JAKARTA – Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan ibadah mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Tak hanya dilakukan secara individu, khataman Al-Qur’an juga dapat dilakukan secara bergiliran (khataman kolektif), yang memiliki keutamaan tersendiri di mata Allah SWT.
Tradisi khataman secara giliran ini kerap dilakukan oleh kelompok masyarakat, santri, majelis taklim, hingga komunitas tilawah. Setiap peserta membaca bagian tertentu (juz atau hizb) dari Al-Qur’an, dan secara kolektif mereka menyelesaikan 30 juz.
Ustaz Ahmad Fadhil, pengasuh Majelis Qur’ani Al-Hidayah di Jakarta, menjelaskan bahwa khataman seperti ini bukan hanya mempercepat penyelesaian Al-Qur’an, tapi juga memperkuat semangat kebersamaan dalam beribadah.
“Khataman kolektif bukan hanya soal menyelesaikan 30 juz secara cepat, tapi menunjukkan bahwa kita bisa bersatu dalam kebaikan dan tolong-menolong dalam amal ibadah,” ungkapnya.
Menurut sejumlah ulama, meskipun setiap orang hanya membaca sebagian dari Al-Qur’an, mereka tetap mendapatkan pahala seakan-akan mengkhatamkan seluruh isi Al-Qur’an karena termasuk dalam amal jama’i (amal kolektif) yang diniatkan bersama.
Keutamaan Khataman Kolektif Al-Qur’an:
- Dilipatgandakannya pahala tilawah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. Tirmidzi)
- Mengalirkan pahala jariyah. Khataman yang diniatkan untuk orang tua atau almarhum juga bisa menjadi sedekah jariyah.
- Mendekatkan hati antarsesama muslim. Kebersamaan dalam tilawah menumbuhkan ukhuwah dan kepedulian.
- Memakmurkan majelis-majelis Al-Qur’an. Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan, majelis tilawah akan dinaungi malaikat dan dipenuhi rahmat.
Ustaz Fadhil menyarankan, kegiatan khataman kolektif sebaiknya diiringi dengan niat ikhlas karena Allah SWT serta disempurnakan dengan doa khatmil Qur’an bersama.
“Setiap huruf dari Al-Qur’an membawa keberkahan, apalagi jika dilakukan bersama dan penuh keikhlasan. Ini juga jadi cara kita menjaga hubungan sosial yang bernilai ukhrawi,” tambahnya.
Editor : Zainal Abidin RK