703 Tahun Berdiri, Pati Akhirnya Bersiap Punya Museum, Gedung Ini Jadi Kandidatnya

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:42 WIB
TAMPIL MAKSIMAL: Pentas ketoprak tampil maksimal saat menyambut menteri kebudayaan. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)
TAMPIL MAKSIMAL: Pentas ketoprak tampil maksimal saat menyambut menteri kebudayaan. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

PATI – Usianya telah mencapai 703 tahun dan Kabupaten Pati termasuk salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang di Jawa Tengah.

Namun, hingga kini Pati masih menghadapi satu persoalan yang cukup memprihatinkan, yakni belum memiliki museum daerah untuk menyimpan dan merawat berbagai peninggalan sejarah.

Akibat belum tersedianya tempat penyimpanan khusus, sejumlah benda bersejarah yang berasal dari Pati masih berada di luar daerah.

Beberapa di antaranya bahkan dititipkan di wilayah seperti Yogyakarta, Solo, hingga Kudus.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Pati mulai mencari langkah untuk mengakhiri ketergantungan terhadap daerah lain dalam menyimpan berbagai artefak peninggalan sejarah.

Rencana pembangunan museum daerah kembali disuarakan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, saat menghadiri pembukaan karya Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di GOR Pesantenan, Selasa (26/8) malam.

Momentum tersebut dimanfaatkan Chandra untuk menyampaikan langsung kebutuhan museum kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurut Chandra, keberadaan museum sangat penting bagi Pati. Selain menjadi tempat penyimpanan artefak, museum dapat menjadi sarana bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengenal perjalanan sejarah daerahnya.

Pemkab Pati bahkan telah menyiapkan rencana awal dengan memanfaatkan bangunan bekas kantor Satpol PP yang berada di belakang Pendopo Kabupaten.

Bangunan tersebut diproyeksikan untuk dialihfungsikan menjadi museum daerah.

“Pati sudah 703 tahun, tapi sampai sekarang belum punya museum. Banyak peninggalan sejarah kami titipkan di luar daerah. Ini miris bagi kami. Kami mohon Bapak Menteri Kebudayaan memfasilitasi pendirian museum agar generasi muda mengenal sejarah daerahnya,” tegas Chandra.

Usulan tersebut mendapat respons positif dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Pemerintah pusat menyatakan terbuka untuk berkoordinasi dengan Pemkab Pati guna menyusun konsep museum yang sesuai dengan potensi sejarah daerah tersebut.

Fadli menilai Pati memiliki kekayaan sejarah yang sangat besar. Jejak peradaban di wilayah tersebut tidak hanya berasal dari satu periode, melainkan berlangsung sejak masa lampau hingga perkembangan peradaban berikutnya.

Potensi tersebut antara lain berupa peninggalan dari masa klasik, prasasti, arca yang berkaitan dengan periode Hindu-Buddha dan Islam, serta berbagai temuan fosil purbakala dari kawasan Patiayam.

“Pati punya bukti peradaban yang sangat tua. Kita akan koordinasi dan siap mendukung konsep pembangunannya,” ujar Fadli.

Rencana pendirian museum diharapkan tidak sekadar menjadi proyek pembangunan gedung.

Keberadaannya diharapkan mampu menjadi pusat dokumentasi sekaligus ruang edukasi mengenai perjalanan panjang Pati.

Dengan adanya museum di daerah sendiri, berbagai peninggalan sejarah yang selama ini berada di luar wilayah dapat memiliki tempat penyimpanan dan pengelolaan yang lebih terintegrasi.

Museum nantinya juga berpotensi menjadi ruang bagi generasi muda untuk melihat secara langsung berbagai bukti sejarah yang selama ini hanya dikenal melalui cerita maupun buku.

Langkah awal Pemkab Pati dengan menyiapkan gedung bekas kantor Satpol PP menjadi titik penting dalam upaya mewujudkan museum daerah.

Dukungan dari Kementerian Kebudayaan diharapkan dapat mempercepat proses perencanaan hingga realisasi museum pertama di Kabupaten Pati. (aua)

Editor : Ali Mustofa
kantor satpol pp peninggalan sejarah fadli zon pemkab pati Menteri Kebudayaan