Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ironi Pengangguran Terdidik: Survei FEB UI Ungkap Lulusan Baru Butuh Waktu 20 Bulan untuk Dapat Kerja

Ghina Nailal Husna • Kamis, 18 Juni 2026 | 22:55 WIB
Ironi Pengangguran Terdidik: Survei FEB UI Ungkap Lulusan Baru Butuh Waktu 20 Bulan untuk Dapat Kerja
Ironi Pengangguran Terdidik: Survei FEB UI Ungkap Lulusan Baru Butuh Waktu 20 Bulan untuk Dapat Kerja

 

RADAR KUDUS — Fenomena sulitnya mencari pekerjaan bagi para lulusan baru (fresh graduates) di Indonesia kini mendapatkan legitimasi akademik yang kuat.

Hasil riset terbaru yang dirilis oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memaparkan potret yang cukup mencemaskan: rata-rata pencari kerja di tanah air membutuhkan waktu tunggu hingga 19,8 bulan atau hampir dua tahun untuk bisa mendapatkan pekerjaan pertama mereka setelah resmi menyandang status lulus.

Data yang menjadi basis analisis dalam laporan makroekonomi ini bersumber dari olahan data makro Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Agustus 2025 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Baca Juga: Hormati Kejaksaan Agung, KPK Putuskan Setop Penyelidikan Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis

Fokus utama dari penelitian tepercaya ini adalah memotret secara riil seberapa mulus proses transisi angkatan kerja muda dari bangku dunia pendidikan menuju kerasnya realitas dunia kerja.

Benang Kusut Faktor Penyebab Panjangnya Masa Tunggu

Panjangnya durasi menganggur pasca-kelulusan ini tidak berdiri sendiri. Para peneliti dari LPEM FEB UI mengidentifikasi adanya benang kusut multidimensi yang saling memengaruhi peluang seorang pelamar kerja. Faktor-faktor determinan tersebut bergerak dari ranah kompetensi individu hingga aspek geografis:

  • Kesesuaian Jurusan (Miss-match): Ketidaksesuaian yang akut antara kurikulum atau kompetensi jurusan yang diambil di institusi pendidikan dengan kebutuhan riil industri yang sedang berkembang.

  • Pengalaman Kerja Praktis: Minimnya portofolio magang (internship) yang berkualitas selama masa studi, sehingga pelamar gagap memenuhi kualifikasi standar minimal perusahaan.

  • Faktor Geografis: Ketimpangan lokasi tempat tinggal pencari kerja dengan konsentrasi lapangan kerja yang mayoritas masih berpusat di kota-kota besar.

  • Aspek Psikologis dan Ekspektasi Gaji: Adanya jarak yang lebar antara ekspektasi nilai upah/fasilitas yang diinginkan oleh pelamar pemula dengan kemampuan penawaran finansial riil dari skala bisnis perusahaan saat ini.

Paradoks Pendidikan Tinggi: Lulusan Kuliah Justru Lebih Lama Menganggur

Salah satu temuan yang paling mengejutkan sekaligus ironis dalam laporan LPEM FEB UI ini adalah adanya tren di mana lulusan dari jenjang pendidikan tinggi (Diploma dan Sarjana) justru cenderung memiliki masa tunggu kerja yang jauh lebih panjang jika dikomparasikan dengan para lulusan berlatar belakang tingkat pendidikan yang lebih rendah.

Fenomena paradoks pengangguran terdidik ini memicu kembali perdebatan hangat di ruang publik mengenai relevansi dan efektivitas investasi pendidikan di Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.900, Bank Indonesia Dongkrak BI Rate Jadi 5,75 Persen Demi Redam Tekanan Global

Tingginya angka masa tunggu bagi lulusan universitas ini mengindikasikan dua hal: adanya selektivitas yang sangat ketat (over-qualified) dari sisi pelamar yang enggan mengambil pekerjaan di bawah standar ekspektasi mereka, atau di sisi lain, industri memang sedang mengalami kejenuhan dan tidak mampu menyerap tenaga kerja kerah putih (white-collar workers) dalam jumlah besar.

Kondisi pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif dan menyusut akibat otomatisasi teknologi global menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan.

Temuan dari FEB UI ini diharapkan menjadi momentum krusial bagi Kementerian Pendidikan serta Kementerian Ketenagakerjaan untuk segera merombak total kebijakan taut-sesuai (link and match) antara dunia kampus dan dunia usaha, demi menyelamatkan masa depan generasi muda Indonesia dari jebakan pengangguran jangka panjang. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Survei LPEM FEB UI #Masa tunggu kerja lulusan baru #Data Sakernas BPS #Paradoks pengangguran terdidik #Link and match dunia industri