PATI – Kemarau ekstrem membuat kondisi Sungai Silugonggo atau yang juga dikenal sebagai Sungai Juwana di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Pati, berubah drastis.
Debit air menyusut hingga sebagian besar alur sungai kini terlihat mengering.
Di sejumlah bagian yang masih menyisakan air, tampak genangan kecil dipenuhi ikan sapu-sapu.
Jutaan ikan terlihat bergerak dalam kondisi lemah, sementara sebagian lainnya ditemukan sudah mati.
Kondisi tidak biasa tersebut kemudian direkam dan videonya menyebar luas di media sosial. Warga sekitar pun berdatangan untuk melihat langsung kondisi sungai.
Tidak hanya masyarakat setempat, para penangkap ikan dari luar daerah juga ikut datang memanfaatkan melimpahnya ikan sapu-sapu.
Salah satunya rombongan dari Lamongan, Jawa Timur. Mereka rela menempuh perjalanan cukup jauh setelah mendapat informasi mengenai banyaknya ikan sapu-sapu yang terjebak di genangan Sungai Silugonggo.
M. Ahsan, salah seorang anggota rombongan, mengatakan hasil tangkapan dalam kondisi tertentu bisa mencapai beberapa ton dalam sehari.
“Kalau banyak ikannya, kami bisa dapat sampai empat ton sehari,” ujarnya.
Rombongan Ahsan telah berada di lokasi sejak Rabu. Sebanyak enam orang diterjunkan untuk mengambil ikan dari genangan yang tersisa.
Ikan-ikan tersebut dikumpulkan menggunakan bak penampung sebelum kemudian dipindahkan ke truk yang telah menunggu di jalan pertanian.
Dalam sehari, rombongan menyiapkan sekitar tiga hingga lima truk untuk membawa hasil tangkapan.
Ikan sapu-sapu yang dikumpulkan tersebut nantinya dimanfaatkan sebagai bahan pakan untuk budidaya lele.
Banyaknya ikan yang ditangkap ternyata tidak hanya memberikan keuntungan secara ekonomi bagi warga dan penangkap ikan.
Aktivitas tersebut juga membantu mengurangi potensi pencemaran sungai.
Bangkai ikan yang mati dan dibiarkan membusuk di tengah kondisi sungai yang mengering berpotensi menimbulkan bau tidak sedap.
Kondisi itu tentu dapat mengganggu masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
Dari sisi harga, ikan sapu-sapu yang ditangkap warga juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya dapat dihargai sekitar Rp2.500 per kilogram, kini harga jualnya turun menjadi sekitar Rp2.000 per kilogram.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati, Hadi Santosa, menilai fenomena tersebut justru memberikan sisi positif.
Menurutnya, meningkatnya aktivitas penangkapan dapat membantu menekan jumlah ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal sebagai salah satu spesies invasif yang meresahkan nelayan.
Populasi ikan tersebut disebut meningkat cukup pesat sejak awal 2026. Karena itu, ketika ikan sapu-sapu ramai diburu dan diambil dari sungai, jumlahnya secara otomatis ikut berkurang.
“Kalau per ton kisaran Rp2 jutaan. Tinggal dikalikan. Kemarin ada delapan truk, tapi kali ini ada empat truk. Kebetulan tidak penuh hari ini,” kata Hadi.
Fenomena Sungai Silugonggo yang mengering ternyata juga menciptakan aktivitas baru di sekitar lokasi. Ramainya warga yang datang membuat sejumlah pedagang keliling ikut mendapatkan keuntungan.
Sebagian masyarakat bahkan datang bersama anggota keluarga. Mereka tidak hanya ingin melihat kondisi sungai yang jarang terjadi, tetapi juga memanfaatkan suasana sore untuk bersantai sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.
Di balik keramaian tersebut, ada pula rasa prihatin dari warga yang melihat perubahan kondisi sungai.
Mutia, salah seorang warga yang telah lama tinggal di Pati, mengaku sedih melihat Sungai Silugonggo yang biasanya dipenuhi air kini justru nyaris kehilangan alirannya.
“Prihatin juga melihat sungainya sampai seperti ini. Biasanya airnya cukup banyak,” tuturnya.
Fenomena kekeringan di Sungai Silugonggo pun menjadi gambaran dampak kemarau ekstrem. Di satu sisi, kondisi tersebut menghadirkan peluang bagi warga untuk menangkap ikan sapu-sapu yang terjebak di genangan.
Namun di sisi lain, menyusutnya debit sungai menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat yang selama ini terbiasa melihat sungai tersebut dialiri air dalam jumlah cukup besar. (adr)
Editor : Ali Mustofa