RADAR KUDUS - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SMA, SMK, MA, dan sederajat diubah menjadi empat hari. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memecah mata pelajaran wajib ke hari yang berbeda serta menambah waktu pengerjaan menjadi 75 menit per mata pelajaran untuk memberi ruang lebih besar kepada siswa dalam memahami dan menyelesaikan soal.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari evaluasi terhadap penyelenggaraan TKA sebelumnya. Kemendikdasmen menilai pengaturan ujian perlu disempurnakan agar siswa tidak menghadapi terlalu banyak mata pelajaran dalam satu hari. Dengan skema baru, peserta tidak lagi mengerjakan seluruh mata pelajaran wajib secara berdekatan.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menjelaskan perubahan itu dalam webinar Bincang SMA TKA yang ditayangkan melalui kanal YouTube Direktorat SMA. Menurut dia, pemisahan mata pelajaran dilakukan agar beban kognitif siswa tidak menumpuk selama ujian.
"Kami tidak ingin semua peserta TKA menumpuk beban kognitifnya kemudian lelah. Karena itu, tahun ini setiap peserta TKA akan menempuh TKA selama empat hari," kata Rahmawati.
Pada pelaksanaan TKA 2026, setiap hari peserta mengerjakan mata pelajaran yang berbeda. Hari pertama digunakan untuk Bahasa Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan Survei Karakter. Hari kedua diisi Bahasa Inggris dan Survei Lingkungan Belajar. Selanjutnya, Matematika menjadi materi pada hari ketiga, sedangkan dua mata pelajaran pilihan dikerjakan pada hari keempat.
Pengaturan tersebut membuat mata pelajaran wajib tidak lagi terkonsentrasi dalam satu hari. Kemendikdasmen sebelumnya menerima aspirasi agar siswa hanya menghadapi satu mata pelajaran wajib setiap hari sehingga persiapan dan konsentrasi dapat lebih terarah.
Rahmawati mengatakan pembagian tersebut diharapkan membuat siswa dapat mengerjakan soal dengan konsentrasi yang lebih baik dan tidak cepat mengalami kelelahan.
"Harapannya, siswa menjadi lebih fokus, lebih berkonsentrasi, tidak lelah, dan bisa mengerjakan soal-soal mata pelajaran wajib secara optimal," ujarnya.
Selain mengubah jumlah hari, pemerintah juga memperpanjang alokasi waktu untuk tiga mata pelajaran wajib. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika masing-masing mendapat waktu 75 menit. Kebijakan itu memberi tambahan waktu dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
Untuk Bahasa Indonesia, peserta menghadapi 30 soal dalam waktu 75 menit. Jumlah soal Bahasa Inggris juga 30 butir dengan durasi yang sama. Sementara Matematika terdiri atas 25 soal dan tetap diberikan waktu 75 menit.
Dengan pembagian tersebut, secara rata-rata siswa memiliki waktu 2,5 menit untuk setiap soal Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Untuk Matematika, alokasinya mencapai rata-rata tiga menit per soal.
Tambahan waktu tersebut bukan semata-mata untuk memperpanjang ujian. Pemerintah mempertimbangkan karakter soal TKA yang tidak seluruhnya memiliki tingkat kesulitan sama. Ada soal yang dapat dijawab relatif cepat, tetapi terdapat pula pertanyaan yang menuntut siswa membaca informasi, melakukan penalaran, kemudian menghubungkannya dengan konsep yang dipelajari.
Rahmawati menjelaskan siswa tidak perlu mengerjakan soal dengan tergesa-gesa karena waktu yang tersedia telah diperhitungkan berdasarkan karakteristik soal.
"Memang ada soal yang bisa dikerjakan lebih cepat karena tingkat kognitifnya lebih sederhana. Namun, ada juga soal yang membutuhkan pemikiran lebih lama karena harus bernalar, mencerna informasi, dan mentransformasikannya ke dalam konsep Matematika. Karena itu, waktunya diatur dengan baik," jelas Rahmawati.
Karena itu, tambahan waktu 75 menit tidak berarti siswa dapat mengendurkan konsentrasi selama ujian. Rahmawati justru meminta peserta memanfaatkan seluruh waktu yang telah disediakan secara efektif.
"Jadi, tidak perlu merasa terburu-buru atau tergesa-gesa, tetapi juga jangan terlalu santai. Yang pasti, waktu tersebut dapat dioptimalkan sampai detik terakhir," katanya.
Perubahan pola ujian juga membuat TKA 2026 memiliki ritme yang berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada hari pertama, siswa mengerjakan Bahasa Indonesia dan kemudian mengikuti Survei Karakter. Hari kedua diisi Bahasa Inggris dan Survei Lingkungan Belajar. Hari ketiga khusus untuk Matematika, sedangkan hari keempat digunakan untuk dua mata pelajaran pilihan.
Untuk mata pelajaran pilihan, masing-masing diberikan waktu 60 menit dengan 25 soal. Artinya, tambahan durasi menjadi 75 menit tidak berlaku untuk seluruh mata pelajaran TKA. Penambahan waktu tersebut secara khusus diterapkan pada tiga mata pelajaran wajib.
Pemerintah juga mengatur pelaksanaan TKA lintas zona waktu secara serempak. Dengan demikian, peserta yang berada di wilayah Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), maupun Waktu Indonesia Timur (WIT) mengikuti pelaksanaan pada waktu yang sama secara nasional, meskipun jam yang terlihat pada masing-masing wilayah berbeda karena perbedaan zona waktu.
Rahmawati menegaskan tidak ada perbedaan jadwal pelaksanaan berdasarkan zona. Perbedaan yang terlihat pada jam di masing-masing daerah semata-mata merupakan konsekuensi dari pembagian zona waktu Indonesia.
"Maka tidak ada perbedaan waktu antarzona. Perbedaan waktu itu murni merupakan selisih dari zona waktu, sedangkan pelaksanaan TKA dilakukan secara serempak," ujar Rahmawati.
Penyempurnaan ini dilakukan setelah Kemendikdasmen mengevaluasi penyelenggaraan TKA tahun sebelumnya. Pemerintah tidak hanya mengubah durasi pengerjaan, tetapi juga menyesuaikan distribusi mata pelajaran agar siswa memiliki waktu persiapan yang lebih terarah.
Kebijakan satu mata pelajaran wajib dalam satu hari menjadi salah satu perubahan yang paling terasa bagi peserta. Pada skema sebelumnya, beberapa mata pelajaran wajib dikerjakan dalam waktu berdekatan. Untuk 2026, pemerintah memisahkannya menjadi beberapa hari agar konsentrasi peserta tidak terbagi terlalu banyak dalam satu sesi.
Selain pengaturan tersebut, Kemendikdasmen juga mengintegrasikan pelaksanaan TKA dengan Asesmen Nasional (AN). Integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan efisiensi dan kualitas pelaksanaan asesmen pendidikan.
Perubahan TKA 2026 juga mencakup pengembangan pilihan mata pelajaran, termasuk penambahan mata pelajaran kejuruan berdasarkan rumpun program keahlian. Kemendikdasmen menyebut jumlah mata pelajaran kejuruan yang tersedia kini mencapai 50 mata pelajaran.
Bagi siswa, perubahan paling penting tetap terletak pada dua hal: waktu ujian yang lebih panjang dan penyebaran mata pelajaran selama empat hari. Keduanya berkaitan langsung dengan cara peserta mengatur konsentrasi dan waktu ketika mengerjakan tes.
Penambahan durasi menjadi 75 menit juga membuat siswa memiliki waktu lebih luas untuk membaca soal, memahami informasi yang diberikan, melakukan perhitungan, serta meninjau kembali jawaban. Hal ini terutama relevan untuk soal yang membutuhkan penalaran dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kecepatan membaca.
Pada Matematika, misalnya, pemerintah menetapkan 25 soal dengan alokasi 75 menit. Dengan rata-rata tiga menit per soal, peserta memiliki waktu yang lebih longgar untuk menghadapi pertanyaan yang memerlukan proses berpikir dan pengolahan informasi. Rahmawati sebelumnya menjelaskan bahwa pembagian tersebut memang dirancang dengan mempertimbangkan karakter soal Matematika.
Sementara itu, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris masing-masing terdiri atas 30 soal. Dengan waktu 75 menit, rata-rata alokasi pengerjaan mencapai 2,5 menit per soal. Durasi tersebut juga memberikan ruang bagi siswa untuk memahami bacaan dan konteks pertanyaan sebelum menentukan jawaban.
Namun, rata-rata waktu per soal bukan berarti setiap pertanyaan harus diselesaikan dengan durasi yang sama. Pemerintah justru mengingatkan bahwa tingkat kognitif setiap soal berbeda. Karena itu, peserta dapat mengalokasikan waktu secara fleksibel sesuai tingkat kesulitan pertanyaan.
Peserta juga tidak disarankan menghabiskan terlalu banyak waktu pada satu soal. Sebaliknya, waktu tambahan dapat digunakan untuk meninjau pertanyaan yang membutuhkan penalaran lebih panjang sekaligus memeriksa kembali jawaban sebelum sesi berakhir.
Perubahan ini juga memberikan konsekuensi pada persiapan sekolah. Karena ujian berlangsung selama empat hari, sekolah dan peserta perlu menyesuaikan agenda belajar, simulasi, serta kesiapan teknis dengan pola baru tersebut. Pemerintah sebelumnya memajukan masa pendaftaran TKA 2026 agar satuan pendidikan memiliki waktu lebih luas untuk memperbarui data peserta. Pendaftaran dijadwalkan berlangsung 27 Juli hingga 27 September 2026.
Untuk jenjang SMA/SMK/MA dan sederajat, pelaksanaan utama TKA 2026 dijadwalkan berlangsung dalam rentang 26 Oktober hingga 8 November 2026. Jadwal tersebut merupakan rentang pelaksanaan nasional yang mencakup beberapa gelombang.
Gelombang pertama dijadwalkan pada 26-29 Oktober, sedangkan gelombang kedua berlangsung 2-5 November. Untuk gelombang khusus, pelaksanaannya dijadwalkan pada 31 Oktober-1 November serta 7-8 November.
Dengan jadwal tersebut, perubahan TKA 2026 bukan sekadar penambahan hari pelaksanaan. Pemerintah mengubah cara peserta menjalani rangkaian ujian dengan memisahkan mata pelajaran wajib, memperpanjang waktu pengerjaan, serta menyelaraskan pelaksanaan antarzona waktu.
Dari sisi peserta, tujuan utamanya adalah memberikan kondisi pengerjaan yang lebih terukur. Siswa tidak harus menghadapi beberapa mata pelajaran wajib dalam satu hari dan mendapat waktu yang lebih panjang untuk menyelesaikan soal yang menuntut penalaran.
Kebijakan itu juga menunjukkan bahwa evaluasi terhadap penyelenggaraan sebelumnya tidak berhenti pada penilaian hasil ujian. Pemerintah turut mengevaluasi pengalaman peserta selama proses asesmen, termasuk persoalan beban kognitif dan kecukupan waktu pengerjaan.
Dengan format baru tersebut, peserta TKA 2026 perlu memahami bahwa tambahan waktu bukan berarti soal menjadi lebih mudah. Justru waktu yang tersedia disesuaikan dengan karakter pertanyaan agar siswa memiliki kesempatan lebih baik untuk membaca, berpikir, dan memberikan jawaban.
Pesan pemerintah kepada peserta pun relatif jelas: manfaatkan waktu secara efektif, jangan panik, tetapi tetap menjaga ritme pengerjaan. Sebab, meskipun satu mata pelajaran mendapat waktu 75 menit, peserta tetap harus menyelesaikan seluruh soal dalam durasi yang telah ditentukan.
Perubahan TKA 2026 pada akhirnya membuat pola ujian menjadi lebih tersebar. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika tidak lagi menumpuk dalam satu rangkaian hari, sementara dua mata pelajaran pilihan ditempatkan pada hari keempat.
Bagi siswa yang akan mengikuti TKA, memahami format baru sejak awal menjadi bagian penting dari persiapan. Selain menguasai materi, peserta perlu membiasakan diri membaca soal secara cermat, mengatur waktu, dan menggunakan tambahan durasi untuk soal yang memang membutuhkan proses penalaran lebih panjang.
Kemendikdasmen berharap penyesuaian tersebut membuat peserta dapat menjalani TKA dengan kondisi yang lebih fokus dan tidak cepat lelah. Perubahan dari dua hari menjadi empat hari serta penambahan durasi menjadi 75 menit menjadi bagian utama dari penyempurnaan TKA 2026 setelah evaluasi pelaksanaan sebelumnya.
Dengan demikian, TKA 2026 hadir dengan pola yang berbeda dari tahun sebelumnya: satu mata pelajaran wajib setiap hari, durasi 75 menit untuk tiga mata pelajaran wajib, dua mata pelajaran pilihan pada hari keempat, serta pelaksanaan serempak di seluruh zona waktu Indonesia. Perubahan tersebut diarahkan untuk memberi ruang yang lebih baik bagi siswa dalam mengerjakan soal tanpa menumpuk beban kognitif dalam satu hari.
Editor : Mahendra Aditya