Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pengalaman Hidup dengan Migrain, Dari Rasa Nyeri hingga Upaya Pencegahan Alami

Ali Mustofa • Rabu, 14 Januari 2026 | 07:53 WIB
Ilustrasi seseorang mengalami migrain berbeda dengan sakit kepala sebelah.
Ilustrasi seseorang mengalami migrain berbeda dengan sakit kepala sebelah.

RADAR KUDUS — Serangan migrain kerap datang tanpa aba-aba. Bukan sekadar pusing ringan, rasa nyeri yang muncul bisa terasa sangat menyiksa, seakan kepala ditekan kuat dari dalam dan berputar tak menentu.

Konsentrasi buyar, penglihatan menjadi kabur dan bergeser, tubuh terasa dingin disertai gemetar, hingga muncul rasa mual yang berujung muntah.

Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat untuk Pencegahan dan Pengobatan Penyakit karya Madyo Wratsongko bersama dr Sagiran, gambaran kondisi tersebut disebut sebagai keluhan yang berulang dialami oleh seorang narasumber yang bertahun-tahun hidup berdampingan dengan migrain.

Pengalaman panjang itu membuatnya memahami betul betapa penyakit ini dapat melumpuhkan aktivitas sehari-hari.

Secara medis, migrain dikenal sebagai nyeri kepala berat yang berkaitan erat dengan gangguan sistem saraf serta aliran darah ke otak.

Namun, perjalanan hidup narasumber justru menghadirkan sudut pandang berbeda.

Terlebih setelah ia menekuni profesi sebagai terapis pijat sekaligus mendalami filosofi dan manfaat gerakan salat, pemahamannya tentang migrain pun perlahan berubah.

Ia menuturkan, pada masa-masa awal, setiap kali migrain menyerang, solusi yang diambil tak jauh dari obat pereda nyeri atau segera beristirahat dengan berbaring.

Dalam beberapa kejadian, rasa sakit baru mereda setelah tubuh memuntahkan isi perut.

Meski efektif sesaat, cara tersebut diakui hanya memberi kelegaan sementara, tanpa benar-benar menyentuh akar persoalan.

Pengalaman berulang membuat narasumber semakin peka membaca reaksi tubuhnya.

Saat muncul sensasi dingin di ulu hati, ia memilih racikan sederhana berupa kencur yang dicampur bawang merah dan ditumbuk halus.

Ramuan itu kemudian dioleskan pada bagian dada dan ulu hati, lalu dibalut kain agar tercipta rasa hangat.

Cara tradisional ini dinilainya mampu membantu meredakan ketegangan yang kerap menjadi pemicu migrain.

Adapun ketika kepala terasa panas dan nyeri berdenyut hebat, ia menggunakan bawang merah tunggal yang disayat di bagian ujung, lalu ditetesi minyak kelapa.

Campuran tersebut digosokkan perlahan ke area kening serta sisi kiri dan kanan kepala, terutama di bagian atas pangkal telinga yang terasa paling sakit.

Perlakuan ini diyakini membantu mengurangi panas berlebih dan tekanan pada saraf kepala, sehingga keluhan migrain berangsur mereda.

Pengalaman tersebut menjadi catatan tersendiri bahwa migrain tak hanya bisa disikapi lewat pendekatan medis, tetapi juga melalui pemahaman tubuh, sentuhan tradisional, dan kesadaran akan keseimbangan fisik serta batin.

Penyebab Migran

Dari hasil perenungan panjang dan praktik pijat yang dijalani bertahun-tahun, narasumber mencoba menarik benang merah mengenai apa yang ia yakini sebagai penyebab utama migrain.

Menurut pengamatannya, setiap aktivitas berpikir dan melihat membuat otak bekerja aktif dengan memancarkan energi listrik melalui jaringan saraf di seluruh tubuh.

Dalam proses tersebut, otak memerlukan suplai oksigen dan asupan energi yang memadai agar kinerjanya tetap stabil.

Energi yang dihasilkan kemudian dialirkan melalui jalur saraf yang oleh narasumber diibaratkan sebagai kabel listrik.

Jalur-jalur ini membentang mengikuti struktur tulang, mengarah hingga ke pangkal jari tangan dan kaki.

Persoalan mulai muncul ketika jalur saraf tersebut mengalami tekanan atau himpitan.

Pengapuran pada tulang, terutama di area pergelangan tangan atau pangkal jari, disebut menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya aliran energi.

Ketika “kabel” saraf terjepit, arus energi tidak dapat mengalir dengan lancar sebagaimana mestinya.

Akibatnya, sisa energi listrik yang tidak tersalurkan akan menumpuk di sepanjang urat saraf.

Endapan ini, jika berlangsung terus-menerus, dapat memicu kondisi kelebihan beban atau overload.

Dalam situasi tersebut, pancaran energi baru dari otak terhambat, sehingga sistem saraf tidak bekerja optimal.

Energi yang terperangkap itu kemudian memunculkan panas tinggi sebagai respons alami tubuh.

Panas tersebut diyakini berfungsi untuk melawan atau “membakar” pengapuran yang menekan jalur saraf.

Sebaliknya, bagian tubuh yang tertutup pengapuran justru terasa dingin. Kondisi ini kerap dirasakan pada telapak tangan yang menjadi dingin saat pergelangan tangan bermasalah.

Ketidakseimbangan antara panas dan dingin itulah yang menurut narasumber memicu berbagai keluhan, mulai dari kepala terasa panas, timbul rasa pening, hingga pusing berat yang berujung migrain.

Dari sudut pandang ini, migrain tidak semata dipahami sebagai gangguan di kepala, melainkan sebagai sinyal adanya hambatan aliran energi saraf di seluruh tubuh.

Pencegahan dengan Sentuhan dan Gerakan Ibadah

Upaya mencegah migrain agar tidak terus berulang, menurut narasumber, tidak selalu membutuhkan langkah rumit atau biaya besar.

Kuncinya justru terletak pada perawatan sederhana yang dilakukan secara rutin dan penuh kesungguhan.

Konsistensi menjadi faktor utama agar tubuh mampu menjaga keseimbangan sistem sarafnya.

Salah satu cara yang ia terapkan adalah mengembangkan praktik berwudhu. Wudhu tidak hanya dimaknai sebagai membasuh anggota tubuh dengan air, tetapi juga disertai sentuhan pijatan.

Gerakan pijat dimulai dari pangkal siku, dilanjutkan ke pergelangan tangan, hingga menjalar ke ujung-ujung jari.

Tekanan dilakukan cukup kuat agar jalur saraf yang berada di sepanjang tulang dapat terbuka dan aliran energi berjalan lancar.

Selain pada tangan, pijatan juga diarahkan ke area wajah dan kepala. Bagian tulang alis mata, kening, serta pangkal telinga menjadi titik yang kerap diberi perhatian khusus.

Menurut pengalamannya, area-area tersebut berkaitan erat dengan pusat saraf yang memengaruhi ketegangan kepala.

Perawatan tidak berhenti di bagian atas tubuh. Narasumber juga memijat lutut bagian dalam, lingkar mata kaki baik sisi luar maupun dalam, hingga ke pangkal jari-jari kaki.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya menyeluruh untuk melancarkan aliran saraf dari kepala hingga kaki, sehingga ketegangan tidak terpusat di satu titik saja.

Di luar pijatan, gerakan ibadah dinilai memiliki kontribusi besar dalam pencegahan migrain. Gerakan salat, terutama sujud, diyakini mampu membantu memperlancar peredaran darah ke otak.

Posisi sujud dilakukan dengan penuh kesadaran, dapat disertai duduk pembakaran seperti iftirasy atau tawarruk sesuai kemampuan masing-masing.

Jika rangkaian pijatan dan gerakan salat ini dijalankan secara teratur dan tidak sekadar menggugurkan rutinitas, narasumber meyakini manfaatnya akan terasa lebih optimal.

Tubuh menjadi lebih seimbang, ketegangan saraf berkurang, dan risiko kambuhnya migrain pun dapat ditekan.

Saat Migrain Menyerang

Saat serangan migrain tak dapat dihindari dan nyeri terlanjur menguasai kepala, obat pereda sakit kerap menjadi jalan terakhir yang ditempuh.

Namun menurut pengalaman narasumber, pilihan tersebut sebaiknya tidak selalu menjadi andalan utama.

Selama tubuh masih mampu menahan rasa sakit, ia menyarankan agar langkah pertama yang dilakukan adalah memijat titik-titik saraf sebagaimana prosedur pencegahan yang biasa diterapkan.

Pijatan diarahkan pada jalur saraf yang terasa paling tegang, dengan tujuan mengurai sumbatan dan mengembalikan aliran yang terganggu.

Dengan perlakuan tersebut, narasumber meyakini keseimbangan sistem saraf yang berkaitan dengan fungsi berpikir, penglihatan, dan pendengaran dapat berangsur pulih. Perlahan, ketegangan mereda dan rasa nyeri pun berkurang.

Pendekatan ini tidak hanya dipahami dari sisi fisik semata, tetapi juga memiliki landasan nilai spiritual.

Dalam ajaran Islam, tubuh dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dan dirawat.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan umatnya melalui sabdanya, “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu” (HR. Bukhari).

Pesan ini menjadi penegasan bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang hamba.

Karena itu, penanganan migrain tidak semata diletakkan pada upaya medis, tetapi dipadukan dengan sentuhan tradisional serta kesadaran dalam beribadah.

Migrain pun tidak lagi dipahami hanya sebagai penyakit yang harus dilawan, melainkan sebagai isyarat dari tubuh agar manusia kembali menata keseimbangan antara kekuatan raga, kejernihan pikiran, dan kedalaman spiritualitas. (top)

Editor : Ali Mustofa
#salat #kepala #nyeri #medis #Pijatan #pusing #Saraf #migrain #Pencegahan