230 Siswa di Dua Sekolah Pati Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Ini Gejalanya

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 15:09 WIB
SAKIT: Puluhan siswa dirawat di RSUD Soewondo pada Rabu (9/9). (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
SAKIT: Puluhan siswa dirawat di RSUD Soewondo pada Rabu (9/9). (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI - Ratusan siswa dan sejumlah guru di dua sekolah di Kabupaten Pati dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dugaan keracunan tersebut terjadi di MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong.

Makanan MBG yang dikonsumsi para siswa di kedua sekolah itu diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 01 Ngembes.

Secara keseluruhan, sebanyak 230 siswa dari dua sekolah tersebut dilaporkan mengalami keluhan kesehatan.

Selain siswa, sejumlah guru yang ikut mengonsumsi makanan MBG juga merasakan gangguan serupa.

Di MTsN 3 Pati, sedikitnya 127 dari 565 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan. Sebagian besar siswa yang terdampak berasal dari kelas VIII dan IX.

Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, menjelaskan makanan MBG seharusnya diterima dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 11.20 WIB.

Namun, distribusi makanan mengalami keterlambatan hingga sekitar pukul 12.00 WIB.

Menurut Zaenal, keterlambatan tersebut membuat jadwal makan siswa ikut bergeser. Para siswa kemudian lebih dulu melaksanakan salat Dzuhur sebelum makanan dibagikan.

Saat pertama kali disantap, tidak ada keluhan yang langsung dirasakan oleh para siswa. Gangguan kesehatan baru mulai muncul beberapa jam kemudian.

Keluhan yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, pusing, hingga diare.

Gejala tersebut mulai dirasakan sejumlah siswa pada sore hingga malam hari dan berlanjut sampai Rabu (9/9) pagi.

Zaenal mengatakan, keluhan mulai banyak muncul sekitar pukul 23.00 WIB.

“Mulai jam 23.00 itu mulai sakit perut, kemudian berak ke belakang (diare), dari sering sampai tadi pagi anaknya,” jelas Zaenal.

Tidak hanya siswa, beberapa guru MTsN 3 Pati yang turut mengonsumsi menu MBG juga dilaporkan mengalami gejala serupa.

Pihak sekolah masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah warga sekolah yang mengalami gangguan kesehatan.

Padahal, saat makanan dibagikan, menu tersebut justru mendapat respons positif dari para siswa. Zaenal menyebut beberapa siswa bahkan mengaku menyukai makanan yang diberikan dan meminta tambahan.

“Anak-anak kemarin malah merasakan enak, ada yang sampai nambah. Ada anak yang tidak masuk, jatahnya dimakan temannya,” ungkapnya.

Menu yang dibagikan berupa nasi bakar dengan lauk ayam suwir serta tempe yang dipotong kecil-kecil.

Salah seorang siswi MTsN 3 Pati, Nehisa, juga mengaku ikut menyantap makanan MBG tersebut.

Ia mengatakan rasa makanan yang dikonsumsinya cukup enak. Namun, beberapa waktu setelah makan, dirinya mulai merasakan mual dan pusing yang kemudian disusul diare.

“Kemarin juga ikut makan, rasanya juga enak, menunya nasi bakar. Setelah makan terasa mual dan pusing, terus diare. Itu dirasakan kemarin sore,” tutur Nehisa.

Kondisinya kini berangsur membaik setelah sempat mengalami sejumlah keluhan.

“Alhamdulillah hari ini sudah mulai baikan,” ujarnya.

Para siswa yang mengalami gangguan kesehatan kemudian mendapatkan penanganan medis. Sebagian pasien ditangani secara terpusat di RSUD RAA Soewondo Pati.

Pemusatan penanganan pasien tersebut dilakukan untuk mempermudah koordinasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan dugaan keracunan.

“Di RSUD Soewondo Pati, jadi kita terpusat di sana sehingga koordinasinya nanti lebih mudah,” kata Zaenal.

Pihak sekolah juga menyampaikan apresiasi kepada petugas dari Dinas Kesehatan, kepolisian, dan TNI yang ikut membantu menangani para siswa yang mengalami keluhan.

Dugaan keracunan makanan MBG pada hari yang sama juga dilaporkan terjadi di SMPN 1 Gembong.

Di sekolah tersebut, sebanyak 103 dari total 443 siswa mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Selain siswa, sekitar 13 guru yang ikut menyantap makanan tersebut juga dilaporkan mengalami keluhan kesehatan.

Dengan demikian, jumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan di dua sekolah tersebut mencapai 230 orang.

Penanganan dan pendataan masih dilakukan untuk mengetahui kondisi seluruh warga sekolah yang terdampak serta memastikan penyebab munculnya keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG. (adr)

Editor : Ali Mustofa
makanan mbg RSUD Soewondo kesehatan Dugaan keracunan program mbg