KUDUS – Setiap pemeluk agama dituntut untuk mengenal Allah SWT sebagai Pencipta dan Pengatur seluruh alam semesta.
Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Al-Ahad) menjadi landasan utama dalam beriman, karena hanya Dia yang tidak memiliki sekutu.
Mengenal Allah berarti memahami esensi kehadiran-Nya, sekaligus meneguhkan keyakinan seorang hamba atas agama yang dianutnya.
Hal ini sejalan dengan rukun iman pertama, yakni beriman kepada Allah SWT, yang kemudian diikuti iman kepada malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta takdir (qada dan qadar).
Iman bukan sekadar keyakinan, tetapi pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.
Sebagaimana Firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 190. Artinya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal".
Mengenal Allah juga berarti mengenal diri sendiri. Ada pepatah “barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk tujuan tertentu.
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk biologis (al-basyar), sosial (an-nas), khalifah (al-insan), dan keturunan Adam (bani Adam).
Manusia memiliki jasad, jiwa, dan ruh yang masing-masing punya peran penting dalam kehidupan.
Ruh adalah penghidup jasad dan jiwa, bersifat suci serta dekat dengan Allah. Jiwa terdiri dari akal, hati, dan nafsu.
Akal digunakan untuk berpikir, hati untuk merasakan dan beriman, sedangkan nafsu menjadi tenaga pendorong hidup.
Namun nafsu bersifat netral—dapat membawa manusia pada kebaikan atau justru mendorong pada keburukan.
Dalam Al-Qur’an (QS. Yusuf: 53) ditegaskan yang artinya: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan”.
Para ulama membagi nafsu ke dalam beberapa tingkatan, mulai dari ammarah (mendorong pada keburukan) hingga muthmainnah (jiwa yang tenang).
Tugas manusia adalah mengenali dan mengendalikannya agar tetap berada pada jalan kebaikan.
Selain itu, qalbu (hati) memegang peranan penting. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa hati adalah pusat segala amal manusia.
Hati yang bersih mampu membimbing pada kebaikan, sedangkan hati yang kotor justru menjerumuskan pada dosa.
Dzikir dan penyucian hati menjadi cara agar manusia terhindar dari tipu daya setan.
Manusia juga dibekali potensi besar, seperti kecerdasan fisik, intelektual, emosional, spiritual, hingga daya juang.
Semua potensi itu harus diarahkan untuk tujuan mulia sesuai maksud penciptaan manusia, yakni beribadah dan menjadi khalifah di bumi.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zariyat ayat 56: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Pada akhirnya, perintah beribadah bukanlah untuk kepentingan Allah, melainkan untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Segala amal baik kembali kepada pelakunya, demikian juga keburukan. Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, justru manusia yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
Allah SWT berfirman, artinya: “Wahai manusia, kamulah yang bergantung dan butuh kepada Allah; sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS Faathir: 15).
Karena itu, tugas utama manusia adalah menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran sebagai hamba Allah, mengembangkan potensi diri, serta menjaga amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Dengan begitu, kehidupan dunia akan membawa kebahagiaan, dan akhirat akan berbuah keselamatan.
Editor : Ali Mustofa