Interaksi fisik antara guru dan siswa sejatinya menjadi kunci pembelajaran di sekolah yang ia pimpin. Namun, sejak imbauan belajar jarak jauh di masa darurat Covid-19 dikeluarkan, aktivitas tersebut secara otomatis berubah drastis.
Pandemi ini membuat guru dalam melaksanakan tugasnya harus dilakukan secara daring (online) dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini merupakan sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan, terlebih bagi siswa dan orang tua siswa. Di mana pembelajaran sebelumnya dilakukan secara tatap muka langsung di dalam kelas, namun sekarang hanya bisa melalui tatap maya melalui aplikasi online seperti Whatsapp, Zoom, dan Google Meet.
Untuk mengatasi kesulitan dalam proses pembelajaran tersebut, pihak sekolah telah melakukan banyak eksperimen. Platform-platform online dimanfaatkan secara maksimal untuk membantu interaksi siswa dan guru dalam mengirim materi pembelajaran. Namun, hal penting lain yang sangat diperlukan untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti saat ini, adalah adanya kemandirian belajar anak.
Rusman (2010: 355) mengungkapkan, hal terpenting dalam proses belajar mandiri ialah melihat peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa dalam proses belajar mengajar tanpa bantuan orang lain. Dalam belajar mandiri siswa akan berusaha sendiri memahami isi pelajaran.
Bahkan, untuk melakukan salah satu tugas penting guru ”menilai & mengevaluasi peserta didik” pun juga harus dilakukan secara daring. Jadi, penilaian dan evaluasi pembelajaran merupakan tolak ukur untuk mengukur sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran. Namun ketika pengumpulan tugas yang dilakukan setiap satu minggu sekali, dengan siswa datang ke sekolah secara bergiliran yang tentunya harus tetap dengan mematuhi protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun).
Hasilnya justru membuat tercengang, ketika guru mengetes siswa langsung terkait materi yang sudah dipelajari melalui daring selama pertemuan sebelumnya. Beberapa siswa tidak bisa menjawab pertanyaan guru dan tidak memahami materi pelajaran. Hal ini justru malah terjadi pada siswa yang nilai harian dan nilai ujiannya tinggi. Padahal siswa tersebut masuk pada kategori siswa yang kemampuannya kurang menurut guru yang bersangkutan. Bahkan, dalam buku tugas harian siswa tulisan di dalamnya pun terlihat tulisan orang lain. Berbeda dengan tulisan siswa selama ini.
Perbedaan tersebut erat kaitannya dengan ”kemandirian” siswa. Untuk kasus pertama itu, jelas terlihat kemandirian siswa kurang. Atau bahkan orang tua yang terlalu memanjakan anaknya dan kurang mengajak anak untuk mandiri. Sehingga anak tidak menulis sendiri tugas-tugasnya dan tidak mengerjakan soal-soal ulangan sendiri sesuai dengan kemampuannya. Selama pembelajaran daring, bantuan, bimbingan, dampingan, dan arahan dari orang tua memang sangat penting. Namun seharusnya orang tua juga harus bisa tegas dan mengajarkan kemandirian dalam diri siswa walaupun tetap dengan bimbingan orang tua.
Selain kesadaran dari orang tua untuk melatih kemandirian siswa selama pembelajaran daring dimasa pandemi ini, guru juga bisa ikut berperan meningkatkan kemandirian siswa dengan memantau setiap kegiatan yang dilakukan siswa secara daring melalui WA Grup Kelas atau bisa juga dengan memberikan aturan untuk siswa, agar lebih disiplin lagi atau dengan memberikan rubrik penilaian diri untuk siswa. Jadi, siswa harus bertanggung jawab atas rubrik penilaian diri yang telah diisi sendiri.
Harapannya, jika sudah mendapat dukungan dari berbagai pihak, orang tua maupun guru, dapat memberikan pengaruh yang baik bagi siswa. Karena jika siswa sadar atas tanggung jawabnya secara mandiri, otomatis akan berdampak baik pula terhadap hasil belajar siswa.
Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu, sehingga harapan kita bersama untuk merealisasikan dan memberlakukan pembelajaran tatap muka bisa terlaksana dengan baik. (*) Editor : Ali Mustofa