Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Benarkah Rebo Wekasan Hari Turunnya Bala? Begini Penjelasan Mbah Maimoen

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 20 Agustus 2025 | 01:05 WIB
BERSAMA MAIMOEN ZUBAIR: Habib Hud saat bersama Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. (HUD FOR JAWA POS RADAR KUDUS)
BERSAMA MAIMOEN ZUBAIR: Habib Hud saat bersama Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. (HUD FOR JAWA POS RADAR KUDUS)

RADAR KUDUS - Rebo Wekasan merupakan salah satu tradisi keagamaan yang hingga kini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Muslim, terutama di Jawa. Peringatan ini jatuh pada Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriyah.

Dalam pandangan tradisional, hari tersebut kerap dianggap sebagai waktu rawan datangnya bala atau musibah.

Karena itu, banyak umat Islam melakukan doa khusus, shalat sunnah, dan dzikir bersama untuk memohon perlindungan Allah SWT.

Salah satu ulama kharismatik yang sering memberikan penjelasan terkait makna Rebo Wekasan adalah KH Maimoen Zubair atau Mbah Maimoen.

Melalui berbagai pengajian dan ceramahnya, beliau membahas asal-usul penamaan Rebo Wekasan, kaitannya dengan bulan Safar, hingga tata cara ibadah yang dianjurkan pada hari tersebut.

Baca Juga: Rebo Wekasan Menurut Mbah Maimoen: Sejarah, Makna, dan Tata Cara Shalatnya


Asal Usul Penamaan Rebo Wekasan

Menurut penjelasan Mbah Maimoen, istilah Rebo Wekasan berkaitan erat dengan kisah penciptaan bumi. Allah SWT menciptakan bumi dalam empat hari, mulai dari Ahad hingga Rabu.

Karena itu, Rabu dipandang sebagai hari penutup dari proses penciptaan tersebut. Kata “wekasan” sendiri berarti “penutup” atau “penghabisan”.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa sebagian ulama tasawuf memandang Rabu terakhir di bulan Safar sebagai saat turunnya ujian, cobaan, maupun bala.

Itulah sebabnya banyak orang terdorong untuk memperbanyak doa, memohon keselamatan, dan menghindari marabahaya di hari itu.

“Pada hari Ahad hingga Rabu adalah bagian dari penciptaan bumi. Maka Rabu dinamakan Rebo Wekasan, waktunya berdoa.

Sebagian ulama ahlu kasyaf menyebutkan bahwa hari ini adalah tumpuan bala dan cobaan,” jelas Mbah Maimoen, seperti dikutip dari kanal YouTube Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Selasa (19/8/2025).


Keterkaitan dengan Bulan Safar

Selain penamaan, Mbah Maimoen juga menjelaskan hubungan erat antara Rebo Wekasan dan bulan Safar. Dalam bahasa Arab, safar berarti “kuning”.

Warna kuning dalam tradisi Arab sering dimaknai sebagai simbol kepucatan, kekosongan, atau kondisi yang tidak stabil.

Menurut beliau, bulan Safar dapat dipandang sebagai cerminan keadaan bumi yang masih “kosong” ketika diciptakan.

Dari tafsir inilah muncul pandangan bahwa Safar sering dikaitkan dengan nuansa kurang baik.

Karenanya, masyarakat Muslim terbiasa memperbanyak doa pada bulan ini, termasuk pada Rebo Wekasan, agar mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

“Safar itu artinya kuning. Menurut orang Arab, setiap yang kuning artinya pucat, seakan-akan kosong.

Jadi bulan Safar bisa dicocokkan dengan bulan penciptaan bumi. Kalau ingat penciptaan bumi dikembalikan kepada Allah, maka akan selamat dari bahaya,” ujar Mbah Maimoen.


Shalat Sunnah Rebo Wekasan

Salah satu amalan yang dianjurkan adalah melaksanakan shalat sunnah empat rakaat dengan bacaan tertentu.

Namun, penting digarisbawahi bahwa shalat ini diniatkan sebagai shalat sunnah mutlak, bukan shalat khusus karena Rebo Wekasan.

Tata cara yang dijelaskan Mbah Maimoen adalah sebagai berikut:

  1. Niat Shalat Sunnah Mutlak, lalu shalat dua rakaat.

  2. Bacaan setelah Al-Fatihah di setiap rakaat adalah:

    • Surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali

    • Surat Al-Ikhlas sebanyak 5 kali

    • Surat Al-Falaq dan An-Nas masing-masing 1 kali

  3. Setelah salam, ulangi kembali dua rakaat dengan bacaan yang sama sehingga genap empat rakaat.

  4. Setelah selesai, dianjurkan membaca doa memohon keselamatan dari segala bala.

Dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur dijelaskan bahwa shalat ini sah sebagai shalat sunnah mutlak. Artinya, pelaksanaannya tidak dianggap sebagai ibadah yang ditetapkan syariat secara khusus, melainkan bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah.


Dimensi Spiritual Rebo Wekasan

Bagi Mbah Maimoen, Rebo Wekasan bukanlah kewajiban agama, melainkan ikhtiar spiritual.

Umat Islam dapat mengisi hari itu dengan doa, dzikir, dan shalat sunnah sebagai bentuk permohonan perlindungan dari Allah SWT.

Tradisi ini juga menjadi momentum bagi umat Muslim untuk menyadari bahwa keselamatan maupun musibah sepenuhnya berasal dari Allah SWT.

Dengan begitu, Rebo Wekasan lebih tepat dipahami sebagai pengingat spiritual ketimbang sekadar ritual budaya.


Hidup dalam Tradisi Masyarakat

Di berbagai daerah, terutama Jawa, Rebo Wekasan masih dijalankan secara kolektif. Banyak masjid, pesantren, maupun komunitas Muslim mengadakan doa bersama, shalat sunnah, hingga pengajian khusus.

Tradisi ini dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal yang menggabungkan budaya dengan nilai keagamaan.

Keberlanjutan Rebo Wekasan menunjukkan bagaimana Islam di Indonesia mampu berakulturasi dengan budaya lokal tanpa menghilangkan esensi ajaran Islam.

Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, dan memperkokoh rasa kebersamaan di tengah masyarakat.


Kesimpulan

Rebo Wekasan adalah warisan tradisi Islam Nusantara yang hingga kini tetap lestari.

Penjelasan Mbah Maimoen Zubair membantu umat memahami maknanya: mulai dari asal-usul nama yang dikaitkan dengan penciptaan bumi, hubungan dengan bulan Safar, hingga anjuran melaksanakan shalat sunnah empat rakaat dengan bacaan tertentu.

Meski bukan kewajiban agama, Rebo Wekasan menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk memperbanyak doa, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memohon perlindungan dari segala bala.

Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana Islam menyatu dengan budaya lokal, melahirkan praktik keagamaan yang sarat makna spiritual sekaligus sosial.

Editor : Mahendra Aditya
#Maimoen Zubair #Tata Cara Mandi Rebo Wekasan #Mandi Rebo Wekasan adalah #menjaga Rebo Wekasan di era sekarang #Rebo Wekasan #Mbah Maimoen #mandi Rebo Wekasan #Pelaksanaan sholat sunnah Rebo Wekasan #niat mandi Rebo Wekasan #Lafal niat sholat Rebo Wekasan #Mbah Maimoen Zubair #sejarah Rebo Wekasan #dimulai malam Rebo Wekasan #larangan Rebo Wekasan #Asal dari Amalan Rebo Wekasan #kapan Rebo Wekasan #Waktu pelaksanaan Sholat Rebo Wekasan #Sholat Rebo Wekasan