Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pentingnya Saling Berwasiat tentang Kesabaran dalam Surat Al Ashr

Ali Mustofa • Selasa, 16 April 2024 | 20:40 WIB
NGAJI: Rahmat, warga binaan Rutan Kelas II B Rembang yang hafal Alquran (kanan) bersama para warga binaan lain di Musala At-Taubah Rutan Kelas II B Rembang.
NGAJI: Rahmat, warga binaan Rutan Kelas II B Rembang yang hafal Alquran (kanan) bersama para warga binaan lain di Musala At-Taubah Rutan Kelas II B Rembang.

KUDUS - Dalam kehidupan sehari-hari, manusia beriman dan beramal salih berusaha untuk menguasai seluruh aspek kehidupan, baik spiritual maupun dunia.

Namun, di antara mereka tidak jarang yang hanya terlalu fokus pada urusan dunia tanpa memperhatikan kebutuhan akherat, begitu pula sebaliknya.

Meskipun begitu, menjadi manusia beriman dan beramal salih ternyata belumlah sempurna.

Tanpa dibarengi dengan mendakwahkan kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ashr ayat 1-3.

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”.

Kandungan surat Al Ashr ini mengajarkan kepada manusia betapa pentingnya memanfaatkan waktu dengan baik, juga mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Serta melakukan perbuatan baik dan saling mendukung dalam kebenaran dan kesabaran.

Pertanyaannya, kenapa manusia dianjurkan untuk berwasiat dengan kesabaran?

Jadi kalau manusia hanya beriman dan beramal salih, itu boleh jadi hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi manusia sebagai makhluk sosial harus memperhatikan orang lain.

Dengan saling mewasiyati atas kebenaran dan kesabaran inilah manusia bisa meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Ini menunjukkan bahwa dengan iman, amal baik dengan kebenaran dan kesabaran, manusia terhindar dari kerugian.

Melalui pemahaman ini, manusia nantinya dapat merenungkan bagaimana seharusnya memanfaatkan waktunya dengan baik.

Kemudian menjalani usaha dengan itikad baik dan saling mendukung untuk mencapai kebenaran dan kesabaran supaya tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.

Pertanyaan berikutnya, apakah kita tidak menyadari, setelah manusia beriman, beramal salih, dan berdakwah, kemudian tidak diberi cobaan?

Allah SWT beriman dalam Surat Al Ankabut: 1. Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Itulah sebabnya menjalankan dakwah dengan kesabaran dan taat kepada Allah SWT adalah tugas yang berat.

Karena manusia pada dasarnya cenderung tidak tahan menghadapi cobaan, penderitaan, dan kesulitan.

Hal ini ditegaskan dalam Surat Yusuf ayat 108.

Allah SWT berfirman: "Katakanlah, 'Inilah jalan agamaku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”

Ada tiga tingkatan sabar bagi manusia. Yaitu sabar yang paling berat adalah menjauhi maksiat.

Maksudnya, manusia itu mudah melakukan maksiat, karena pada dasarnya jiwa manusia itu suka terhadap hal-hal yang buruk dan menyenangkan yang identik dengan perbuatan maksiat.

Kemudian sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT. Ini berarti mempraktikkan ketaatan kepada Allah SWT memang memerlukan kesabaran.

Sebab pada dasarnya jiwa manusia itu cenderung enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan.

Serta sabar menghadapi cobaan dan ujian dari Allah SWT.

Artinya, manusia itu harus selalu sabar ketika diberi cobaan dan musibah dari Allah SWT, baik berbentuk materi maupun nonmateri.

Contohnya seperti kehilangan harta kekayaan, kehilangan orang yang sangat dicintai dan musibah lainnya.

Lalu, apa itu makna sabar? Sabar memang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan.

Tidak mudah untuk sabar, karena sabar butuh waktu dan harus melatih diri agar membiasakan sifat sabar tersebut.

Sabar secara bahasa berarti menahan. Yaitu, menahan gejolak nafsu untuk mencapai yang baik atau yang lebih baik.

Jika merujuk pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sabar mempunyai dua makna.

Pertama, sabar adalah tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati). Dengan kata lain, sabar adalah tabah.

Arti sabar yang kedua adalah sikap tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.

Kemudian, apa itu nafsu bagaimana cara mengalahkan nafsu?

Setiap manusia tentu memiliki nafsu yang menjadi dasar atas segala urusan atau perbuatan yang dilakukannya, entah itu perbuatan baik atau perbuatan buruk.

Nafsu seringkali diidentikkan dengan segala yang buruk seperti emosi atau hasrat yang berhubungan dengan seksual. Sebenarnya nafsu itu sangatlah luas dan mencakup hal.

Para ahli dan pakar ilmu kejiwaan sepakat bahwa dalam setiap diri manusia terdapat apa yang disebut sebagai motive, atau dalam istilah psikologi adalah drive.

Motive atau drive adalah suatu kekuatan ruhaniah yang mendorong manusia untuk berbuat sesuatu.

Tanpa adanya motive atau drive, manusia tidak mempunyai kemauan untuk berbuat sesuatu.

Dalam istilah umum, kekuatan tersebut kita kenal dengan nafsu atau hawa nafsu.

Tanpa adanya nafsu manusia tidak dapat hidup.

Karena tanpa nafsu manusia tidak akan mempunyai kemauan, hasrat atau gairah untuk melakukan suatu perbuatan.

Dengan demikian maka peran nafsu adalah mendorong otak agar memerintahkan anggota tubuh untuk bergerak sehingga jasmani dapat melakukan suatu perbuatan.

Dorongan nafsu kepada otak bisa bersifat positif atau negatif. Karena nafsu mempunyai dua sisi yang bertolak belakang yaitu sisi positif dan negatif.

Nafsu positif akan mendorong ke arah kebajikan, sedangkan nafsu negatif akan mendorong kearah keburukan.

Seperti kita ketahui, bahwa nafsu negatif lebih kuat pengaruhnya dibanding nafsu positif.

Karena nafsu negatif cenderung mengarahkan ke perbuatan yang lebih mudah dan lebih menguntungkan.

Dengan demikian maka nafsu cenderung mendorong ke arah keburukan, sehingga bisa dikatakan bahwa nafsu negatif lebih dominan dibanding nafsu positif.

Namun, disisi lain nafsu akan sangat berbahaya dan dapat mencelakakan manusia apabila ia tidak dikendalikan dengan baik.

Jadi sesungguhnya nafsu mempunyai dua sisi yaitu positif dan negatif. 

Diketahui, pangkal segala macam maksiat dan berpaling dari Allah SWT adalah suka menuruti hawa nafsu.

Sumber dari segala ketaatan dan mengenal Allah SWT karena tidak mau menuruti nafsu.

Allah berfirman dalam Surat Al Isra ayat 72.

Artinya: “Barang siapa yang ketika di dunia buta (tidak mengetahui sifat nafsunya), maka di akhiratnya juga buta (dari makrifat Allah)”.

Demikian halnya dengan nafsu, ia akan sangat bermanfaat bila dapat dikendalikan dengan baik, dan akan menjerumuskan bila tidak tidak dikendalikan dengan baik.

Lantas siapa yang berperan mengendalikan nafsu? Ia adalah qalbu.

Imam al-Ghazali berkata, dalam beribadah kepada Allah SWT, ‘abid (orang yang beribadah) disibukkan oleh penghalang-penghalang yang terdiri dari empat macam, yaitu dunia, makhluk, setan dan nafsu.

Sementara itu cara mengalahkan nafsu bukan perkara mudah.

Menurut al-Ghazali, perlu ada trik khusus untuk mengalahkan nafsu tersebut, dimana trik itu sudah teruji pada orang-orang sufi dalam jihad mereka menguasai nafsu.

Trik tersebut yang telah digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam kitabnya al-Hikam, yaitu dengan cara mengenali nafsu terlebih dulu.

Mengenali ajakan nafsu adalah dengan cara membedakan antara ajakan nafsu dengan ajakan Allah SWT.

Ibnu Athaillah berkata, “Apabila ada dua hal yang tidak jelas bagimu, lihatlah mana di antara keduanya yang paling berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia karena tidaklah terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu yang benar.”

Ajakan Allah SWT adalah yang lebih berat dikerjakan, sedangkan ajakan nafsu lebih ringan dikerjakan.

Dalam aktivitas sehari-hari, kita biasanya dililit dua hal yang kabur, apakah melakukannya atau meninggalkannya.

Contohnya, mengerjakan shalat berjamaah pada awal waktu, ataukah mengerjakan shalat sendiri pada akhir waktu.

Mengerjakan shalat berjamaah pada awal waktu sangat berat bagi nafsu, karena menggangu kesantaiannya, kelalaiannya dan kesenangan atau aktivitas duniawinya.

Karena itu, ikutilah ajakan Allah SWT dan palingkan dari ajakan nafsu itu dengan tegas.

Ajakan nafsu tidak hanya pada yang jelas berlawanan dengan syariat, tapi terkadang juga ada dalam ibadah yang sukar dikenali oleh umum manusia.

Dengan demikian, disaat kita dituntut untuk saling nasihat-menasehati kebenaran dan kesabaran, kita harus senang menerima nasehat terlebih dahulu.

Itulah orang yang bisa memberi nasehat. Sebab, kalau kita tidak suka dinasehati, tentu pasti sulit bagi kita memberi nasehat. Karena kita tidak tahu apa yang akan kita sampaikan.

Andaikata waktu kita gunakan dengan melatih diri dari waktu ke waktu semakin terkendali, baik itu lisan, pikiran, nafsu, sahwat, amarah, semakin kita bisa mengendalikan diri, semakin indah hidup kita dengan kesabaran.

Sejatinya Allah SWT menyerukan kepada para hamba-Nya untuk mengendalikan pikiran, karena melalui pikiran-pikiran itulah, nasib mereka ditentukan.

Sebagian orang mungkin membiarkan pikirannya untuk terjerumus dalam kemaksiatan atau sesuatu yang akan menimbulkan murka Allah SWT.

Mereka kemudian yakin akan mampu memperbaiki hal tersebut dan kembali kepada Allah SWT. Jelas ini dilarang.

Karena itulah manusia dibekali akal, pikiran, dan ilmu. Untuk menjalani kehidupan beragama, manusia haruslah didasari oleh ilmu dan iman yang didukung oleh pengetahuan.

Semoga setiap waku yang kita jalani bisa menguatkan iman, menjadi amal salih, menjadi dakwah, dan jadi semakin indah dengan kemuliaan akhlakul karimah. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Allah SWT #sabar #surat al ashr #manusia #Kesabaran