RADAR KUDUS - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, sebagian umat Islam lebih dahulu disuguhi satu momentum spiritual yang tak kalah penting, yakni peringatan Nisfu Sya'ban.
Malam pertengahan bulan Syab'an ini kerap dijadikan ajang persiapan batin, memperkuat ibadah, sekaligus menata hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang dirilis Kementerian Agama (Kemenag), awal bulan Sya'ban 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026.
Dengan demikian, malam pertengahan bulan atau malam 15 Syaban bertepatan dengan Selasa, 3 Januari 2026.
Makna dan Pengertian Nisfu Sya'ban
Secara bahasa, istilah Nisfu Sya'ban berasal dari dua kata, yakni nisfu yang berarti pertengahan, dan Sya'ban yang merupakan nama bulan kedelapan dalam kalender Hijriah.
Dari pengertian tersebut, Nisfu Sya'ban dimaknai sebagai malam ke-15 di bulan Syaban.
Bagi sebagian umat Islam, malam Nisfu Sya'ban dipandang sebagai malam istimewa.
Bukan sekadar tradisi, tetapi diyakini sebagai waktu yang sarat rahmat, pengampunan, serta kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini menegaskan perintah Allah kepada orang-orang beriman untuk memperbanyak amal saleh, terutama ibadah seperti salat.
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai bentuk kebaikan, karena dari sanalah keberuntungan akhirat akan diraih.
Allah SWT dengan rahmat-Nya juga menghadirkan waktu-waktu khusus yang penuh keberkahan, agar hamba-Nya memiliki kesempatan lebih besar mengumpulkan bekal menuju kehidupan akhirat. Malam Nisfu Sya'ban termasuk salah satu di antaranya.
Anjuran memperbanyak amal pada malam Nisfu Sya'ban juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali dua golongan: orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Hibban, Thabrani, dan Al-Baihaqi)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan keistimewaan khusus pada malam Nisfu Sya'ban berupa terbukanya pintu ampunan.
Sebagian kaum Muslimin diampuni dosa-dosanya, bahkan ada yang diampuni seluruh kesalahannya.
Adapun orang yang tetap dalam kemusyrikan dan permusuhan, tidak termasuk dalam limpahan ampunan tersebut.
Doa dan Ibadah di Pertengahan Sya'ban
Selain ampunan, malam Nisfu Sya'ban juga diyakini sebagai waktu mustajab untuk berdoa, terlebih jika dilakukan di tengah malam hingga sepertiga malam terakhir.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya.
Di antara amalan yang dianjurkan adalah berpuasa pada siang hari Nisfu Sya'ban dan memperbanyak salat serta doa pada malam harinya.
Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman.
“Apabila tiba malam Nisfu Sya'ban, maka malaikat berseru atas perintah Allah: adakah orang yang memohon ampun, maka Aku ampuni; adakah orang yang meminta, maka Aku beri permintaannya.”
Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm menegaskan bahwa terdapat beberapa malam yang diyakini sebagai waktu terkabulnya doa.
Salah satunya adalah malam Nisfu Sya'ban.
“Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan pada lima malam: malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, awal malam bulan Rajab, dan malam Nisfu Sya'ban.”
Pandangan ini juga diperkuat oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Kubra yang menyatakan bahwa malam Nisfu Sya'ban memiliki keutamaan khusus berupa ampunan dosa dan pengabulan doa secara istimewa.
Perintah untuk berdoa sejatinya merupakan bentuk penegasan status manusia sebagai hamba Allah SWT.
Dengan berdoa, seorang Muslim menampakkan ketergantungan totalnya kepada Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman: “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Maka, malam Nisfu Sya'ban menjadi momentum berharga untuk mengetuk pintu langit, memohon ampunan, rahmat, dan keberkahan, serta mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang lebih bertakwa. (top)
Editor : Ali Mustofa