PENDIDIKAN zaman sekarang jika mengacu pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) memiliki tujuan yaitu bagaimana cara menjadi manusia yang merdeka namun tetap berbudi pekerti yang baik. Sebagai contoh dalam lingkup dunia pendidikan akhir-akhir ini kita sering mendapatkan berita beberapa siswa yang berperilaku kurang mencerminkan budi pekerti yang baik viral di beberapa sosial media. Hal ini menjadikan kita sebagai pendidik merasa gagal dan menjadi bahan introspeksi diri apa yang kurang selama ini.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberikan ilmu yang berfaedah secara lahir dan batin dengan cara memberikan tuntunan pada kekuatan kodrat yang dimiliki siswa untuk bisa mereka aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat kelak. Jika mengacu pada pernyataan tersebut pendidik zaman sekarang dengan berbagai fasilitas dan tantangan harus mampu menyesuaikan dan mengidentifikasi karakteristik siswa sesuai dengan kodrat zaman dan alamnya. Hal ini bertujuan agar seorang pendidik mampu mencari strategi-strategi pembelajaran yang tepat, sehinga yang diharapkan oleh pendidik yaitu siswa memiliki pengetahuan dan berbudi pekerti yang baik dapat tersampaikan dan dapat diaplikasikan oleh siswa.
Pemikiran kita sebagai pendidik selama ini bahwa siswa merupakan (tabula rasa) yaitu selembar kertas putih dimana kita seorang pendidik tugasnya menggambar atau menuliskan dari awal agar siswa memiliki warna sesuai yang diinginkan pendidik adalah pemahaman yang kurang pas. Hal ini bertentangan dengan pemikiran KHD yang digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan kurikulum merdeka kali ini. Menurut beliau siswa bukanlah tabula rasa (selembar kertas putih yang kosong), namun siswa itu ibarat kertas yang sudah memiliki tulisan/garis-garis tetapi masih tipis/samar. Hal tersebut yang menjadi tugas seorang pendidik untuk mampu mengidentifikasi yang kemudian ditindak lanjuti, ibarat pendidik menebalkan tulisan/garis-garis yang awalnya masih samar-samar tersebut menjadi lebih tebal, sehingga bisa terlihat dan terbaca dengan jelas apa yang ada di kertas tersebut.
Berdasarkan pernyataan sebelumnya dapat diartikan bahwa seorang pendidik dengan ilmu yang sudah dimiliki hendaknya mampu menuntun siswa untuk dapat berkembang sesuai dengan karakteristiknya dan menjadi pribadi yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.. Menuntun disini dapat diartikan bahwa pendidik mengarahkan perilaku dan pertumbuhan anak sesuai kodrat alam dan zaman anak. Dalam kegiatan menuntun pendidik bukan berarti membebaskan dan mengikuti apa saja yang diingikan oleh siswa, namun tetap memberikan arahan dan batasan agar siswa tidak melampaui batas yang berbahaya.
Jika pada sistem pendidikan sebelumnya pendidik dituntut dengan diberikan batasan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dan target materi yang harus diselesaikan oleh semua siswa disetiap semesternya, hal ini berbeda dengan sekarang. Pada sistem pendidikan sekarang yaitu penerapan kurikulum merdeka pendidik melakukan tes diagnostik diawal sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan setiap siswanya yang selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan menyusun tujuan pembelajaran dan strategi pembelajaran yang akan diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa, begitu pula berlaku untuk kriteria ketuntasannya. Kegiatan ini yang diimplementasikan dalam kurikulum merdeka yang dinamakan pendidikan itu bukan menuntut tapi menuntun.
Penyusunan kegiatan pembelajaran yang baik dan efektif hendaknya yang berpihak pada murid. Disini peran guru pendidik sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan dapat berpikir secara kreatif dan inovatif untuk mampu menghadirkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna dan dapat dimplementasikan anak kedepannya. (adv) Editor : Abdul Rokhim