28 Murid di Sirahan Pati Alami Mual dan Muntah, Dugaan Keracunan MBG Diselidiki

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:21 WIB
MASIH BUKA: Tiga mobil parkir di SPPG Cluwak yang mengirim menu MBG dan mengakibatkan dugaan keracunan kemarin. (SAIPUL UNTUK RADAR KUDUS)
MASIH BUKA: Tiga mobil parkir di SPPG Cluwak yang mengirim menu MBG dan mengakibatkan dugaan keracunan kemarin. (SAIPUL UNTUK RADAR KUDUS)

PATI – Sebanyak 28 murid dari 10 lembaga pendidikan di Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, dilaporkan mengalami keluhan mual dan muntah yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain para pelajar, seorang ibu menyusui dan satu balita juga masuk dalam laporan dugaan kejadian tersebut.

Kasus ini menjadi perhatian setelah sejumlah anak mulai merasakan gangguan kesehatan pada Kamis malam sekitar pukul 22.00.

Baca Juga: Rumput Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus Menguning, Pemkab Intensifkan Perawatan

Meski demikian, penyebab pasti munculnya gejala tersebut masih belum dapat dipastikan dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Puskesmas Cluwak telah melakukan penanganan terhadap anak-anak yang mengalami keluhan.

Petugas juga mengambil sampel makanan untuk membantu menelusuri kemungkinan penyebab kejadian.

Dugaan kejadian tersebut dilaporkan melibatkan pelajar dari 10 lembaga pendidikan di Desa Sirahan.

Lembaga yang masuk dalam laporan meliputi POS PAUD Sirahan, SDN Sirahan 01, SDN Sirahan 02, MTs Darul Falah, MA Darul Falah, SMP Pancasila, MA Anajah Sirahan, TK PGRI Sirahan, TK Kartini Sirahan, dan RA Masyithoh Sirahan.

Gejala yang dilaporkan berupa mual dan muntah. Keluhan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan setelah menerima informasi mengenai kondisi sejumlah murid.

Kepala Puskesmas Cluwak, Sunarto, mengatakan pihaknya menerima laporan mengenai dugaan keracunan itu sekitar pukul 11.00 pada hari kejadian.

Setelah mendapatkan informasi, petugas segera melakukan penanganan terhadap anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan sekaligus mendatangi sekolah untuk memeriksa situasi di lapangan.

Sunarto menegaskan, dugaan keracunan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Sunarto, beberapa anak yang mengalami keluhan telah dibawa ke Puskesmas Cluwak untuk menjalani pemeriksaan.

Pasien dengan gejala ringan mendapatkan pengobatan dan diperbolehkan pulang setelah kondisinya dinilai memungkinkan.

“Ini baru sebatas dugaan. Kami mendapat laporan, kemudian turun dan melakukan penanganan. Tadi pagi (kemarin pagi, Red) ada yang masuk ke Puskesmas Cluwak dalam kondisi ringan. Lalu mendapat pengobatan dan diperbolehkan pulang,” kata Sunarto.

Selain pasien yang ditangani di puskesmas, terdapat laporan satu pasien yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Kelet, Kabupaten Jepara.

Namun, pasien tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit maag. Karena itu, hubungan antara keluhan yang dialami pasien dengan dugaan kejadian setelah konsumsi MBG masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Pihak puskesmas belum dapat menyimpulkan bahwa seluruh gejala yang dilaporkan berasal dari makanan program tersebut.

Pemeriksaan medis dan penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebabnya.

Untuk membantu mengungkap penyebab kejadian, petugas telah mengambil sampel dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cluwak yang diduga berkaitan dengan laporan tersebut.

Sampel kemudian diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pati agar dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan diharapkan memberikan informasi mengenai kemungkinan penyebab keluhan yang dialami para murid dan pihak lain yang masuk dalam laporan.

“Kami melaksanakan pengambilan sampel di SPPG. Kemudian menyerahkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Pati. Untuk hasil dan laporan secara detail, nanti menunggu informasi dari atasan kami,” jelas Sunarto.

Hasil pemeriksaan sampel menjadi salah satu informasi penting dalam proses penelusuran.

Dengan demikian, dugaan keterkaitan antara keluhan para murid dan makanan MBG tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan waktu munculnya gejala.

Laporan dugaan gangguan kesehatan yang melibatkan puluhan murid tersebut kembali menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program makan bergizi di sekolah.

Penanganan tidak hanya berfokus pada pengobatan bagi mereka yang mengalami keluhan, tetapi juga pada penelusuran sumber makanan, proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusinya apabila diperlukan dalam pemeriksaan.

Sementara itu, jumlah korban yang dilaporkan masih mengacu pada data sementara, yakni 28 murid, seorang ibu menyusui, dan satu balita.

Penyebab pasti kejadian serta ada tidaknya hubungan langsung dengan konsumsi MBG masih menunggu hasil pemeriksaan pihak berwenang.

Perkembangan hasil penyelidikan diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan mutu dan keamanan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat program tersebut. (adr)

Editor : Ali Mustofa
konsumsi makanan mbg PAT Dugaan keracunan program mbg