan amalan lainnya dapat dilakukan:
-
Setelah sholat Magrib
-
Hingga menjelang waktu Subuh
Tidak ada batasan waktu khusus selain berada di rentang malam tersebut.
Tata Cara Sholat Nisfu Syaban 100 Rakaat
Bagi mereka yang memilih mengamalkan sholat ini sebagai bentuk ibadah sunnah, tata caranya dijelaskan sebagai berikut:
-
Dikerjakan sebanyak 100 rakaat
-
Setiap dua rakaat diakhiri satu salam
-
Pada setiap rakaat membaca:
-
Surah Al-Fatihah
-
Surah Al-Ikhlas sebanyak 10 kali
-
Dengan skema ini, total bacaan Surah Al-Ikhlas mencapai 1.000 kali dalam satu rangkaian ibadah. Karena jumlahnya besar, sholat ini lazim dikerjakan secara bertahap dan membutuhkan kesiapan fisik serta niat yang kuat.
Bacaan Niat Sholat Nisfu Syaban
Niat sholat dibaca di dalam hati saat takbiratul ihram. Lafaz yang biasa digunakan adalah:
Arab:
أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Ushalli sunnata nisfi sya‘bāna rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Saya berniat sholat sunnah Nisfu Syaban dua rakaat karena Allah Ta‘ala.”
Niat ini diulang setiap memulai dua rakaat.
Sikap Bijak: Fokus pada Esensi, Bukan Sekadar Jumlah
Angle yang sering terlewat dalam pemberitaan adalah esensi dari ibadah Nisfu Syaban itu sendiri. Para ulama mengingatkan, nilai utama malam ini bukan terletak pada banyaknya rakaat, melainkan pada:
-
Keikhlasan
-
Taubat
-
Muhasabah diri
-
Memperbanyak doa dan istighfar
Bagi yang tidak mampu atau ragu melaksanakan sholat 100 rakaat, masih terbuka banyak pintu ibadah lain: sholat sunnah mutlak, membaca Al-Qur’an, dzikir, atau memperbanyak doa pengampunan.
Islam tidak membangun ibadah di atas beban, tetapi di atas kesadaran dan kemampuan.
Antara Tradisi dan Dalil: Tidak Perlu Saling Menyalahkan
Perbedaan pandangan terkait sholat Nisfu Syaban seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.
Ulama sepakat bahwa menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan amal kebaikan adalah hal terpuji, selama tidak disertai keyakinan yang keliru atau sikap merasa paling benar.
Di sinilah pentingnya literasi keagamaan: memahami mana yang bersifat tradisi ulama, mana yang bersumber dari dalil kuat, dan mana yang termasuk wilayah ijtihad.
Nisfu Syaban sebagai Titik Balik Spiritual
Malam Nisfu Syaban sejatinya adalah titik balik batin—kesempatan membersihkan niat sebelum memasuki Ramadhan.
Sholat 100 rakaat boleh menjadi pilihan bagi sebagian orang, tetapi bukan satu-satunya jalan meraih rahmat Allah.
Yang terpenting bukan seberapa panjang ibadah dilakukan, melainkan seberapa dalam ia mengubah sikap, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Editor : Mahendra Aditya