Ada beberapa alasan yang menjadikan pentingnya pendidikan agama di sekolah umum di antaranya adalah;
Pertama, basic keluarga yang minim ilmu agama. Orang tua tidak mengenalkan ilmu keagamaan sejak dini dalam lingkungan keluarga karena terbatasnya kemampuan orang tua itu sendiri. Sehingga menjadikan sekolah sebagai tumpuan dalam mengenalkan agama untuk putra-putrinya.
Kedua, mayoritas masyarakat beragama islam. Di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam sedangkan jumlah antara madrasah atau pesantren lebih sedikit dari pada sekolah umum oleh Karena itu pendidikan agama menjadi sangat penting dan istimewa.
Ketiga, alokasi waktu yang terbatas. Jam pembelajaran saat di sekolah sangat terbatas sehingga tidak mungkin dapat menyampaikan materi secara utuh dan menyeluruh kepada peserta didik.
Keempat,rendahnya minat belajar siswa terhadap pendidikan agama. Kemajuan teknologi yang serba canggih semuanya berhubungan dengan sains, banyak temuan dan kejadian yang luar biasa yang terjadi dengan adanya alat yang modern dan ini menjadikan siswa kadang lupa bahwa yang terjadi itu berkat kehebatan alat dan manusia itu sendiri bukan dari kekuasaan Allah SWT.
Pada dasarnya pelaksanaan pada materi pendidikan agama Islam di sekolah memiliki banyak kendala. Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab terhambatnya keberhasilan dalam pelajaran PAI antara lain pertama,alokasi jam tatap muka yang sangat terbatas yaitu empat jam perminggu untuk SD dan 3 jam perminggu untuk SMP/SMA sederajat. Dengan minimnya waktu guru dituntut agar dapat menyelesaikan materi secara keseluruhan yang tentunya ini akan sangat sulit untuk di lakukan. Guru agama harus bekerja sama dengan guru kelas atau mupel yang lain agar penanaman sikap spiritual dapat di sisipkan pada pelajaran yang lain. Artinya keberhasilan pendidikan agama bukan tanggung jawab mutlak oleh guru itu sendiri tetapi adanya kerjasama antara siswa dengan seluruh guru mata pelajaran yang lain.
Semua guru bidang studi dapat memasukkan unsur-unsur serta nilai keagamaan pada saat pelajaran berlangsung. Sebagai contohnya: perilaku jujur, bertanggung jawab, amanah dan selalu berbuat baik pada orang lain. Saling menghargai dan membantu teman pada saat mereka membutuhkan pertolongan. Guru dapat memberikan contoh sikap,baik berupa tingkah laku dan ucapan secara langsung pada saat interaksi dengan siswa di sekolah. Menurut Ki Hajar Dewantara ing ngarsa sung tulada,ing madya mangun karsa,tutwuri handayani. Di depan,seorang pendidik harus member teladan atau contoh yang baik, di tengah, atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dari belakang seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan. Berdasarkan kutipan tersebut sudah sangat jelas bahwa suksesnya pendidikan agama bukan semata-mata tanggung jawab guru agama saja, akan tetapi semua pendidik dan tenaga kependidikan ikut andil di dalamnya demi menjadikan siswa yang pandai dan berakhlak mulia. (*) Editor : Ali Mustofa