BANGUNAN di kompleks Masjid Jami’ Wali Blitung, Kalipang, Sarang memiliki berbagai perpaduan arsitektur.
Mulai dari adat Jawa, Bangka Belitung dan Tiongkok. Di belakang masjid terdapat makam para kiai, serta tempat wudlu kuno.
Masjid ini terletak di Pantura Rembang-Tuban, tepatnya di Dukuh Blitung, Desa Kalipang, Kecamatan Sarang.
Di masjid ini terdapat tempat wudu kuno berada di sisi utara masjid. Airnya langsung dari sumber mata air sehingga melimpah.
Masjid ini satu lantai. Untuk yang lama di bagian dalam. Kemudian untuk serambi masjid merupakan tambahan.
Dulu hanya beratap esbes. Setelah renovasi dengan arsitekur joglo, dengan tangga berundak.
Konsepnya berbentuk joglo seperti yang ada di masjid Demak. Lalu mimbar bentuk arsitekturnya kuno, Hindu-Budha ada gambar singa.
Ada juga arsitektur Cina. Sebab sebelum dipugar banyak keramik-keramik buatan Cina. Termasuk juga dari Belitung, Sumatera.
Masjid Blitung diperkirakan sudah berdiri sejak 1359. Sudah mengalami beberapa renovasi. Mulai 1959 bangunan belum memakai paku.
Lalu pada 2015 dan terakhir diresmikan pada 2018 oleh Bupati Rembang, Abdul Hafidz dan pengasuh Ponpes Al Anwar KH Maemoen Zubair.
Shofiyulloh, Takmir Masjid Blitung Sarang membenarkan masjid Blitung merupakan masjid tertua di Sarang. Memiliki hubungan erat Sarang dan Bangka Belitung, khususnya sejarah penyebaran agama Islam di Kota Santri tersebut.
”Masjid Blitung, Sarang memiliki nilai sejarah. Versi Dinarpus dan sejarah di Belitung Timur, masjid ini hadiah dari Raja Brawijaya V,” kata Shofi kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Dijelaksan Shofi sejarah berdirinya masjid. Dari referensi yang diterima dulu Raja Brawijaya V punya sayembara. Ingin keluarga tidak ada perpecahan intern keluarga. Untuk mewarisi tahta kerajaan.
Siapapun yang bisa tenteramkan keturunan apapun yang diminta diberikan.
Salah satu yang mengikuti sayembara Wali Blitung atau Abdullah Halimun Al Ayyubi. Berasal dari pulau Belitung, Sumatera.
Dulu bala tentara Kubilai Khan yang ingin serang Kartanegara di Siosari.
”Dalam ikuti sayembara membuat keris. Ada lubang dua ditengah. Dikasih Brawijaya V, akhirnya dijadikan pusaka kerajaan. Dari pengalihan penguasaan tidak terjadi perang saudara,” terangnya.
Setelah Brawijaya turun tahta digantikan Raden Patah. Akhirnya berikan hadiah. Karena padepokan berupa pendapa.
Diberi soko atau tiang 4. Sementara yang ada dilapisi dengan kayu jati hingga sekarang.
”Sekarang dilapisi kayu jati. Karena ukiran tidak terlalu halus. Kalau dulu hanya dipencoki dengan kampak. Karena sudah direnovasi tahun 2015 yang terakhir,” sambungnya.
Shofi menjelaskan tiang empat hadiah Brawijaya V dikirim dari Majapahit. Versinya ada berbagai macam.
Ada yang menyatakan diambilkan dari hutan di Mojokerto dan hutan Jati Peteng, Tuban.
Tiang 4 dikirim langsung Brawijaya V. Diantarkan punggawa kerajaan dibawa Majapahit ke Blitung. Turun di Tuban.
Dipangkul sampai ke tanah yang diberikan oleh Brawijaya yang ada di selatan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di desa Gondanrojo.
”Ada tanah ganjaran (hadiah). Disitu dulu tahun 1980-an memang ada bekas-bekas bangunan. Masyarakat sekitar meyakini masjid Blitung yang pertama. Disitu juga ada tempat wudu Kalimati. Seperti lubang, langsung ke sumbernya,” katanya.
Dari Gondarojo, Kalipang dipindah dukuh Semanding, Kalipang. Atau selatan jembatan Kalipang. Orang meyakini ada tegal masjid. Juga ada bekas-bekas bangunan kuno. Sama disana tidak ada jamaah memakmuran masjid akhirnya dipindah dukuh Blitung. (noe)
Editor : Ali Mustofa