KUDUS- 22 Agustus 2025— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Moderasi Beragama (KKN-MB) kelompok 013 UIN Sunan Kudus menggelar kegiatan bertajuk "Moderasi Beragama: Harmoni Lintas Iman dalam Melestarikan Alam dan Budaya" yang berlangsung di kawasan Belik Gong, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Kegiatan ini menggabungkan tiga program kerja utama yaitu: penanaman bibit pohon, aksi bersih-bersih lingkungan, dan dialog moderasi beragama lintas Iman dalam konteks menyemai ekoteologi di masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi istimewa karena melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama Islam dan Katolik, masyarakat Desa Cranggang, Kepala Desa Cranggang, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), perwakilan LPPM UIN Sunan Kudus, serta seluruh mahasiswa KKN-MB 013. Kebersamaan yang terjalin mencerminkan semangat gotong royong, keberagaman, dan kepedulian terhadap lingkungan serta nilai-nilai toleransi lintas iman.
Kegiatan diawali dengan aksi bersih-bersih kawasan belik Gong, sebuah sumber mata air bersejarah yang menjadi simbol kehidupan bagi warga setempat. Setelah itu, mahasiswa bersama warga dan tokoh lintas agama melakukan penanaman sebanyak 50 bibit pohon dari berbagai jenis seperti Beringin, Gayam, Trembesi, Randu dan sejenisnya.
Penanaman ini sebagai simbol komitmen bersama dalam melestarikan keberadaan sumber mata air, menjaga ekosiostem bumi dan mencegah teradinya bencana seperti tanah longsor serta kekeringan.
Setelah kegiatan fisik, acara dilanjutkan dengan dialog Moderasi Beragama yang dilaksanakan di pendopo Belik Gong.
Dialog ini menjadi ruang reflektif untuk menumbuhkan semangat toleransi antarumat beragama, di mana semua peserta menunjukkan keterbukaan dan saling menghargai dalam keberagaman.
Dalam sambutannya, Bapak Jalil, Ketua RT sekaligus mewakili tokoh Masyarakat Katolik Desa Cranggang, mengungkapkan rasa syukur bisa bergabung dalam kegiatan ini.
Beliau menekankan pentingnya menanam pohon sebagai investasi untuk masa depan. Perbedaan bukan penghalang untuk merajut kebersamaan dan saling memberi warna keindahan.
"Bibit Pohon yang kita tanam hari ini akan memberi manfaat bagi anak cucu kita, juga bagi burung-burung dan hewan lain di alam. Pohon menjaga air bersih dan mencegah longsor. Jenis pohon yang beragam mencerminkan bahwa kita yang berbeda pun bisa hidup berdampingan. Perbedaan adalah warna yang memperindah kehidupan," ujarnya penuh makna.
Sementara itu, Zunus, tokoh agama Islam setempat yang sekaligus sebagai seorang Kaur menyampaikan pesan keagamaan tentang pentingnya menjaga alam dan nilai toleransi.
Dalam Islam kita telah lama belajar “Ẓaharal-Fasādu Fil-Barri Wal-Baḥri Bimā Kasabat Aidin-Nāsi Liyużīqahum Ba'ḍallażī 'Amilụ La'allahum Yarji'ụn”. “Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat ulah manusia. Maka, jika kita tidak bisa menjaga alam, setidaknya jangan merusaknya.
Alam adalah titipan, bukan warisan. Penanaman pohon ini adalah ikhtiar kita daam menjaga bumi meski terlihat kecil namun hal ini sangat berarti sekali."
Dalam paparanya, beliau juga menegaskan bahwa toleransi bukan hanya soal menghargai perbedaan agama, tapi soal adab dan kemanusiaan utamanya bagaimana setiap agama bersama sama menjaga alam dan ingkungan ini.
Nilai-nilai ini penting untuk terus dihidupkan dalam masyarakat. Imbuhnya.
Puspo Nugroho, selaku Dosen Pembimbing Lapangan, mengapresiasi semangat kolaborasi antar elemen masyarakat.
Ia menilai Desa Cranggang memiiki potensi sebagai miniatur Indonesia yang kaya budaya dan keragaman. "Prinsip ‘sayuk sayekti saeka praya’ atau satu gerak satu kesatuan, sangat terasa di sini.
Belik Gong menjadi titik temu lintas budaya dan iman. Dalam Islam, menanam pohon bahkan dihitung sebagai sedekah. Ini bukan sekadar kegiatan, tapi penguatan nilai kehidupan. Jika bukan kita yang merawat bumi, siapa lagi?" katanya penuh semangat.
Melalui kegiatan ini kami berharap bisa berdampak dan membawa manfaat bagi Desa Cranggang utamanya, umumnya kepada para mahasiswa sebagai ccalon pelaku di masyarakat kedepanya.
H. Imam Zuhri, Kepala Desa Cranggang, mensejarahkan perjalanan upaya pelestarian Belik Gong sejak tahun 1992 telah ada dan hari ini kita bisa melihat hasilnya pepohonan begitu hidup besar dan rindang, namun perhatian masyarakat terhadap perawatan alam masih kurang.
"Kami bersyukur kehadiran mahasiswa KKN UIN Sunan Kudus memberi semangat menghidupkan kembali kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam dan lingkungan.
Kami juga mengapresiasi kolaborasi Kerukunan umat Islam dan Katolik dalam menjaga bumi “belik Gong’ di sini terjalin dengan sangat baik. Kegiatan ini bisa menjadi contoh teladan yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Apalagi Belik Gong dipercaya sebagai salah satu petilasan dari para pembantu sunan Muria, yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tersendiri perlu kita lestarikan dengan batasan batasan agama dan tidak berlaku syirik terhadap pepohonan besar dan tempat-tempat yang disakralkan" ungkapnya.
Nabil Mahfudz, selaku Koordinator Desa KKN-MB 013, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan warga Cranggang.
"Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan. Belik Gong adalah sumber Mata Air kehidupan. Manusia dan alam harus hidup berdampingan.
Apa yang kita rawat hari ini akan kembali menjadi kebaikan bagi kita semua di masa depan."
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga alam, tapi juga sebagai sarana membangun kesadaran toleransi dan keharmonisan sosial dalam masyarakat yang majemuk.
Kegiatan KKN-MB 013 UIN Sunan Kudus di Desa Cranggang menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan dan penguatan nilai toleransi antaragama dapat berjalan berdampingan.
Aksi sederhana seperti menanam pohon dan membersihkan sumber mata air, jika dilakukan bersama dan dengan niat tulus, akan meninggalkan dampak besar bagi masa depan.
Semangat gotong royong, kerja sama lintas iman, dan nilai-nilai moderasi agama yang ditanamkan dalam kegiatan ini diharapkan dapat terus tumbuh dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Alam adalah rumah kita bersama, dan menjaga harmoni adalah tugas kita semua.
Aat Hidayat, wakil Panitia KKN dan LPPM UIN Sunan Kudus menegaskan, "Kegiatan seperti ini perlu dikembangkan dalam rangka menjaga hubungan manusia dengan tiga entitas, yaitu hubungan dengan Allah (hablun min Allah), hubungan dengan sesama manusia (hablun min an-nas), dan hubungan dengan alam (hablun min al-'alam). Hubungan dengan sesama manusia dijalin dengan semangat Moderasi Beragama. Adapun hubungan dengan alam dibina dengan semangat ekoteologi."
Editor : Zainal Abidin RK