KUDUS - Setiap orang memiliki waktu yang sama dalam satu hari, yakni 24 jam. Tapi masing-masing orang bisa berbeda pencapaiannya.
Ada yang dengan 24 jam bisa mengurus dunia. Ada yang mampu mengurus perusahaan besar. Bahkan ada juga yang tidak sanggup mengurus dirinya sendiri.
Lalu perbedaannya dimana? Padahal sama-sama diberi waktu 24 jam. Perbedaannya adalah pada menghargai waktu.
Pernahkan Anda mendengar pepatah yang mengatakan 'Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini'.
Ya, sama seperti mengubah nasib, dari hidup serba kekurangan menjadi kaya, merupakan hal yang mungkin terjadi.
Namun perlu disadari, ada cara melepaskan rantai kemiskinan menjadi kaya, yaitu mengubah kebiasaan sehari-hari.
Untuk mengubah kebiasaan memang tidak mudah kalau tidak tahu caranya.
Sebagian orang mungkin berpikir tentang dirinya yang lemah dan tidak mampu mengubah keadaannya saat sedang terpuruk.
Padahal sejatinya Nabi Muhammad SAW telah memberi nasihat tentang optimisme, yang menunjukkan bahwa pikiranmu adalah nasibmu.
Dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Allah berfirman, 'Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah lebih senang dengan taubat hamba-Nya daripada seorang dari kalian yang menemukan barangnya yang hilang di padang pasir. Siapa mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Siapa yang mendekati-Ku satu hasta, Aku mendekatinya satu depa. Jika ia datang menghadap sambil berjalan, Aku datang kepadanya sambil berlari kecil'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Islam telah mengajarkan pentingnya menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketakwaan.
Sayangnya, sebagian orang tidak bisa menggunakan waktu mereka dengan baik, bahkan cenderung menyia-nyiakannya.
Kondisi ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai waktu dan bagaimana cara memanfaatkannya dengan baik.
Lalu, seperti apakah yang dinamakan orang beruntung dalam menggunakan waktu?
Karena pentingnya waktu ini maka Allah SWT telah bersumpah atas nama waktu berkali-kali pada permulaan berbagai surat dalam Al-Quran.
Misalnya bersumpah demi waktu malam (wal-laili), demi waktu siang (wan nahar), demi waktu fajar (wal fajr), demi waktu dhuha (wad dhuha), demi waktu subuh (was subhi), dan demi masa (wal ashri).
Dalam Surat Al Ashr: 1-3, Allah SWT berfirman: “Wal ashri. Innal insaana lafii khusr. Illalladziina aa manuu wa amilus shalihaati watawa saubil haqqi wa tawaa saubis sabr.”
Artinya: Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal salih), serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Kandungan makna yang tersirat dalam surat Al Ashr ini menjelaskan bahwa Allah telah bersumpah atas nama waktu dengan tegas menyatakan celakalah bagi orang yang menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal yang kurang bermanfaat, kecuali orang yang memiliki keimanan dan selalu menjalankan amal saleh saling berwasiat terhadap kebenaran dan kesabaran.
Lalu pertanyaan berikutnya, apa tujuan Allah SWT menciptakan waktu untuk manusia?
Di sini, Allah menciptakan waktu untuk memperingatkan manusia jangan sampai lengah menyangkut waktu. Jangan sampai mengabaikan waktu.
Oleh karena itu, waktu yang diciptakan oleh Allah SWT harus diisi dengan amal bermanfaat, bijaksana dan produktif, yang akan membawa kebaikan dan keselamatan bagi manusia.
Karena pentingnya waktu dalam kehidupan manusia, maka waktu adalah modal utama manusia yang paling berharga.
Jika waktu tidak diisi dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat, ia akan berlalu begitu saja.
Begitu pentingnya dan menandakan bahwa waktu itu merupakan kunci terpenting dalam kehidupan.
Rasulullah SAW juga pernah menasehati untuk memanfaatkan lima perkara sebelum lima perkara.
Yaitu: waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.”
Berdasarkan tafsir Jalalain, dijelaskan bahwa ada banyak manusia dalam keadaan merugi.
Karena ada banyak manusia yang tidak memanfaatkan kehidupan di dunia dengan baik, seperti yang sudah ditunjukkan oleh agama.
Banyak orang hanya sibuk menikmati dunia dan menuruti hawa nafsu. Padahal di dunia ini hanya sementara dan hanya akhirat yang kekal.
Dan dahsyatnya lagi kita pun juga tidak pernah diberi tahu kapan kita meninggal dunia. Sehingga kita harus efektif menggunakan waktu ini sebaik mungkin.
Ada empat kuncinya. Yaitu yang disebut orang beruntung menggunakan waktu adalah: beriman atau paham kebenaran, mengamalkan kebenaran, mendakwahkan Kebenaran, dan saling berwasiat dalam kesabaran.
Semoga setiap waku yang kita jalani bisa menguatkan iman, menjadi amal saleh, menjadi dakwah, dan jadi semakin indah dengan kemuliaan akhlakul karimah. (top)
Editor : Ali Mustofa