Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Puasa Arafah Sekaligus Bayar Utang Ramadhan, Memangnya Boleh? Simak Penjelasannya

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 2 Juni 2025 | 15:34 WIB

Ibadah puasa
Ibadah puasa

RADAR KUDUS - Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam di seluruh penjuru dunia mulai mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal ibadah.

Salah satu ibadah yang paling dianjurkan dalam momentum ini adalah puasa sunnah, terutama yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai Puasa Arafah.

Keutamaannya sangat dahsyat—disebutkan dalam hadits shahih, puasa ini mampu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Tak heran, banyak yang berlomba-lomba menunaikannya.

Namun, di tengah semangat menjalankan puasa Arafah, muncul satu pertanyaan yang cukup sering terdengar: bolehkah kita menggabungkan puasa Arafah dengan puasa qadha Ramadhan yang belum terbayar?

Pertanyaan ini menjadi penting, terutama bagi mereka yang masih menanggung utang puasa akibat sakit, haid, perjalanan jauh, atau halangan lainnya selama bulan Ramadhan lalu.

Ulama Sepakat: Boleh, Asal Niat Utamanya Benar

Mayoritas ulama dari berbagai mazhab besar dalam Islam—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—menyatakan bahwa penggabungan antara puasa wajib dan puasa sunnah diperbolehkan.

Syaratnya, niat utamanya harus ditujukan untuk puasa yang wajib, yakni qadha Ramadhan. Sementara keutamaan dari puasa sunnah seperti Arafah bisa tetap diperoleh sebagai bonus, selama puasa tersebut dilakukan pada waktu yang tepat.

Konsep ini dalam fikih dikenal sebagai tadakhul an-niyat atau penggabungan niat, yang artinya dua jenis ibadah bisa digabung dalam satu amal jika tidak ada yang menghalangi secara syar’i maupun teknis.

Penjelasan Tokoh Ulama dan Pendakwah Terpercaya

Ustaz Adi Hidayat, dalam salah satu kajian keislamannya menjelaskan, "Jika seseorang hanya bisa memilih satu puasa pada hari itu, maka utamakanlah puasa qadha.

Namun, jika dia berniat untuk meng-qadha puasa Ramadhan dan bertepatan dengan hari Arafah, maka keutamaan puasa Arafah tetap bisa diraih berdasarkan pandangan mayoritas ulama."

Pernyataan ini selaras dengan pandangan ulama kontemporer, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Syaikh Yusuf al-Qaradawi.

Keduanya menegaskan bahwa menggabungkan niat antara puasa wajib dan sunnah adalah sah, selama tidak merusak syarat dan rukun dari masing-masing ibadah.

Tidak Salah, Tapi Memisahkan Jauh Lebih Utama

Meski secara hukum diperbolehkan, banyak ulama tetap menyarankan agar puasa qadha dan puasa sunnah dijalankan secara terpisah jika memungkinkan.

Tujuannya? Agar masing-masing ibadah mendapatkan keutamaan yang utuh dan tidak ‘berbagi pahala’ satu sama lain.

Ketua MUI Bidang Dakwah, KH. Cholil Nafis, menjelaskan bahwa niat qadha harus tetap menjadi prioritas.

"Jika seseorang menunaikan qadha di hari Arafah, maka niat wajibnya jangan sampai tertutupi oleh niat sunnah.

Tapi tenang saja, insyaAllah Allah tetap memberikan keutamaan Arafah karena Dia Maha Mengetahui niat dan usaha hamba-Nya," tegasnya.

Solusi Bagi yang Terbatas Waktu dan Tenaga

Bagi muslim dan muslimah yang memiliki keterbatasan waktu—misalnya karena pekerjaan, kehamilan, atau kondisi kesehatan—penggabungan niat ini menjadi solusi praktis yang memudahkan.

Tanpa harus melewatkan momen mulia puasa Arafah, seseorang tetap bisa melunasi hutang puasanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun tidak mempermasalahkan praktik ini, asalkan niatnya benar dan tidak menyamakan kedudukan dua ibadah tersebut.

Dengan kata lain, puasa qadha tetap menjadi kewajiban, sementara pahala Arafah akan datang sebagai ‘tambahan’ dari kemurahan Allah SWT.

Bijak Menentukan Prioritas Ibadah

Puasa Arafah dan puasa qadha Ramadhan memiliki posisi penting masing-masing. Bila memungkinkan, melaksanakan keduanya secara terpisah tentu lebih ideal.

Tapi bagi yang tak sanggup berpuasa dua kali atau mengejar waktu, penggabungan niat menjadi jalan tengah yang sah dan tetap berpahala besar.

Di hari-hari penuh keutamaan ini, tak ada salahnya kita maksimalkan peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Baik lewat puasa sunnah maupun membayar kewajiban Ramadhan, semua tetap berujung pada satu hal: niat tulus dan usaha terbaik dari setiap hamba.

Yuk, maksimalkan hari-hari mulia ini! Jangan lewatkan pahala besar hanya karena bingung soal niat. Allah Maha Mengetahui niat terbaik dalam setiap ibadah kita.

Editor : Mahendra Aditya
#jadwal puasa arafah 2025 #jadwal puasa arafah #puasa arafah idul adha #makna mendalam puasa arafah #puasa qadha Ramadhan #Niat Puasa Arafah dan Tarwiyah #puasa Arafah digabung puasa qadha Ramadhan #keutamaan puasa arafah #Puasa Arafah 2025 #Puasa Arafah 9 Dzulhijjah #puasa arafah #puasa wajib dan puasa sunnah digabung #Puasa Arafah dan Tarwiyah #puasa arafah tanggal berapa #bolehkan puasa Arafah #niat puasa Arafah