Oleh: Ali Musyafak, S.Pd, M.Pd
MENURUT para ahli, santri adalah orang yang memiliki pemahaman dan cara pengamalan keagamaan yang baik, serta menjalankan kewajiban-kewajiban agama Islam dengan sungguh-sungguh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri adalah orang yang mendalami agama Islam atau orang-orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh.
Dalam perkembangan lebih lanjut, tempat pendidikan ajaran Islam berubah menjadi pesantren, sehingga santri sekarang dapat diartikan sebagai murid yang belajar dan bertempat tinggal di pondok pesantren.
Berpijak pada pengertian tersebut, sudah selayaknya kalau peserta didik Madrasah Aliyah Negeri 2 Kudus dikategorikan sebagai santri dengan alasan mereka menuntut ilmu agama Islam untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di samping itu di MAN 2 Kudus juga terdapat boarding school atau asrama untuk mereka bertempat tinggal.
Melihat tagline yang ada di MAN 2 Kudus yaitu "BISA" (Berkarakter, Integritas, Seimbang, Mendunia) dan melihat potensi SDM nya, baik SDM pendidik dan tenaga kependidikan, apalagi potensi para siswanya yang sudah terseleksi dari awal.
“Selaku kepala MAN 2 Kudus tidak berlebihan kiranya, di moment hari santri tahun 2024 ini mengusung dan bertekad menjadikan santri MAN 2 Kudus benar-benar bisa mendunia”, ungkapnya Ali Musyafak.
Beliau juga menambahkan “Usaha maksimal akan kami lakukan, demi menjaga dan menjadikan nama madrasah mendunia”, kata Syafak singkat saat diwawancarai oleh tim jurnalustik beberapa waktu lalu.
Lebih jauh Syafak menguraikan bahwa tagline yang diusung Kemenag di area pendidikan adalah Madrasah Maju Bermutu Mendunia, di samping itu, direktur KSKK baru saja melaunching tagline Madrasah Aman, Nyaman, Menyenangkan.
Berpijak dari itu MAN 2 Kudus bergerak cepat untuk menjalankan program untuk mewujudkan MAN 2 Kudus mendunia, dimana di dalamnya ada santri-santrinya.
Langkah pertama yang segera diambil melalui kebijakan madrasah adalah “Jumat Bersarung”.
Bersarung adalah budaya santri, dimanapun santri itu pasti bersarung, maka sesuai dengan budaya Kudus sebagai kota santri, maka di setiap hari Jumat seluruh civitas academica MAN 2 Kudus memakai sarung sebagai ciri kesantriannya.
Di samping pakaiannya, amalannya pun harus mencerminkan amalan santri.
Maka di MAN 2 Kudus sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai dengan bacaan dan kebiasaan yang menunjukkan amalan dan budaya santri juga, salah satunya adalah pembacaan syahadat, shalawat, dan dilanjutkan mahallul qiyam.
Ini sebuah amalan yang langka di manapun lembaga pendidikan berada.
Dengan mahallul qiyam kita hadirkan Nur Muhammad ke lingkungan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kudus agar madrasahnya menjadi aman, nyaman, dan menyenangkan karena dibersamai oleh Rasulullah SAW, sebagai kekasih yang paling dicintai Allah.
Kata mendunia itu mudah diucapkan, tetapi tidak mudah untuk direalisasikan. Namun MAN 2 Kudus dengan nahkoda barunya tidak pesimis dengan hal-hal yang sulit.
Justru hal itu menjadi tantangan bagi MAN 2 Kudus yang sudah berpredikat WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi) ini.
Langkah nyata dilakukan tanpa memakai kata lama, salah satunya adalah mengikuti lomba-lomba yang bertaraf internasional.
Dalam catatannya, bulan Oktober ini MAN 2 Kudus mengikuti salah satu lomba riset tingkat internasional, dan hasilnya cukup membanggakan yaitu memperoleh medali perak atas kerja keras para peneliti mudanya dengan arahan dukungan dari guru pembimbingnya.
Ini salah satu bukti nyata, bahwa MAN 2 Kudus tidak hanya berwacana dalam mewujudkan santrinya mendunia.
Para santri MAN 2 Kudus mampu bersanding dan bertanding dengan para peneliti lainnya dari berbagai negara di dunia pun.
Dalam waktu tidak lama, MAN 2 Kudus akan menjalin kerjasama dan menetapkan MOU dengan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dalam program Madrasah / kelas internasional.
Dari program ini, diharapkan alumni MAN 2 Kudus semakin banyak yang bisa mendaftar dan diterima di perguruan tinggi di luar negeri. Dengan demikian nama madrasah akan semakin hebat dan bersinar di dalam maupun luar negeri.
Kami memiliki harapan ke depan untuk para alumni mampu menjadi generasi emas di tahun 2045.
Para alumni MAN 2 Kudus akan bertemu kembali di istana negara kelak sebagai pemimpin-pemimpin negara yang cerdas, berkarakter, shalih-shalihah, akhirnya santri MAN 2 Kudus akan merubah Indonesia dan dunia menjadi negara yang Toyyibatun Warrobun Ghofur sebagaimana cita-cita para pejuang dan pendiri NKRI. (*)
Editor : Ali Mustofa