Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Memaknai Isi Kandungan Surat Al Ashr tentang Berbuat Baik

Ali Mustofa • Jumat, 12 April 2024 | 13:08 WIB
Belasan Karyawan Jawa Pos Radar Kudus ngaji bareng KH Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) di Kediamannya di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, beberapa waktu lalu.
Belasan Karyawan Jawa Pos Radar Kudus ngaji bareng KH Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) di Kediamannya di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, beberapa waktu lalu.

KUDUS - Kesuksesan adalah impian setiap orang. Namun setiap orang memiliki persepsi yang berbeda tentang makna kesuksesan.

Sebagian mungkin menjawab dan beranggapan bahwa arti kesuksesan diukur dengan banyaknya harta, karir yang cemerlang, pendidikan yang tinggi, punya perusahaan, jadi orang besar dan terkenal, dan sebagainya.

Sementara sebagian lagi berpendapat, bahwa arti kesuksesan manakala berhasil meraih cita-citanya.

Tentu sah-sah saja setiap orang mempunyai pendapat tentang hal tersebut.

Meskipun demikan, akan menjadi kerugian besar jika kesuksesan yang diraihnya tersebut tidak membawa ketaatan kepada Allah SWT.

Lalu bagaimana hakekat kesuksesan manusia menurut Surat Al Ashr?

Allah SWT berfirman: “Wal ashri. Innal insaana lafii khusr. Illalladziina aa manuu wa amilus shalihaati watawa saubil haqqi wa tawaa saubis sabr.” (QS. Al Ashr: 1-3).

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Allah SWT sendiri juga telah memerintahkan kepada manusia untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

Dengan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebagai bagian dari peningkatan takwa itu, manusia perlu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Sebab, waktu merupakan hal paling berharga.

Begitu berharganya waktu, sampai-sampai orang Barat menganalogikannya dengan emas.

Sebagaimana kita ketahui, emas merupakan logam mulia yang memiliki harga tertinggi. Artinya, waktu memiliki harga paling tinggi dari apapun.

Bahkan orang Arab juga mengumpamakan waktu dengan sebilah pedang. Jika kita tidak bisa menggunakannya, justru kita sendiri yang bakal ditebas olehnya.

Perumpamaan tersebut mengingatkan kita agar benar-benar memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.

Caranya dengan melakukan kegiatan atau aktivitas yang positif dan produktif, yang memberikan manfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain.

Apabila seseorang mendapatkan kesuksesan setelah ia memiliki keimanan, maka ia wajib mengamalkannya dengan perbuatan, seperti melakukan amal kebaikan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Sebab iman dan amal saleh tidak dapat dipisahkan. Iman tanpa amal saleh tidak cukup.

Begitu juga sebaliknya, di mana amal tanpa iman, tidak memiliki arti di hadapan Allah SWT.

Dengan kata lain, jika salah satu dari keduanya tidak ada, maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang.

Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma.

Amalan ketaatan atau amal saleh adalah bukti dari keimanan seseorang. Allah SWT telah berfirman dalam Al Baqarah ayat 82.

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.”

Begitu juga dalam Surat Al Mu’min ayat 40.

Allah SWT berfirman: “Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.”

Amal itu menggunakan daya. Misalkan, kalau kita berpikir dan berkata menggunakan daya kalbu, maka kita sudah disebut beramal, karena itu niat amal.

Kemudian, saat kita berimajinasi juga beramal, yaitu dengan menggunakan daya fisik.

Tetapi yang dituntut dari kita bukan sembarang amal, melainkan amal saleh, yaitu yang bermanfaat untuk diri sendiri atau lingkungan sekitar.

Kata "saleh" berasal dari bahasa Arab yang berarti baik atau benar.

Beramal saleh dapat diartikan sebagai melakukan kebaikan yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam.

Amal saleh adalah perbuatan baik yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah atau menunaikan kewajiban agama.

Dalam konsep ini, terdapat dua aspek utama yang meliputimya, yaitu amal ibadah dan amal jariyah.

Amal ibadah adalah perbuatan yang berwujud pengabdian seseorang hamba kepada Allah SWT, seperti salat, puasa, zakat, haji, serta menjauhkan diri dari larangan Allah SWT.

Amal ini merupakan hubungan vertical antara manusia dengan Allah SWT, yang disebut sebagai hablumminallah.

Sementara itu, amal jariyah adalah perbuatan baik yang dilakukan untuk kepentingan masyarakat (umum) tanpa mengharapkan pamrih.

Perbuatan baik ini diciptakan melalui hubungan horizontal antara sesama manusia atau sesama makhluk Allah SWT yang disebut sebagai habluminannas.

Misalnya bersedekah, berbuat baik terhadap sesama, menghormati dan menghargai orang lain yang lebih tua, membangun masjid, jembatan, membaca buku, atau karya pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain.

Jadi, beramal saleh adalah suatu konsep dalam Islam yang mengajarkan umatnya untuk melakukan perbuatan baik dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep beramal saleh merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama, menjaga keadilan, dan mengembangkan nilai-nilai moral yang baik.

Dengan demikian, amal saleh adalah setiap perbuatan yang membawa manusia ke dalam kemaslahatan (manfaat), baik maslahat untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, masyarakatnya, bahkan lebih jauh lagi untuk bangsanya.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menyatakan bahwa amalan yang baik akan mendatangkan kebaikan pula bagi diri sendiri.

Allah SWT berfirman: “Man ‘amila shaalihan min dzakarin aw untsaa wahuwa mu/minun falanuhyiyannahu hayaatan thayyibatan walanajziyannahum ajrahum bi-ahsani maa kaanuu ya’maluuna”. (QS. An-Nahl: 97).

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al Isra ayat 7. 

Artinya: "Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, (berarti) kamu berbuat jahat bagi dirimu sendiri."

Jadi, manusia berada di muka bumi ini diberikan waktu yang terbatas.

Manusia disuruh untuk berlomba-lomba berbuat baik, termasuk berbagai amalan yang dianjurkan dalam iman kita.

Berbuat baik atau beramal saleh maksudnya adalah seakan-akan menyatakan dan membuktikan kebenaran imannya dengan bersama beramal saleh.

Sementara itu, berbuat baik kepada sesama dalam Islam merupakan kewajiban.

Berbuat baik kepada orang lain hakikatnya adalah berbuat baik pada diri sendiri, begitu juga sebaliknya.

Karena itu senantiasalah berbuat baik. Sebab kebaikan itu akan kembali pada diri sendiri secara langsung ataupun tidak.

Janganlah sama sekali berfikir bahwa berbuat baik pada orang lain hanya akan menguntungkan orang lain itu semata.

Sebagai orang yang beriman semestinya menyadari bahwa kebaikan yang dilakukan manfaatnya bukan hanya untuk orang lain saja, tapi juga untuk dirinya.

Lalu bagaimana kita seharusnya berbuat baik?

Allah SWT juga telah mengajarkan kita dalam Al-Qur’an Surat Al Qasas ayat 77.

"...dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah berbuat kerusakan di (muka) bumi".

Berbuat baiklah dengan ikhlas karena Allah SWT, tanpa pamrih (dengan berharap balasan).

Syarat suatu perbuatan dikatakan amal shaleh ialah jika ia dikerjakan ikhlas berharap apa yang ada di sisi Allah SWT dan sesuai dengan teladan Rasulullah SAW.

Perintah mengerjakan amal shaleh selain termaktub dalam surah Al Ashr, dijelaskan juga dalam surah Al Kahfi ayat 110.

Artinya: “Katakanlah, “Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Dalam menjalani hidup ini kita tidak cukup hanya paham secara teori, tapi juga harus diaplikasikan di dalam kehidupan nyata.

Buat apa kita tahu tentang salat kalau tidak pernah salat. Buat apa kita tahu zakat dan tidak pernah zakat. Justru kita tahu ilmu itu sebagai pemandu amal kita.

Jadi orang yang beruntung atau sukses, sudah pasti paham hakekat kebenaran dan mengamalkan kebenaran.

Diketahui, syarat amal itu ada dua. Satu niatnya ikhlas, dan kedua adalah caranya benar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), niat adalah maksud atau tujuan dari suatu perbuatan.

Sejatinya, niat merupakan urusan hamba dengan Allah SWT karena tidak ada seorang pun niat dari orang lain.

Niat juga merupakan tolok ukur suatu amalan. Diterima atau tidaknya suatu amalan juga tergatung pada niatnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Innamal a’malu binniyat, wa innama likullimri’in maa nawaa.” (HR Bukhori dan Muslim).

Artinya: Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dianiatkannya.

Itu sebabnya dalam rumus agama, semua persoalan ditentukan oleh maksud seseorang ketika melaksanakannya.

Dengan niat, kita memohon bantuan Allah SWT, karena tidak ada sesuatu yang dapat tercapai kecuali atas bantuan Allah SWT.

Berniatlah dengan niat yang baik. Kalau memang itu tidak dapat terlaksana, yakinlah bahwa Allah SWT tidak menyia-nyiakan niat kita.

Karena itulah jika ingin hidup menjadi baik, bermakna, dan berkah, maka kita wajib mengikuti petunjuk Allah SWT dan petunjuk Rasulullah SAW.

Kita memang harus selalu berusaha untuk melibatkan Allah SWT dalam setiap kegiatan apapun yang kita jalani. Baik itu kegiatan ibadah, bekerja, dan kegiatan lainnya.

Niat berhubungan dengan hati seseorang dan sifatnya sangat penting.

Seseorang bisa dapat pahala karena niat dan juga bisa mendapat dosa karena niatnya.

Niat ialah keinginan terpendam dalam hati untuk mencapai sesuatu, baik atas dorongan syahwat maupun kehendak suci.

Niat itu tekad dan kehendak kuat untuk melakukan sesuatu. Dengan niat, kehendak Anda akan terpelihara.

Misalnya, jika anda sedang menolong orang lain yang sedang kesulitan maka tolonglah dengan niat tulus membantunya untuk keluar dari kesulitan.

Bukan menolong karena pamrih ingin mendapatkan pujian dari orang lain yang melihatnya.

Allah berfirman dalam surat Al-An'am ayat 162: “inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin.”

Artinya: "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Tuhan Semesta Alam."

Ayat ini menyampaikan pesan bahwa seluruh ibadah, pengorbanan, dan hidup-mati hanyalah untuk Allah, Sang Tuhan Semesta Alam.

Untuk mencapai suatu tujuan, apapun tujuan itu diperlukan niat atau tekad sambil memohon bantuan Tuhan.

Ini mengingatkan manusia untuk mengabdikan seluruh aspek kehidupannya hanya kepada Allah SWT dan menyadari bahwa hidup ini adalah bentuk ibadah dan penghambaan kepada-Nya. (top)

Editor : Ali Mustofa
#berbuat baik #beriman #Allah SWT #surat al ashr #manusia