RADAR KUDUS – Deru motor dan notifikasi pesanan menjadi bagian dari hari-hari Wahyu Aji Ramadan selama kuliah.
Di sela jadwal kuliah Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), ia mengaspal sebagai ojek online pengantar makanan demi mencukupi kebutuhan hidup.
Keterbatasan ekonomi membuat Aji tak memiliki banyak pilihan.
Beasiswa tak ia dapatkan, sementara keinginan untuk meringankan beban orang tua terus menghantui pikirannya.
Jalan keluar itu akhirnya ia temukan di balik jaket ojol dan ponsel yang selalu siap menerima order.
“Pagi narik, siang kuliah. Kalau kuliah pagi, ya sorenya lanjut kerja,” kenang Aji, dikutip dari laman resmi UGM.
Perjalanan itu tak selalu mulus. Aji kerap menghadapi situasi sulit di lapangan.
Pernah berselisih dengan pemilik restoran karena order fiktif, harus mengganti pesanan pelanggan yang jatuh di jalan, hingga pulang larut malam di tengah hujan demi mengejar bonus harian.
Bahkan ban bocor di jalan menjadi pengalaman yang tak asing baginya.
Namun, lelah tak pernah mengalahkan tekad. Di balik rutinitas bekerja, Aji tetap menata waktu untuk kuliah dan mengasah prestasi.
Tak berhenti di satu pekerjaan, ia juga sempat bekerja paruh waktu di Departemen Hukum Perdata FH UGM dan menjadi penulis konten isu-isu hukum di media sosial.
Kesibukan bekerja rupanya tak memutus langkahnya di dunia organisasi.
Aji tercatat aktif di sejumlah komunitas akademik dan hukum, mulai dari Forum Penelitian dan Penulisan Hukum hingga Speech and Law Debate Society.
Ruang kelas dan ruang diskusi menjadi tempat ia terus menumbuhkan mimpi.
Prestasi pun datang silih berganti. Sejumlah gelar juara ia raih di kompetisi karya tulis dan artikel ilmiah tingkat nasional.
Namanya juga tercatat dalam berbagai riset hukum, termasuk kajian perubahan Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Haji dan pelacakan kasus hukuman mati bersama lembaga riset.
Puncaknya, Aji menuntaskan kuliah S1 dengan predikat cumlaude dan IPK 3,55. Sebuah capaian yang diraih melalui peluh, kelelahan, dan manajemen waktu yang ketat.
“Capek pasti ada. Tapi bukan untuk menyerah. Kadang cukup berhenti sebentar, atur ulang arah, lalu lanjut lagi,” ujarnya.
Kini, jaket almamater FH UGM menjadi simbol perjuangan yang telah tuntas.
Dari jalanan hingga ruang sidang akademik, Wahyu Aji membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Editor : Ali Mustofa