PATI - Warga Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, kini harus menghadapi persoalan lingkungan akibat mengeringnya Bendung Karet Sungai Juwana.
Kondisi tersebut menyisakan ribuan bangkai ikan sapu-sapu yang tersebar di sepanjang aliran sungai dan menimbulkan aroma tidak sedap yang cukup menyengat.
Bau busuk dari bangkai ikan tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga mulai memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari.
Kondisi lingkungan di sekitar sungai pun menjadi perhatian karena tumpukan bangkai ikan dikhawatirkan semakin membusuk apabila tidak segera ditangani.
Menanggapi keluhan warga, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Pati turun langsung ke lokasi.
Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi Bendung Karet Sungai Juwana sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa mengenai langkah penanganan yang diperlukan.
Dalam koordinasi tersebut, warga menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dinilai mendesak.
Salah satunya adalah pembersihan ribuan bangkai ikan yang telah menimbulkan bau menyengat di sekitar permukiman.
Selain itu, masyarakat juga meminta agar pasokan air dari waduk kembali dialirkan menuju Sungai Juwana. Ketersediaan air sangat dibutuhkan warga, khususnya untuk mendukung aktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Pemerintah kemudian menyepakati langkah pembersihan sungai dalam waktu dekat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo, mengatakan pihaknya bersama Pemprov Jateng akan segera melakukan evakuasi terhadap bangkai ikan.
“Berdasarkan kesepakatan bersama Pemprov Jateng, kami akan segera membersihkan area tersebut. Bangkai ikan akan diangkut dan dikubur di lahan kosong milik BBWS yang berada di dekat bendungan,” jelas Tulus.
Proses pembersihan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan.
Saat ini, tim gabungan tengah mempersiapkan alat berat yang akan digunakan untuk mengeruk area sungai sekaligus menyiapkan lokasi penguburan bangkai ikan.
Penanganan tidak hanya akan dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat setempat juga akan dilibatkan dalam proses pembersihan melalui kegiatan gotong royong.
Keterlibatan warga diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi sekaligus membantu membersihkan area sekitar bendung dari sisa-sisa bangkai ikan yang masih berserakan.
Di tengah rencana pembersihan tersebut, persoalan ketersediaan air juga menjadi perhatian.
Bagi masyarakat, terutama petani, aliran air ke Sungai Juwana memiliki peran penting untuk menjaga keberlangsungan lahan pertanian.
Sekretaris Desa Bungasrejo, Lukito, mengatakan kondisi Bendung Karet Sungai Juwana yang mengering bukan kali pertama terjadi. Fenomena serupa, menurutnya, juga pernah dialami warga pada 2024.
Lukito menilai pengaliran kembali air ke sungai dapat membantu mengatasi beberapa persoalan sekaligus.
Selain memenuhi kebutuhan irigasi, air juga diharapkan dapat membantu membersihkan sisa bangkai ikan yang masih berada di aliran sungai.
“Kami berharap instansi terkait bisa segera menggelontorkan air. Air ini sangat vital; pertama untuk irigasi pertanian dan mencegah tanggul jebol, serta yang kedua untuk membantu menyapu bersih sisa-sisa bangkai ikan sapu-sapu,” ungkapnya.
Warga berharap langkah penanganan dapat segera direalisasikan.
Mereka khawatir bangkai ikan yang terlalu lama dibiarkan akan semakin membusuk sehingga bau menyengat terus mengganggu lingkungan sekitar.
Selain persoalan kenyamanan, masyarakat juga meminta kondisi tersebut segera ditangani agar tidak berkembang menjadi persoalan lingkungan yang lebih luas. (adr)
Editor : Ali Mustofa