Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Catat Baik-baik, Begini Tips Membangun Kepercayaan Diri yang Wajib Kamu Coba

Ali Mustofa • Sabtu, 25 Mei 2024 | 14:28 WIB
Ilustrasi: Percaya diri
Ilustrasi: Percaya diri

KUDUS - Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia wajib memiliki rasa percaya diri untuk mendorong kemajuan dalam hidupnya.

Dengan rasa percaya diri, diharapkan mampu menyelesaikan rintangan dan tantangan dengan cara yang terbaik.

Sehingga kontribusinya dapat diakui oleh orang lain dan lingkungannya.

Gampangnya begini, kita yakin dengan kemampuan yang kita miliki, yaitu harus menanamkan percaya diri yang sebenarnya, “saya bisa”.

Seringkali istilah rasa percaya diri dikonotasikan negatif, yaitu kesombongan.

Padahal percaya diri dan kesombongan adalah dua hal yang berbeda.

Kesombongan adalah merasa bangga diri (ujub), bahwa semua prestasi yang dicapainya melebihi yang dimiliki oleh orang lain, dan berujung kepada menghina orang lain.

Dengan kata lain, selagi dia tidak menghina orang lain itu masih belum disebut kesombongan, tapi masih ujub (bangga diri).

Sedangkan rasa percaya diri adalah sesuatu yang penting dan wajib dipunyai seseorang apabila ingin sukses di sektor dan bidang apapun.

Orang yang percaya diri selalu optimis dalam menjalankan segala sesuatu, dan berkeyakinan bahwa dia punya kemampuan.

Ia berani mengambil risiko, menghadapi tantangan, dan tetap teguh dalam mencapai tujuan.

Mereka memiliki pandangan yang positif terhadap setiap situasi yang dihadapi, sehingga lebih mudah untuk menemukan solusi dalam menghadapi permasalahan.

Orang yang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi cenderung dapat bekerja secara aktif, menjalankan tugas dengan baik, dan bertanggung jawab.

Dalam agama, manusia juga diajarkan untuk memiliki rasa percaya diri dan tidak mudah putus asa.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al Imran ayat 139.

Artinya: "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman".

Sayangnya, tidak semua orang memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

Bahkan ada beberapa orang yang rendah diri -merasa diri mereka tidak mampu dan tidak layak.

Misalkan Si Fulan merasa percaya diri dalam beberapa situasi, tetapi kepercayaan diri itu tiba-tiba sirna dalam situasi lainnya.

Ia menjadi pemalu, gugup, gelisah dan canggung bagaikan ikan yang terperangkap di dalam jaring.

Sebagaimana kita ketahui, penyebab munculnya rasa kurang percaya diri ada beragam dan berbeda setiap orang.

Ada yang kurang percaya diri karena pernah mengalami pengalaman yang buruk, pernah mengalami penindasan, maupun trauma.

Ada pula yang kurang percaya diri karena pengaruh pola asuh semasa kanak-kanak. 

Untuk meningkatkan percaya diri bukanlah kemampuan yang datang dengan sendirinya, melainkan harus dilatih.

Tidak ada kata terlambat untuk mempelajari sesuatu, termasuk untuk mempelajari cara meningkatkan rasa percaya diri dengan mencari akar dari rasa kurang percaya diri yang Anda alami.

Langkah awal untuk meningkatkan kepercayaan diri sendiri dengan mengenali diri sendiri, yaitu sadar diri (self awareness).

Kesadaran diri adalah kemampuan individu dalam mengenali dan memahami diri sendiri secara menyeluruh, mulai dari memahami sifat, watak, perasaan, emosi, cara pandang, pikiran, dan cara beradaptasi dengan lingkungannya.

Sadar diri merupakan sikap mental yang mendorong dan mengarahkan tindakan.

Orang yang sadar diri itu pandai mengukur diri. Dia tahu lemahnya dan kelebihannya dimana. Kapan harus kritis dan tahu kapan harus realistis.

Sayangnya, kita diajarkan dan telanjur terbiasa mengidentikkan sikap sadar diri dengan rendah diri.

Padahal, sikap percaya diri dan sadar diri bisa saling melengkapi. Keduanya saling berkontribusi.

Manakala kita bertekad ingin mencapai sesuai dan memprioritaskannya, sikap sadar diri mengawalinya dengan perhitungan sematang mungkin.

Memastikan agar sumber daya yang kita miliki cukup, sehingga bisa digunakan secara efektif dan efisien, tidak dimubazirkan.

Dengan kata lain, kita tahu apa yang penting untuk kita fokus dan kembangkan sehingga tidak terkekang oleh keterbatasan dan kondisi yang tidak mendukung.

Ketika seseorang percaya atas kemampuan dirinya, akan mudah untuk melakukan sesuatu hal yang baru dan menaruh semua energinya untuk hal tersebut. Sekalipun menghadapi masa-masa sulit.

Ingatlah bahwa diri ini merupakan pribadi yang unik, spesial, berharga, dan pantas untuk meraih kebahagiaan atau keberhasilan.

 

Apa itu percaya diri?

Percaya diri (self-confident) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan diri sendiri.

Dengan demikian, rasa percaya diri dimaknai sebagai kemampuan individu untuk memahami dan meyakini seluruh potensi dirinya, agar dapat dipergunakan dalam menghadapi penyesuaian diri dengan lingkungan hidupnya.

Rasa percaya diri bukan terbentuk dari sejak lahir atau keturunan. Melainkan melalui proses sosialisasi yang telah dijalani selama perjalanan hidupnya.

Dengan kata lain, rasa percaya diri terbentuk dari berbagai macam pengalaman yang terjadi pada saat berinteraksi sosial, baik dengan lingkungan yang baru ataupun dengan lingkungan yang lama.

Percaya diri itu akan sangat bermanfaat jika dilakukan dalam kadar yang pas, terukur.

Ketika kadar percaya diri itu berlebihan disebut kepedean (over-confident). Hal ini bisa menimbulkan dampak buruk pada orang-orang di sekitarnya.

Orang yang terlalu percaya diri cenderung menunjukkan ketidaksabaran, kurang menghargai pendapat orang lain, terlalu keras kepala, dan menolak masukan orang lain.

Sikap terlalu percaya diri menimbulkan frustasi dan stres ketika dihadapkan pada tantangan. Mereka merasa kesulitan untuk mengatasi hasil yang tidak terduga.

Sebaliknya ketika rasa percaya diri kadarnya rendah, maka disebut rendah diri (inferior).

Rendah diri dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengalaman buruk, rasa takut akan kegagalan, kurangnya pengakuan atau penghargaan, dan juga kondisi kesehatan mental yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang.

Orang yang memiliki sikap rendah diri cenderung merasa bahwa mereka tidak cukup baik, tidak berharga, atau meragukan kemampuan mereka sendiri.

Orang rendah diri cenderung menganggap dunia itu tidak bersahabat dengannya, dan selalu berasumsi kalau dia adalah korban dari segala macam situasi.

Yang menjadi masalah, kapan orang itu muncul dalam dirinya keyakinan Tuhan Yang Maha Kuasa. Yaitu mengandalkan kepada kekuasaan Tuhan yang unlimited.

Allah SWT memerintahkan manusia untuk selalu meningkatkan iman dan takwa.

Takwa adalah sikap seorang hamba kepada Allah SWT dengan melaksanakan semua perintahnya, menjauhi larangannya, dan menjaga diri agar terhindari dari api neraka atau murka Allah.

Apa sih urgensinya takwa bagi kita umat manusia?

Ternyata predikat takwa yang diperintahkan oleh Allah SWT itu sangatlah penting bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 194.

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Oleh karena itu, dengan bekal takwa kita akan mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah SWT.

Di antaranya diberikan jalan keluar ketika menghadapi kesulitan, diberikan rizki dari jalan yang tiada terduga.

Bahkan akan dibela atau dilindungi oleh Allah SWT, serta hidupnya dalam keadaan diberkahi. 

Sesuai firman-Nya: "Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar untuknya, Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS At-Thalaq: 2-3).

Dengan demikian, untuk mencapai suatu tujuan diperlukan niat atau tekad sambil memohon bantuan Tuhan.

 

Perbaiki Niat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), niat adalah maksud atau tujuan suatu perbuatan.

Niat ialah keinginan terpendam dalam hati untuk mencapai sesuatu.

Niat itu tekad dan kehendak kuat untuk melakukan sesuatu. Benihnya ada di dalam hati sebelum mewujud dalam kenyataan.

Sejatinya, niat hanyalah urusan seorang hamba dengan Allah SWT, sebab tidak ada satu orang pun yang mengetahui pasti niat orang lain.

Kandungan niat terdiri dari keinginan, harapan, dan kehendak. Karenanya kita harus senantiasa memperbaiki niat dan meluruskannya.

Itulah pentingnya sebuah niat dalam segala perbuatan. Tanpa niat, perbuatan tersebut akan sia-sia dan tidak memiliki arti apa-apa.

Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya." (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam rumus agama, semua persoalan ditentukan oleh maksud seseorang ketika melaksanakannya.

Dengan niat, kita memohon bantuan Allah SWT karena tidak ada sesuatu yang dapat tercapai kecuali atas bantuan-Nya.

Berniatlah dengan niat yang baik. Kalau memang itu tidak dapat terlaksana, yakinlah bahwa Allah tidak menyia-nyiakan niat Anda.

Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan kita untuk berdoa dalam memulai segala hal.

Doa juga membangun kepercayaan diri. Makanya orang kalau mau mengerjakan sesuatu ketika dia berdoa lebih kuat.

Dalam kehidupan sehari-hari, saat Anda sulit melakukan sesuatu, pastinya akan berusaha minta tolong kepada yang lebih kuat.

Contohnya, ada seorang usil pada Anda, maka Anda pun meminta tolong pada yang lebih kuat atau lapor kepada yang berwenang dan sebagainya, kenapa?

Karena sifat dan fitrah manusia saat dalam kondisi lemah mencari yang lebih kuat, alias "dekengan".

Pertanyaannya, siapa yang lebih kuat dibandingkan dengan Allah SWT?

Siapa yang memberikan kekuatan pada kita lebih dibandingkan apa yang Allah SWT berikan?

Ada perumpamaan. Dua orang yang melakukan suatu perbuatan yang sama pada waktu yang sama dengan alat yang sama bisa berbeda nilainya di sisi Tuhan.

Hal ini karena perbedaan niat mereka. Niat seseorang lebih baik dari amalnya.

Misalkan, ada dua anak mendaftar tes perguruan tinggi negeri (PTN), kedua-duanya tidak lulus.

Mereka memberikan jawaban berbeda atas kegagalannya.

Si A dia menanggapinya dengan tersenyum karena sejak dulu dirinya memang tidak yakin diterima. Sedangkan Si B kecewa berat, kenapa bisa demikian?

Sebab, Si B sejak kelas 1 SMA ranking 1, kelas 2 ranking 1, kelas 3 rangking 1, ditambah lagi oleh orangtuanya dikursuskan ke bimbingan belajar (bimbel).

Dia terlalu yakin "pasti" lulus. Namun ketika tidak lulus, ia mengalami kekecewaan.

Bisa dikatakan, Si A mempunyai rasa tidak percaya diri (rendah diri). Sedangkan Si B memiliki percaya dirinya berlebihan, alias kepedean.

Contoh lagi, seorang petani, dia menanam padi mengikuti SOP yang sesuai dengan penyuluhan pertanian. Kapan tanam, kapan dipupuk, dan sebagainya.

Semuanya dijalankan dengan keyakinan "pasti" jadi.

Menjelang panen, padinya tiba-tiba terserang hama (wereng, tikus), akhirnya gagal panen. Ia juga mengalami kekecewaan mendalam.

Kedua contoh diatas menunjukkan ketika manusia bergantung pada amalnya (kemampuannya), kemudian hasilnya tidak sesuai harapannya dia merasa putus asa dan kecewa.

Hal ini sesuai yang dikatakan Syekh Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam.

“Di antara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugerah Allah) ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa”.

Menurut Ibnu Athaillah, manusia wajib berpegang teguh kepada Allah SWT dalam segala keadaan, bahkan dalam urusan rezeki sekalipun, bukan kepada yang lain.

“Jangan sekali-kali hatimu merasa ada sesuatu selain Dia yang dapat memberi manfaat atau memberi bahaya kepadamu, dan tentu ini tidak akan terjadi”. (top)

Editor : Ali Mustofa
#saya bisa #potensi #Optimis #doa #Sadar Diri #niat #percaya diri #rendah diri #Tuhan #Allah SWT #Ibnu Athaillah #takwa #kesombongan #manusia