Kasus Dugaan Keracunan MBG di Pati Bertambah, 424 Orang Mengalami Gejala

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 09:04 WIB
SAKIT: Siswa keracunan MBG dirawat di RSUD Soewondo belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
SAKIT: Siswa keracunan MBG dirawat di RSUD Soewondo belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI – Jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati kembali bertambah.

Hingga Jumat (11/9) pukul 11.00 WIB, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati mencatat sebanyak 424 orang mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan MBG.

Kepala Dinkes Pati Luky Pratugas Narimo menjelaskan, warga yang mengalami gejala tersebut berasal dari sejumlah sekolah dan satu kegiatan posyandu yang mendapatkan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 01.

Mereka antara lain berasal dari SMPN 1 Gembong, MTsN 3 Pati, MTs Mambaul Ulum, SDN Gembong 03, MI Miftahul, serta Posyandu Anggrek.

Keluhan yang dilaporkan meliputi mual, muntah, hingga gangguan pada sistem pencernaan setelah menyantap makanan yang dibagikan dalam program MBG.

Dari keseluruhan warga yang mengalami gejala tersebut, 58 orang masih mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Perawatan dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni RSUD Suwondo, RS Mitra Bangsa, RS KSH, dan RS Fastabig Sehat.

Berdasarkan pendataan Dinkes Pati, dari SMPN 1 Gembong terdapat 16 pasien yang menjalani rawat inap dan 95 orang menjalani rawat jalan.

Sementara dari MTsN 3 Pati, sebanyak 18 pasien masih dirawat di rumah sakit dan 157 lainnya mendapatkan penanganan secara rawat jalan.

Di MTs Mambaul Ulum, tercatat 11 orang menjalani rawat inap dan 11 lainnya menjalani rawat jalan.

Selanjutnya, dari SDN Gembong 03 terdapat satu pasien rawat inap dan 38 orang rawat jalan.

Sementara itu, dari MI Miftahul terdapat satu korban yang harus menjalani rawat inap. Adapun dari Posyandu Anggrek, satu orang dirawat inap sedangkan 18 lainnya menjalani rawat jalan.

Luky mengatakan jumlah tersebut masih bersifat sementara karena proses pemantauan dan pendataan terhadap warga yang mengalami keluhan kesehatan masih dilakukan.

Tidak menutup kemungkinan jumlahnya berubah seiring dengan adanya laporan baru dari lapangan.

Meski demikian, kondisi korban yang masih menjalani perawatan disebut dapat ditangani oleh tenaga medis.

Beberapa pasien yang sebelumnya mendapatkan perawatan di rumah sakit juga telah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatan mereka membaik.

Hingga saat ini, penyebab pasti munculnya gejala pada ratusan penerima makanan MBG tersebut belum dapat dipastikan.

Dinkes Pati masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban.

Sampel dari berbagai menu MBG yang dibagikan telah dikirim ke laboratorium di Semarang.

Pemeriksaan dilakukan terhadap masing-masing jenis makanan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor yang menyebabkan munculnya gangguan kesehatan.

Di tengah proses pemeriksaan tersebut, Polresta Pati juga melakukan penyelidikan terkait kejadian yang diduga keracunan tersebut.

Polisi mengumpulkan barang bukti sekaligus meminta keterangan dari sejumlah pihak yang berkaitan dengan proses penyediaan hingga penerimaan makanan.

Kasatreskrim Polresta Pati Kompol Dika Hadian Widya Wiratama mengatakan penyelidikan masih terus berjalan.

Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk siswa yang mengalami keluhan kesehatan serta pihak pengelola SPPG.

Selain mengamankan sisa makanan, polisi juga mengambil sampel muntahan dari sejumlah siswa untuk diperiksa di Laboratorium Forensik (Labfor).

Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai kandungan atau faktor yang berkaitan dengan munculnya gejala pada para korban.

Dika menegaskan, polisi belum mengambil kesimpulan mengenai penyebab kejadian maupun menetapkan pihak tertentu yang bertanggung jawab.

Hasil pemeriksaan laboratorium masih diperlukan dan akan dibandingkan dengan keterangan para saksi serta temuan selama proses penyelidikan.

Polisi juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan adanya penyebab lain sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar.

Penyelidikan masih menunggu hasil Labfor dan pengumpulan bukti lainnya sebagai dasar untuk menentukan kesimpulan terkait kejadian tersebut. (adr)

 

Editor : Ali Mustofa
Menu MBG keracunan mbg program mbg dinkes pati