Puskesmas Tak Lagi Menampung, 29 Ambulans Dikerahkan untuk Evakuasi Korban MBG di Pati

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 15:36 WIB
DIRUJUK: Petugas Puskesmas Gembong membawa murid ke RSUD Soewondo menggunakan ambulan pada Rabu (9/9). (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
DIRUJUK: Petugas Puskesmas Gembong membawa murid ke RSUD Soewondo menggunakan ambulan pada Rabu (9/9). (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI – Dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mengambil langkah cepat.

Sebanyak 29 unit ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi ratusan siswa SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati yang mengalami gejala kesehatan.

Pengerahan puluhan ambulans tersebut dilakukan setelah kapasitas Puskesmas Gembong tidak lagi mencukupi untuk menampung seluruh pasien.

Sejumlah ambulans kemudian terlihat berjejer di area IGD RSUD RAA Soewondo Pati untuk membawa para siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Kepala Dinkes Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan evakuasi secara massal dilakukan agar para korban segera mendapatkan pelayanan medis yang memadai.

“Sudah kami evakuasi setelah Puskesmas Gembong overload. Ambulans 29 unit kami kerahkan supaya evakuasi berjalan cepat. Pasien kemudian kami arahkan ke RSUD RAA Soewondo dan sebagian lagi di RS Mitra Bangsa,” ujar Luky.

Mengenai kondisi para korban, Luky memastikan hingga saat itu belum ditemukan pasien yang mengalami gejala berat maupun berada dalam kondisi kritis.

Sebagian besar siswa mengalami keluhan yang berkaitan dengan gangguan pencernaan dan dehidrasi ringan. Gejala yang muncul antara lain mual, diare, pusing, serta tubuh terasa lemas.

“Rata-rata bergejala mual, diare, dan ada yang pusing, lemas. Tidak ada yang sampai pingsan,” paparnya.

Kabar tersebut menjadi sedikit kelegaan bagi keluarga korban. Selain memastikan penanganan medis dilakukan, Pemerintah Kabupaten Pati juga menyatakan biaya pengobatan para siswa tidak dibebankan kepada orang tua.

Luky mengatakan pembiayaan akan ditanggung melalui pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan program MBG.

“Seperti biasa, nanti biaya dari pihak BGN atau SPPG. Artinya, orang tua tidak akan dikenakan biaya pengobatan. Semua ditanggung,” terangnya.

Lonjakan pasien juga terjadi di RSUD RAA Soewondo Pati. Dalam waktu bersamaan, rumah sakit tersebut menerima 138 pasien yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Sebagian besar pasien datang dengan keluhan muntah dan diare. Kondisi tersebut membuat kapasitas ruang perawatan rumah sakit penuh sehingga pihak rumah sakit harus menyiapkan ruang tambahan secara darurat.

Direktur RSUD Soewondo Pati Ahmad Husin mengatakan pihaknya menerapkan sistem triase untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien.

“Yang muntah dan mencret lebih dari 10 kali, langsung kami tangani dan berikan infus di tahap awal. Sementara yang gejalanya kurang dari itu, kami evaluasi dan tangani di tahap kedua. Alhamdulillah, sampai saat ini semua sudah tertangani dengan baik,” jelasnya.

Selain keterbatasan ruang, rumah sakit juga menghadapi persoalan ketersediaan tempat tidur.

Untuk mengantisipasi pasien harus menjalani perawatan tanpa tempat tidur yang memadai, RSUD Soewondo berkoordinasi dengan institusi TNI untuk mendapatkan tambahan tempat tidur darurat.

Sementara menunggu fasilitas tersebut tersedia, sebagian pasien ditempatkan di aula rumah sakit yang dialihfungsikan sebagai ruang perawatan sementara.

“Ruangan-ruangan penuh semua. Sementara ini, pasien kami tempatkan di aula sambil menunggu bed pinjaman dari teman-teman tentara, agar pasien bisa mendapat tempat tidur satu-satu. Tidak lesehan,” terangnya.

Meski jumlah pasien meningkat tajam, Ahmad memastikan pelayanan medis masih dapat ditangani oleh tenaga kesehatan internal rumah sakit. Pihaknya tidak mendatangkan tambahan tenaga kesehatan dari fasilitas lain.

Untuk mengatasi kepadatan pasien, tenaga kesehatan dari sejumlah bangsal di dalam rumah sakit dimobilisasi untuk membantu penanganan pasien yang datang secara bersamaan. (adr)

 

Editor : Ali Mustofa
gejala kesehatan Dugaan keracunan Menu MBG pelayanan medis dinkes pati