MASJID Syatho, Sedan, Rembang, memiliki corak arsitektur yang unik. Ornamen di dalamnya juga memiliki nilai estetika.
Ide bangunan ini diperoleh para pengurus setelah berkeliling dari satu masjid ke masjid lain untuk mencari inspirasi.
Dilihat dari depan, bangunan Masjid Syatho terlihat megah dua lantai. Arsitekturnya sekilas seperti gaya Turki dengan kubah dan menara di sisi samping.
Warnanya didominasi ungu kecokelatan dengan sen tuhan pernak-pernik warna lainnya. Halaman masjid ini juga luas.
Begitu masuk di serambinya, langsung terlihat gebyok ukir Jepara. Masjid Syatho sendiri sudah berdiri sejak sekitar tahun 1978. Sampai dengan saat ini, sudah beberapa kali mengalami pemugaran.
M Dzawinuha, salah satu pengurus menyampaikan, bangunan pertama, masjid ini berbentuk Joglo.
Luasan waktu itu juga masih separuhnya dengan luas bangunan saat ini. Saat itu memang ada keinginan masyarakat untuk men dirikan masjid.
Sebab, pada tahun-tahun itu, masjid terdekat masih ada di luar desa.
“Karena Sedan belum punya masjid, setuju mendirikan masjid,” katanya.
Seiring ber jalannya waktu, Masjid Syatho pun mengalami beberapa pemugaran dan renovasi.
Saat melakukan pemugaran besar sekitar 2015 silam, desain arsitektur pun diserahkan kepada konsultan. Meski begitu, pihak pengurus juga ikut andil dalam pengembangan.
Dzawinuha menceritakan, inspirasi dalam membangun desain ini terinspirasi dari banyak masjid.
Ia bersama pengurus lainnya bahkan sampai survei dari masjid satu ke masjid lainnya. Mulai dari Pasuruan, Tuban, dan daerah-daerah lain.
Diperkirakan total sudah mengunjungi lebih dari 10 masjid.
Aktivitas mencari ide itu juga dibiayai dari kantong pribadi para pengurus. Mulai dari kebutuhan kendaraan, bahan bakar, hingga makan.
“Pokok nya jalan-jalan kalau ada kelihatannya (masjid) bagus ya berhenti,” katanya.
Selain itu, juga memperhatikan referensi desain dari internet. Setelah mencari berbagai referensi, menurutnya, hampir semua masjid yang telah dikunjungi mempengaruhi desain pembangunan Masjid Syatho.
Seperti ketika para pengurus mengunjungi salah satu masjid yang memiliki lantai marmer yang baik. Hal ini pun langsung diterapkan untik pemba ngunan Masjid Syatho.
“Paling berpengaruh tidak ada. Misal kami ke Lamongan, kami suka (masjid) halaman parkirnya luas. Bonsainya bagus-bagus akhirnya kami (bikin) halaman,” katanya.
Selain itu, juga ada ornamen-ornamen yang dibuat berdasarkan hasil pengembangan ide sendiri. Diantaranya adalah kubah dan tiang yang terbuat dari kaca mozaik.
“Kubahnya kaca mozaik seperti yang dipilar itu. Jarang ada kubah yang seperti di Masjid Sedan,” imbuhnya. (vah/war)
Editor : Ali Mustofa