Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jarang Diketahui, Ternyata Fir'aun Terkenal sebagai Raja sekaligus Pemimpin yang Baik. Ini Alasannya

Noor Syafaatul Udhma • Minggu, 16 Juni 2024 | 04:53 WIB
Patung
Patung

SEBAGIAN dari kita pasti mengenal Fir'aun, Raja Mesir yang terkenal zalim, bengis terhadap rakyatnya, serta memusuhi Nabi Musa.

Semua itu benar, bahkan banyak ayat Alquran yang menjelaskan mengenai kezaliman Fir'aun serta azab yang didapatnya karena perbuatannya.

Namun, dalam sudut pandang kepemimpinan, Fir'aun adalah wujud pemimpin yang hebat. Fir'aun yang dikenal bengis terhadap para Bani Israil, setiap ada bayi. 

Laki-laki yang lahir dari Bani Israil akan dibunuhnya karena takut akan ramalan yang menggambarkan bahwa di masa depan Fir'aun akan digulingkan tahtanya oleh seorang laki-laki dari Bani Israil.

Baca Juga: Rekomendasi Wisata Aesthetic di Semarang, Cocok Jadi Tempat Hunting Foto!

Fir'aun merupakan Raja Mesir. Sebagai raja yang mewarisi tahta Mesir dari Fir'aun-Fir'aun yang sebelumnya, secara idealis dirinya tentu tidak ingin orang selain bangsa Israil yang jumlahnya sangat banyak menduduki tanah kepemimpinannya. Tentu sebagai pemimpin akan memikirkan, orang non-bangsa Israel bisa saja mengkudeta serta akan berpotensi mendominasi di daratan Mesir daripada rakyat asli, dan itu tentu akan merugikan. 

Bukanlah semestinya seorang pemimpin memiliki harus ideologi seperti itu? demi mempertahankan martabat wilayahnya yang merupakan daratan yang sarat akan peradaban. 

Namun, cara Fir'aun dalam mengimplementasikan ideologinya yang menjadi kesalahan besar sehingga dirinya dikenal sebagai raja yang sangat zalim.

Dengan bengisnya membunuh banyak anak tak berdosa secara membabi buta. Di zaman sekarang disebutnya genosida dan tidak ada pembenaran apapun soal hal itu. 

Baca Juga: Ziarah Makam Bu Nyai Hamdanah Kudus Dipercaya Cepat Datangkan Jodoh, Bagaimana Awal Mulanya?

Bahkan memusuhi utusan Allah juga menjadi kesalahan fatal baginya. Padahal, Nabi Musa mendapatkan misi adalah untuk membawa Bani Isra'il untuk berhijrah ke kampung halamannya.

Bukan untuk memusuhi Fir'aun. Semestinya hal itu sejalan dengan tujuan Fir'aun yang ingin mempertahankan kedaulatan negerinya.

Namun, mengurus Bani Isra'il bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk mengurus Bani Israil Allah juga mengutus satu lagi utusan yakni Nabi Harun. 

Pro-kontra Nabi Musa dengan Fir'aun karena Nabi Musa memiliki hak untuk mengingatkan bahwa apa yang dilakukan Fir'aun sangat tidak manusiawi kepada Bani Isra'il.

Fir'aun yang menolak perkataan Nabi Musa, malah marah. Tentu Nabi Musa dan seluruh bangsa Israil kabur dari Mesir. Lah buat apa Fir'aun pake acara nguber-nguber Nabi Musa segala?

Akhirnya mati kan?

Tidak sampai situ, masalah Fir'aun yang sudah selesai serta misi Nabi Musa untuk membawa kembali hijrahnya kaum Bani Israil ke kampung halamannya belum selesai.

Baca Juga: Dari 18 Pendaftar Cabup-Cawabup PPP Jepara, hanya Empat Orang yang Lengkapi Berkas Administrasi, Siapa Mereka?

Dalam perjalanannya menuju kampung halaman, muncul amsalah internal salah satunya tragedi Samiri yang membuat patung anak sapi dari emas yang dapat berbicara.

Awalnya Kaum Bani Israil yang sudah beriman karena melihat mukjizat Nabi Musa lambat laun mulai goyah. Mereka justru mulai disesatkan dengan patung anak sapi tersebut dan 

menganggap bahwa patung itu juga merupakan hal yang patut untuk disembah selayaknya Tuhan karena keajaibannya yang dapat berbicara. 

Konon berdasarkan sejarah, dalam perjalanan Hijrah tersebut Nabi Musa dan Nabi Harun meninggal dengan keadaan Bani Israil yang masih dalam kesesatan. 

Tidak ada yang sampai kembali ke kampung halamannya, yang akhirnya sampai di tanah leluhur hanya anak cucu yang lahir dalam masa kesesatan. (lut/x)

Editor : Noor Syafaatul Udhma