Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rahasia Gerakan Shalat: Posisi Duduk di Antara Dua Sujud, Keseimbangan Ibadah dan Kesehatan Tubuh

Ali Mustofa • Senin, 19 Januari 2026 | 09:51 WIB

Ilustrasi posisi kaki saat duduk di antara dua sujud
Ilustrasi posisi kaki saat duduk di antara dua sujud

RADAR KUDUS - Dalam tata gerak shalat, duduk di antara dua sujud menempati peran penting yang kerap luput dari perhatian.

Ia bukan sekadar jeda antara dua gerakan sujud, melainkan bagian utuh dari rangkaian ibadah yang penuh makna.

Posisi ini dikenal dengan sebutan duduk iftirasy, atau oleh sebagian kalangan disebut sebagai duduk perkasa.

Pada saat itu, kedua kaki berada dalam keadaan terlipat rapi, dengan jari-jari kaki ditekuk dan menumpu ke lantai.

Meski tampak sederhana dan dilakukan berulang setiap hari, sejatinya posisi duduk ini menyimpan hikmah besar yang berkaitan erat dengan keseimbangan tubuh manusia.

Jika dicermati lebih dalam, duduk di antara dua sujud berperan dalam menjaga keselarasan sistem elektrik tubuh sekaligus saraf keseimbangan.

Bagian paha dalam, lipatan lutut, cekungan betis, hingga ujung jari kaki merupakan jalur penting saraf-saraf vital yang menghubungkan berbagai fungsi tubuh.

Ketika posisi duduk ini dilakukan dengan benar, tenang, dan tidak tergesa-gesa, saraf-saraf tersebut mendapat rangsangan alami yang membantu mempertahankan kelenturannya.

Kelenturan saraf inilah yang diyakini memberi dampak positif bagi kesehatan. Tubuh menjadi lebih adaptif, aliran energi berjalan lebih seimbang, dan fungsi organ tetap terjaga.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dipercaya dapat membantu mencegah berbagai gangguan kesehatan, mulai dari diabetes, kesulitan buang air kecil, gangguan pada prostat, hingga hernia.

Dengan demikian, duduk di antara dua sujud bukan hanya wujud kepatuhan dalam ibadah, tetapi juga bentuk ikhtiar menjaga kesehatan yang telah disusun secara bijaksana dalam tuntunan shalat.

Ampunan yang Menyentuh Tubuh

Menarik untuk direnungkan, duduk di antara dua sujud tidak hanya diisi dengan jeda gerakan, tetapi juga disertai lantunan doa permohonan ampunan kepada Allah SWT.

Hal ini tentu bukan tanpa hikmah. Dalam posisi tersebut, tubuh berada pada keadaan yang sangat khas, di mana area sekitar mata kaki, baik bagian dalam maupun luar, mengalami tekanan alami.

Di titik-titik inilah terdapat banyak ujung saraf yang berperan penting dalam sistem kerja tubuh manusia.

Ketika duduk di antara dua sujud dilakukan dengan benar dan penuh ketenangan, tekanan lembut pada cekungan mata kaki berfungsi layaknya pijatan alami.

Rangsangan ini diyakini membantu mengurai dan membuang endapan energi negatif yang tersimpan di berbagai organ vital.

Jantung, paru-paru, hati, limpa, saluran pencernaan, hingga otak mendapatkan manfaat dari proses alami tersebut.

Tubuh seolah diberi kesempatan untuk “melepaskan beban” yang menumpuk akibat aktivitas sehari-hari.

Namun sayangnya, dalam praktik shalat sehari-hari, gerakan duduk ini kerap dilakukan dengan tergesa-gesa.

Waktu duduk yang terlalu singkat membuat titik-titik saraf tersebut tidak mendapatkan rangsangan yang optimal.

Akibatnya, manfaat besar yang seharusnya dirasakan menjadi kurang maksimal.

Padahal, justru pada momen inilah tersimpan rahasia keterkaitan antara ampunan dosa yang dipanjatkan dengan proses pemulihan tubuh secara alami.

Duduk di antara dua sujud, bila dilakukan dengan sempurna, menjadi pertemuan indah antara doa, ketenangan, dan kebugaran jasmani.

Aliran Darah dan Relaksasi Otot

Dalam kajian fikih, posisi duduk dalam shalat dikenal dengan istilah al-qa‘adah atau julus.

Sekilas, gerakan ini tampak sederhana. Namun jika dicermati lebih dalam, duduk dalam shalat justru memiliki karakter yang sangat istimewa dari sisi kerja tubuh.

Pada posisi ini, aliran pembuluh darah utama di bagian tungkai mengalami penekanan sementara.

Kondisi tersebut membuat distribusi darah dialihkan lebih besar menuju otak dan organ-organ vital di dalam tubuh.

Menariknya, meski terjadi penekanan pada jalur utama, tubuh tidak serta-merta kehilangan keseimbangan sirkulasi.

Sistem pembuluh darah kolateral di kaki justru aktif bekerja, memastikan aliran darah tetap berjalan dengan lancar.

Mekanisme ini menjadi latihan alami bagi sistem peredaran darah agar tetap adaptif dan seimbang dalam berbagai posisi tubuh.

Di sisi lain, posisi duduk dengan jari-jari kaki yang menekuk memberikan efek relaksasi mendalam pada otot betis.

Otot-otot ini termasuk bagian tubuh yang paling sering menanggung beban, baik saat menopang tubuh dalam posisi berdiri maupun ketika digunakan untuk berjalan dan berlari.

Saat duduk dalam shalat, otot betis mengalami peregangan maksimal yang jarang didapatkan dalam aktivitas sehari-hari.

Peregangan tersebut membantu mengurai penumpukan asam laktat yang menjadi penyebab utama rasa pegal dan kelelahan.

Aliran darah yang lebih lancar turut mempercepat proses pemulihan otot, sehingga tubuh kembali terasa ringan dan segar.

Dari sini terlihat jelas bahwa duduk dalam shalat bukan sekadar jeda antar gerakan, melainkan bagian penting dari rangkaian ibadah yang sarat manfaat bagi kesehatan jasmani.

Melatih Sendi dan Ketahanan Tubuh

Duduk dalam shalat bukan hanya melibatkan otot, tetapi juga mengaktifkan seluruh persendian di bagian bawah tubuh.

Sendi pada paha, lutut, pergelangan kaki, hingga jari-jari kaki bergerak dan bekerja secara bersamaan.

Aktivitas ini menjaga sendi tetap lentur, mencegah kekakuan, serta membantu mengurangi risiko pengapuran yang kerap muncul akibat minimnya gerak atau posisi tubuh yang monoton dalam keseharian.

Manfaatnya tidak berhenti di situ. Persendian yang terlatih secara rutin akan membuat struktur tubuh lebih stabil dan kuat.

Dalam jangka panjang, kondisi ini menjadikan tubuh lebih tahan terhadap benturan, tekanan, maupun gangguan mekanik lainnya.

Dengan kata lain, duduk dalam shalat ikut membangun ketahanan fisik secara alami, tanpa harus melalui latihan berat yang berisiko.

Pada posisi duduk tawaruk, menegakkan telapak kaki sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Tidak sedikit yang merasakan nyeri atau ketidaknyamanan, terutama bagi mereka yang jarang melakukan peregangan atau memiliki kelenturan tubuh yang terbatas.

Meski demikian, usaha untuk melaksanakan posisi ini dengan benar tetap dianjurkan.

Sebab, dari posisi inilah muncul efek muscle pumping yang sangat bermanfaat.

Tekanan dan pelepasan otot secara bergantian membantu mendorong aliran darah agar bergerak lebih lancar.

Sirkulasi yang membaik tidak hanya menyegarkan kaki, tetapi juga mendukung kerja jantung dan sistem peredaran darah secara keseluruhan.

Lagi-lagi, shalat menunjukkan dirinya sebagai ibadah yang bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi juga menguatkan raga.

Cermin Kelenturan dan Kesadaran Diri

Ketenangan dan kesempurnaan gerakan dalam shalat bukanlah anjuran sampingan, melainkan bagian inti dari ibadah itu sendiri.

Rasulullah SAW secara tegas mencontohkan dan menekankan agar setiap perpindahan posisi dilakukan dengan penuh ketenangan, termasuk saat duduk di antara dua sujud.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:

“Kemudian duduklah hingga kamu duduk dengan tenang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberi penegasan bahwa duduk setelah sujud tidak boleh dilakukan sekadar menggugurkan rukun.

Ada tuntunan agar tubuh benar-benar berhenti sejenak, mencapai keadaan stabil dan tenang.

Inilah yang dalam istilah fikih dikenal dengan thuma’ninah, yakni diamnya anggota tubuh pada setiap gerakan shalat.

Penegasan serupa juga datang langsung dari Al-Qur’an. Allah SWT menyebut keberuntungan sejati bagi orang-orang yang mampu menjaga kekhusyukan dalam shalatnya.

Dalam firman-Nya disebutkan: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Ayat ini menempatkan kekhusyukan sebagai ciri utama orang beriman.

Dan kekhusyukan itu tidak hanya terletak pada bacaan atau niat di dalam hati, tetapi juga tercermin melalui ketenangan gerak dan kesungguhan sikap tubuh saat shalat.

Duduk di antara dua sujud, dengan posisi yang benar dan waktu yang cukup, menjadi salah satu wujud nyata dari kekhusyukan tersebut.

Dengan demikian, ayat dan hadis ini sama-sama menegaskan bahwa kesempurnaan duduk dalam shalat bukan sekadar pelengkap ritual.

Ia adalah bagian tak terpisahkan dari kualitas ibadah, yang menyatukan ketenangan jiwa, kepatuhan raga, dan kesadaran penuh seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Pada akhirnya, posisi duduk dalam shalat dapat menjadi cermin yang jujur bagi kondisi tubuh sekaligus kualitas kesadaran diri seorang hamba.

Gerakan ini memperlihatkan seberapa lentur persendian, seberapa siap otot menopang tubuh, dan seberapa tenang jiwa menjalani ibadah.

Ketika duduk terasa ringan dan stabil, itu menandakan tubuh berada dalam kondisi yang terawat.

Sebaliknya, jika gerakan ini terasa berat atau menimbulkan nyeri berlebihan, bisa jadi tubuh sedang memberi isyarat bahwa ia membutuhkan perhatian, peregangan, dan perawatan yang lebih baik.

Lebih dari sekadar soal fisik, duduk dalam shalat juga menguji kesadaran batin.

Apakah gerakan dilakukan dengan penuh penghayatan, atau sekadar rutinitas yang dikerjakan tergesa-gesa.

Saat duduk dilakukan dengan benar, tenang, dan disertai thuma’ninah, tubuh dan jiwa seolah diajak berhenti sejenak, meresapi setiap detik kebersamaan dengan Sang Pencipta.

Dari sinilah shalat menunjukkan wajah kesempurnaannya.

Ia tidak hanya mengarahkan manusia untuk tunduk secara ruhani, tetapi juga membimbing tubuh agar tetap sehat, lentur, dan seimbang.

Duduk dalam shalat menjadi bukti nyata bahwa ibadah dalam Islam dirancang menyentuh seluruh dimensi kehidupan, merawat jasmani sekaligus menyucikan ruhani, secara selaras dan berkesinambungan. (top)

Editor : Ali Mustofa
#darah #kesehatan #sujud #duduk #otot #Allah SWT #tubuh #keseimbangan #ibadah #Gerakan