RADAR KUDUS – Isro’ Mi’roj bukanlah sekadar peristiwa historis yang rutin diperingati dari tahun ke tahun.
Perjalanan suci ini merupakan momentum ruhani yang penuh pesan mendalam, sekaligus sumber kekuatan batin bagi umat Islam.
Peristiwa agung tersebut diyakini terjadi pada tahun ke-13 masa kenabian Rasulullah SAW, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab.
Di balik keistimewaannya, Isro’ Mi’roj hadir sebagai penghibur di tengah kesedihan mendalam yang tengah dirasakan Nabi Muhammad SAW.
Sebelum perjalanan luar biasa itu terjadi, Rasulullah SAW baru saja menghadapi ujian berat dengan kehilangan dua sosok paling berharga dalam hidupnya.
Sosok pertama adalah Sayyidah Khadijah al-Kubra RA, istri tercinta yang menjadi perempuan pertama memeluk Islam.
Beliau bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga penyangga utama perjuangan dakwah Rasulullah SAW.
Dengan keikhlasan jiwa, tenaga, dan seluruh hartanya, Sayyidah Khadijah tampil sebagai teladan sejati perempuan pejuang iman.
Kepergiannya tentu meninggalkan duka yang sangat mendalam di hati Rasulullah SAW.
Belum reda kesedihan tersebut, Rasulullah SAW kembali diuji dengan wafatnya sang paman, Abu Thalib.
Sosok yang selama ini memberikan perlindungan dan menjadi benteng dari tekanan serta ancaman kaum Quraisy.
Kehilangan Abu Thalib membuat posisi Rasulullah SAW semakin rentan di tengah kerasnya penentangan terhadap dakwah Islam.
Dua musibah besar yang datang berturut-turut itu menjadikan tahun tersebut dikenal dalam sejarah sebagai ‘Aamul Huzni, atau tahun penuh kesedihan.
Namun, justru di tengah suasana duka itulah Allah SWT menganugerahkan Isro’ Mi’roj kepada Rasulullah SAW.
Isro’ Mi’roj merupakan perjalanan spiritual yang mengangkat Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, kemudian dilanjutkan menembus lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Dari perjalanan inilah Rasulullah SAW kembali dengan kekuatan dan semangat baru, untuk melanjutkan risalah perjuangan dan dakwah kepada umat manusia.
Sholat Lima Waktu: Oleh-Oleh Teragung Isro’ Mi’roj
Peristiwa Isro’ Mi’roj tidak hanya menjadi tonggak sejarah besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, tetapi juga membawa amanah agung bagi seluruh umat Islam.
Amanah itu adalah kewajiban menunaikan sholat lima waktu.
Perintah ini bukanlah pengenalan ibadah baru secara mutlak, sebab jauh sebelum Isro’ Mi’roj, Rasulullah SAW telah terbiasa melaksanakan sholat malam sebagai bentuk kedekatan beliau kepada Allah SWT.
Namun melalui peristiwa inilah, sholat lima waktu ditetapkan sebagai kewajiban utama yang mengikat umat Islam hingga akhir zaman.
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, “Dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14).
Ayat ini menegaskan bahwa sholat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan sarana utama bagi manusia untuk senantiasa terhubung dengan Rabb-nya.
Sholat menjadi fondasi keimanan sekaligus penopang akhlak, yang membimbing manusia agar tetap berada di jalan yang lurus.
Isro’ Mi’roj pun hadir sebagai penguat dan penyegar semangat Rasulullah SAW setelah menghadapi masa-masa berat dalam perjuangan dakwah.
Dari perjalanan suci itulah, Nabi Muhammad SAW kembali dengan bekal spiritual yang meneguhkan langkah beliau dalam menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.
Ironisnya, jika kondisi tersebut dibandingkan dengan realitas kehidupan saat ini, gambaran yang muncul sering kali tidak sejalan dengan makna besar sholat itu sendiri.
Masjid dan mushola berdiri megah hampir di setiap sudut kampung dan kota.
Bangunannya semakin indah, fasilitasnya semakin lengkap. Namun, kemakmuran jamaahnya kerap tidak sebanding dengan kemegahan fisiknya.
Pada waktu Maghrib, masjid masih terlihat cukup ramai. Tetapi suasana berubah ketika waktu Subuh tiba.
Tidak jarang seorang muadzin yang telah lanjut usia harus mengumandangkan adzan sendirian, melantunkan pujian sendirian, mengiqamahi sholat sendirian, bahkan memimpin sholat tanpa makmum. Lalu, di manakah jamaah yang lain?
Sering kali, semangat umat begitu besar ketika berbicara tentang pembangunan masjid. Dana dihimpun, nama wakif dicatat, dan bangunan fisik didirikan dengan penuh kebanggaan.
Namun, semangat untuk meramaikan masjid dengan sholat berjamaah, dzikir, dan ibadah justru perlahan memudar.
Padahal, membangun masjid sejatinya bukan hanya soal mendirikan tembok dan kubah, tetapi juga menghidupkannya dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Inilah esensi yang seharusnya dijaga, sebagaimana teladan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa pahala membangun masjid akan sempurna ketika disertai dengan kesungguhan memakmurkannya melalui ibadah dan kebersamaan dalam sholat berjamaah.
Sholat dan Maksiat: Letak Kekeliruannya Di Mana?
Al-Qur’an telah menegaskan bahwa sholat memiliki peran besar dalam membentuk perilaku manusia.
Sholat yang ditegakkan dengan benar seharusnya menjadi benteng yang menghalangi seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).
Namun, sebuah pertanyaan mendasar pun muncul: sholat seperti apa yang benar-benar mampu menjalankan fungsi tersebut?
Realitas di masyarakat sering kali memperlihatkan hal yang memprihatinkan.
Tidak sedikit orang yang terlihat rajin menunaikan sholat, bahkan telah menyandang gelar haji, tetapi dalam praktik kehidupannya masih terjerumus pada perbuatan maksiat.
Korupsi terjadi di berbagai lini, keserakahan semakin menguat, dan kezaliman kerap dilakukan demi harta maupun jabatan. Jika demikian adanya, di manakah letak persoalannya?
Apakah yang bermasalah adalah sholatnya, pribadi pelakunya, para ulama yang mengajarkan, ataukah keadaan zaman yang sering dijadikan alasan?
Dalam banyak kasus, zaman kerap dijadikan pihak yang disalahkan.
Persoalan ini perlu ditelusuri hingga ke akar. Mengapa ibadah sholat dapat berjalan rutin, tetapi maksiat tetap tak terbendung?
Kuncinya terletak pada satu hal yang sangat mendasar, yakni kekhusyukan.
Sholat yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar adalah sholat yang dikerjakan dengan penuh khusyu’.
Allah SWT berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2).
Lalu, sudahkah sholat kita benar-benar khusyu’? Kekhusyukan memang bersumber dari hati dan batin, namun tidak hadir begitu saja. Ia harus diawali dari kesempurnaan lahiriah.
Syarat dan rukun sholat harus terpenuhi, pakaian dan tempat sholat harus suci serta halal.
Jika aspek lahir telah tertata dengan baik, barulah hati dan batin dapat disiapkan untuk menghadirkan kekhusyukan yang sejati.
Takbiratul Ihram: Menempatkan Diri di Hadapan Yang Maha Agung
Sebelum mengangkat tangan untuk bertakbir, sudah seharusnya hati kita terlebih dahulu dibebaskan dari hiruk-pikuk urusan dunia.
Pikiran ditenangkan agar mencapai tuma’ninah, sehingga sholat tidak diawali dengan kegelisahan.
Saat kalimat takbiratul ihram, “Allahu Akbar,” diucapkan, niat sholat harus benar-benar dihadirkan dalam hati.
Ucapan itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pernyataan iman bahwa Allah SWT Maha Besar dan Maha Agung, jauh melampaui segala gambaran dan batas pemikiran manusia.
Lalu, seberapa agungkah kebesaran Allah SWT? Apakah dapat disamakan dengan gunung yang menjulang, bumi yang kita pijak, matahari yang menyinari, atau langit yang membentang luas?
Bahkan seluruh alam semesta tidak akan mampu menggambarkan keagungan-Nya.
Jika bumi saja hanyalah setitik debu di tengah luasnya galaksi, maka manusia yang hidup di atasnya jauh lebih kecil dan tidak memiliki arti apa pun di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15).
Ayat ini menegaskan bahwa ketergantungan sepenuhnya berada di pihak manusia, bukan pada Allah SWT.
Kesadaran akan posisi diri yang begitu kecil inilah yang seharusnya muncul sejak takbiratul ihram.
Seandainya seluruh manusia di dunia enggan bersujud kepada-Nya, Allah SWT sama sekali tidak mengalami kerugian apa pun.
Sebab, Dia Maha Kaya dan sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya. Justru manusialah yang membutuhkan rahmat dan pertolongan-Nya.
Takbiratul ihram baru merupakan pintu awal sholat. Setelah itu, doa iftitah dilantunkan sebagai pembuka munajat.
Namun, bagaimana menata hati agar sholat tidak sekadar menjadi bacaan lisan? Apakah cukup membaca lafadz tanpa menghadirkan maknanya?
Sebelum melangkah lebih jauh, ada satu tahapan penting yang kerap terabaikan, yakni kesadaran penuh bahwa diri kita sedang berdiri dalam sholat, menghadap dan bermunajat kepada Allah SWT.
Menghadirkan Hati dalam Setiap Gerakan
Tidak sedikit orang yang menunaikan sholat, tetapi pikirannya justru berkelana ke mana-mana.
Lisan melafalkan basmalah, sementara benak sibuk memikirkan urusan dunia, mulai dari pekerjaan yang belum selesai, makanan yang terbayang, hingga barang yang hilang.
Jika demikian keadaannya, patutkah sholat itu disebut sebagai ibadah yang dihadiri oleh hati?
Sholat sejatinya bukan sekadar rangkaian gerakan tubuh. Ia adalah ibadah yang menuntut kehadiran total diri manusia.
Anggota badan, pikiran, dan hati harus menyatu dalam setiap bacaan dan gerakan.
Kesadaran bahwa diri sedang berdiri, ruku’, dan sujud di hadapan Allah SWT menjadi langkah awal menuju kekhusyukan.
Proses ini memang tidak mudah, karena membutuhkan latihan, kesungguhan, dan kesabaran.
Ketika pikiran mulai melayang keluar dari sholat, tugas kita adalah menariknya kembali.
Kita ingatkan diri bahwa saat itu sedang bermunajat dan bersujud di hadapan Allah SWT.
Dari kesadaran inilah, perlahan kita belajar menghadirkan makna bacaan sholat ke dalam hati, tidak sekadar melafalkannya dengan lisan.
Namun, ikhtiar tersebut harus senantiasa disertai doa.
Kita memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi hati yang khusyu’, tenang, dan tuma’ninah, baik ketika berdiri di atas sajadah maupun saat menjalani kehidupan di luar sholat.
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’.” (HR. Muslim).
Apabila seseorang mulai merasakan sholat yang khusyu’, pengaruhnya akan terlihat nyata dalam keseharian.
Hatinya yang selalu merasa berada di hadapan Allah SWT akan membimbingnya menjaga ucapan, sikap, dan perbuatan.
Inilah buah dari sholat yang hidup, kesadaran terus-menerus bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap langkah manusia. Kesadaran inilah yang disebut sebagai ihsan.
Rasulullah SAW bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).
Dari sinilah sholat benar-benar berfungsi sebagai penyangga kehidupan, penuntun akhlak, sekaligus benteng yang melindungi manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana pesan agung Isro’ Mi’roj yang seharusnya senantiasa hidup dalam keseharian umat Islam. (top)
Editor : Ali Mustofa