RADAR KUDUS - Tradisi Rebo Wekasan sudah sejak lama melekat dalam kehidupan sebagian masyarakat Muslim Jawa.
Perayaan ini jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriyah.
Dalam pandangan tradisional, hari tersebut sering dipandang sebagai waktu yang rawan turunnya bala atau musibah, sehingga banyak umat Islam melaksanakan doa khusus maupun shalat sunnah untuk memohon perlindungan Allah SWT.
Salah satu tokoh ulama kharismatik yang sering menjelaskan mengenai makna Rebo Wekasan adalah KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Maimoen.
Melalui pengajiannya, beliau memberikan penjelasan mendalam tentang asal-usul penamaan Rebo Wekasan hingga tata cara shalat yang dianjurkan dilakukan pada hari tersebut.
Asal Usul Nama Rebo Wekasan
Menurut penjelasan Mbah Maimoen, istilah Rebo Wekasan berkaitan erat dengan proses penciptaan bumi. Beliau menuturkan bahwa Allah SWT menciptakan bumi dalam empat hari, yakni mulai hari Ahad hingga Rabu.
Oleh sebab itu, hari Rabu dipandang sebagai hari terakhir dari rangkaian penciptaan, sehingga disebut sebagai Rebo Wekasan yang bermakna “Rabu penutup”.
Lebih lanjut, Mbah Maimoen menyampaikan bahwa banyak ulama ahli tasawuf berpendapat, hari Rabu terakhir di bulan Safar merupakan waktu turunnya ujian, bala, atau cobaan.
Karena itu, momentum tersebut menjadi saat yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa agar terhindar dari marabahaya.
“Pada hari Ahad hingga Rabu adalah bagian dari penciptaan bumi. Maka Rabu dinamakan Rebo Wekasan, waktunya berdoa. Sebagian ulama ahlu kasyaf menyebutkan bahwa hari ini adalah tumpuan bala dan cobaan,” ungkap beliau melalui kanal YouTube Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, dikutip Selasa (19/8/2025).
Kaitannya dengan Bulan Safar
Selain dikaitkan dengan penciptaan bumi, Mbah Maimoen juga menjelaskan bahwa nama Rebo Wekasan erat hubungannya dengan bulan Safar. Dalam bahasa Arab, Safar berarti kuning. Warna kuning dalam tradisi Arab sering dimaknai sebagai tanda kepucatan atau kekosongan.
Mbah Maimoen menafsirkan bahwa bulan Safar seakan menggambarkan kondisi “kosong” ketika bumi diciptakan.
Dari sinilah muncul anggapan bahwa bulan Safar memiliki nuansa yang kurang baik, sehingga perlu ditopang dengan doa-doa khusus agar umat Islam mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.
“Safar itu artinya kuning. Menurut orang Arab, setiap yang kuning artinya pucat, seakan-akan kosong.
Jadi bulan Safar bisa dicocokkan dengan bulan penciptaan bumi. Kalau ingat penciptaan bumi dikembalikan kepada Allah, maka akan selamat dari bahaya,” tutur beliau.
Anjuran Melaksanakan Shalat Rebo Wekasan
Dalam kesempatan tersebut, Mbah Maimoen juga memberikan arahan mengenai shalat sunnah yang dianjurkan dilakukan pada Rebo Wekasan.
Menurutnya, shalat ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT sekaligus upaya mendekatkan diri kepada-Nya.
Shalat Rebo Wekasan dilakukan empat rakaat, namun dengan susunan bacaan tertentu. Mbah Maimoen menjelaskan tata cara pelaksanaannya sebagai berikut:
-
Niat Shalat Sunnah Mutlak – dilakukan dua rakaat dengan niat shalat sunnah mutlak, bukan niat shalat khusus Rebo Wekasan.
-
Bacaan Setelah Al-Fatihah – pada setiap rakaat, setelah membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan dengan:
-
Surat Al-Kautsar dibaca 17 kali
-
Surat Al-Ikhlas dibaca 5 kali
-
Surat Al-Falaq dan An-Nas masing-masing 1 kali
-
-
Salam – setelah dua rakaat selesai, dilanjutkan kembali shalat dua rakaat dengan bacaan yang sama, sehingga total empat rakaat.
-
Membaca Doa – setelah shalat selesai, dianjurkan berdoa memohon perlindungan dari segala bala dan bencana.
Dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur disebutkan bahwa shalat Rebo Wekasan diperbolehkan selama diniatkan sebagai shalat sunnah mutlak.
Artinya, bukan meniatkan shalat khusus hanya karena Rebo Wekasan, melainkan menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Makna Spiritual Rebo Wekasan
Mbah Maimoen menekankan bahwa tradisi Rebo Wekasan bukanlah sesuatu yang wajib, melainkan bagian dari ikhtiar umat Islam dalam memperbanyak doa.
Dengan melaksanakan shalat sunnah, dzikir, dan doa, diharapkan setiap muslim mendapat perlindungan Allah SWT dari marabahaya yang mungkin terjadi.
Selain itu, peringatan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bahwa setiap musibah maupun keselamatan berasal dari Allah SWT.
Dengan demikian, Rebo Wekasan lebih dimaknai sebagai pengingat spiritual, bukan sekadar ritual budaya.
Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Masyarakat
Hingga kini, Rebo Wekasan masih banyak dijalankan di berbagai daerah, terutama di Jawa.
Banyak masjid, pesantren, dan komunitas Muslim yang mengadakan doa bersama pada hari tersebut.
Sebagian melaksanakan shalat sunnah sebagaimana dianjurkan, sebagian lagi mengisi dengan pengajian serta pembacaan doa tolak bala.
Bagi masyarakat, Rebo Wekasan menjadi bagian dari kearifan lokal yang menyatukan tradisi dan nilai-nilai keagamaan.
Kehadirannya menunjukkan bagaimana Islam berakulturasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan makna spiritualnya.
Kesimpulan
Rebo Wekasan adalah warisan tradisi Islam Jawa yang hingga kini tetap dilestarikan.
Penjelasan Mbah Maimoen Zubair memberikan pemahaman mendalam mengenai asal-usul penamaannya yang berkaitan dengan penciptaan bumi, kaitannya dengan bulan Safar, serta anjuran melaksanakan shalat sunnah empat rakaat dengan bacaan tertentu.
Lebih dari sekadar ritual, Rebo Wekasan menjadi momentum untuk memperbanyak doa, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memohon perlindungan dari segala bentuk bala.
Dengan begitu, tradisi ini terus hidup sebagai wujud kesalehan kolektif masyarakat Muslim.
Editor : Mahendra Aditya