RADAR KUDUS - Syukur sering kali terdengar sederhana, namun maknanya begitu dalam.
Para ulama dan pakar agama merumuskan arti syukur dengan berbagai penjelasan.
Ada yang mengartikannya sebagai pujian atas kebaikan, ada pula yang memaknainya sebagai rasa penuh dalam menerima anugerah, bahkan ada yang menggambarkannya sebagai penampakan sesuatu yang indah.
Baca Juga: Kenapa Keadilan Jadi Kunci Utama dalam Islam? Begini Jawabannya
Dalam bahasa, kata syukur kerap digunakan untuk melukiskan tumbuhan yang tumbuh subur meski hanya mendapat sedikit air, atau hewan yang gemuk meskipun hanya dengan sedikit rumput.
Dalam ajaran Islam, syukur bukan hanya sekadar ucapan Alhamdulillah.
Syukur mencakup tiga aspek penting: hati, lisan, dan perbuatan. Hati dituntut untuk ikhlas menerima nikmat dengan penuh kegembiraan.
Dari hati yang bersih inilah lahir pujian dan ucapan syukur lewat lisan.
Lebih jauh, bentuk syukur yang paling nyata adalah mengamalkan nikmat itu sesuai kehendak Allah SWT, misalnya dengan memanfaatkan karunia alam semesta untuk kebaikan bersama.
Secara etimologis, kata “syukur” dalam bahasa Arab bermakna membuka dan menampakkan, sedangkan lawannya, “kufur,” berarti menutup atau menyembunyikan.
Artinya, bersyukur adalah menampakkan nikmat dengan cara memanfaatkannya secara tepat, sekaligus mengingat dan menyebut nama Sang Pemberi Nikmat.
Baca Juga: Fondasi Hidup Bermasyarakat: Tanpa Keadilan Tatanan Bangsa Bisa Runtuh
Al-Qur’an dengan tegas menekankan pentingnya syukur yang termaktub dalamSurat Luqman ayat 12.
Allah berfirman: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
Manfaat syukur sangatlah besar. Dari sisi psikologis, rasa syukur mampu menghadirkan ketenangan batin, kebahagiaan, optimisme, hingga kepercayaan diri.
Dari sisi sosial, syukur menumbuhkan rasa kebersamaan, solidaritas, dan hubungan yang lebih harmonis antar sesama.
Namun, mencapai derajat syukur sejati tidaklah mudah. Dalam Islam, tingkatan iman manusia bertahap mulai dari muslim, mukmin, muhsin, mukhlis, muttaqin, hingga puncaknya syakur.
Pada tingkatan terakhir ini, syukur telah meresap dalam jiwa hingga menjadi bagian dari kepribadian.
Seorang syakur mampu mensyukuri segala hal, bukan hanya kenikmatan tetapi juga ujian, musibah, bahkan penderitaan.
Syukur juga memiliki tingkatan. Pertama, tahmid, yakni mengucapkan pujian ketika memperoleh nikmat.
Kedua, syukur dalam arti menyerahkan segala nikmat kepada Allah SWT dengan kerendahan hati, di antaranya dengan menunaikan hak orang lain melalui zakat dan sedekah.
Ketiga, syakur, yakni mereka yang mampu melihat bahkan musibah sebagai anugerah tersembunyi dari Allah SWT.
Tak heran jika Allah berfirman dalam Surat Saba ayat 13: Artinya: “Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Ayat ini menegaskan betapa langkanya orang yang mampu mencapai derajat syakur.
Bagi seorang hamba, syukur sejatinya menjadi jalan menuju ridha Allah.
Baca Juga: Mau Hidup Bahagia dan Bermakna? Ternyata Rahasianya Ada pada Tiga Hal Ini
Ia melapangkan dada, menjauhkan dari stres, dan menjadikan hati seluas samudra yang tak mudah berubah meski diterpa gelombang cobaan.
Sebaliknya, hati yang sempit akan mudah sesak oleh hal-hal kecil.
Dengan demikian, syukur adalah fondasi kebahagiaan dan kunci untuk meraih derajat tertinggi dalam iman.
Menjadi pribadi yang syukur memang tidak mudah, tetapi itulah dambaan tertinggi seorang hamba yang ingin dekat dengan Allah SWT.
Editor : Ali Mustofa