TAK hanya masjid, di area makam Ki Ageng Selo juga ada peninggalan Lemari Petir.
Bentuknya seperti almari biasa, tetapi di dalamnya ada lampu uplik untuk menyalakan api penerangan.
Lemari api petir terdapat di sebelah utara makam Ki Ageng Selo.
Di dalamnya terdapat pelita atau lampu teplok yang konon apinya berasal dari petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo.
Almari itu dibuka saat ada ritual pengambilan api pada bulan Muharram dan Maulid oleh rombongan dari Keraton Surakarta Hadiningrat.
Di kompleks makam Ki Ageng Selo juga ada Masjid Ki Ageng Selo berada di sebelah timur makam.
Selain itu, ada Lemari Petir dan di lokasi makam juga ada pohon gandri (bridelia monoica) atau kadang disebut pohon gandrik.
Pohon ini diyakini tempat mengikat petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo.
Penjaga Masjid Ki Ageng Selo Tawangharjo Rifai menuturkan, Ki Ageng Selo juga meninggalkan Sawah Mendung atau Sawah Udreg sebagai tempat Ki Ageng Selo udreg-udregan atau bergelut melawan petir.
Sawah itu sering juga disebut dengan Sawah Mendung. Dimungkinkan karena saat menangkap petir itu langit sedang kondisi mendung.
Lokasinya berjarak sekitar 300 meter di sebelah barat makam Ki Ageng Selo.
Rifai menjelaskan, warga sekitar punya kepercayaan larangan atau pepali dari Ki Ageng Selo.
Berupa tidak berjualan nasi dan menanam waluh di depan rumah. Hingga sekarang, larangan itu masih dipatuhi masyarakat setempat.
”Ki Ageng Selo membuat pepali dalam bahasa Jawa. Pepali-ku ajinen mbrekati tur selamet sarta kawarasan, pepali iku mangkene: Aja agawe angkuh, aja ladak lan jail, aja ati serakah, lan aja celimut, lan aja mburu aleman, aja ladak, wong ladak pan gelis mati lan aja ati ngiwa.
Artinya: “Laranganku hargailah supaya memberkahi dan selamat serta kesehatan, laranganku seperti berikut: Jangan berbuat angkuh, jangan bengis dan jangan jahil, jangan hati serakah (tamak), dan jangan panjang tangan, jangan memburu pujian, jangan angkuh, orang angkuh cepat mati, dan jangan cenderung ke kiri,” ungkapnya. (mun/lin)
Editor : Ali Mustofa