Sungai Silugonggo Mengering, Pertanian dan Pasokan Air Pati Mulai Terancam

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:25 WIB
MENGERING: Dasar Sungai Silugonggo mulai terlihat di Dukuh Sampang, Desa Tondomulyo, Jakenan. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
MENGERING: Dasar Sungai Silugonggo mulai terlihat di Dukuh Sampang, Desa Tondomulyo, Jakenan. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI – Musim kemarau berkepanjangan mulai memperlihatkan dampak yang semakin serius di Kabupaten Pati.

Sungai Silugonggo, yang juga dikenal masyarakat sebagai Sungai Juwana, kini mengalami penyusutan debit air secara drastis hingga sebagian besar dasar sungai terlihat.

Kondisi tersebut tidak hanya menjadi pemandangan yang tidak biasa, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap kebutuhan air untuk pertanian dan ketersediaan air baku bagi masyarakat.

Dalam beberapa pekan terakhir, aliran Sungai Silugonggo terus menyusut.

Air yang tersisa hanya mengalir tipis dan cenderung tenang. Bahkan, pada sejumlah bagian, dasar sungai telah terbuka akibat volume air yang semakin berkurang.

Kondisi sungai yang biasanya sulit diseberangi kini berubah drastis. Warga bahkan disebut dapat berjalan kaki melewati bagian dasar sungai yang telah mengering.

Trisno, warga Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, mengaku prihatin melihat kondisi Sungai Silugonggo.

Menurutnya, penyusutan debit air yang terus terjadi perlu segera mendapat perhatian karena dapat berdampak luas.

Ia khawatir kekeringan sungai tidak hanya mengganggu aktivitas pertanian, tetapi juga mengancam ketersediaan air baku yang selama ini dibutuhkan untuk pelayanan air bersih.

“Ini Sungai Silugonggo kering dan sudah mulai tanda-tanda. Ini akan mengakibatkan hal yang fatal bagi pertanian maupun persediaan air baku untuk PDAM di Kabupaten Pati,” ujar Trisno.

Menurut dia, kondisi tanaman pertanian saat ini cukup mengkhawatirkan karena membutuhkan tambahan pasokan air.

Jika tidak ada aliran yang segera masuk ke jaringan irigasi, risiko tanaman mengalami kekurangan air hingga gagal panen semakin besar.

“Pertanian akan terancam gagal bilamana dalam sehari dua hari ini tidak dibuka aliran pintu 9 atau pintu 8,” tegasnya.

Ancaman kekeringan Sungai Silugonggo tidak hanya dirasakan oleh petani. Kondisi tersebut juga berpotensi berdampak terhadap pelayanan air bersih masyarakat.

PDAM Tirta Bening Pati diketahui memanfaatkan Sungai Silugonggo dan Sungai Sani sebagai salah satu sumber air baku.

Karena itu, apabila debit Sungai Silugonggo terus menurun sementara musim kemarau masih berlangsung, ketersediaan bahan baku untuk pengolahan air bersih berpotensi ikut terganggu.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan air masyarakat tetap berjalan setiap hari, sementara sumber air justru semakin terbatas.

Persoalan lain muncul di kawasan sempadan Sungai Juwana. Warga juga menyoroti adanya fenomena tanah ambles di sekitar sungai.

Sejumlah warga menduga kondisi tersebut memiliki kaitan dengan perubahan debit air sungai dan keberadaan bendung karet di kawasan tersebut.

Mereka menyebut fenomena tanah ambles sebelumnya tidak pernah terjadi sebelum bendung difungsikan.

Sekretaris Desa Tondomulyo, Suhali, mengatakan wilayah sungai yang saat ini mengalami kekeringan berada tidak jauh dari bendung karet.

Bendung tersebut pada dasarnya memiliki fungsi untuk menahan intrusi air laut sehingga air asin tidak masuk dan bercampur dengan air sungai yang digunakan untuk kepentingan pengairan pertanian.

Namun, kondisi di lapangan saat ini menunjukkan situasi berbeda. Di balik dinding penahan bendung masih terdapat genangan air, tetapi air tersebut merupakan air laut yang memiliki kadar garam tinggi.

“Namun kenyataannya, sungai (di sisi dalam) malah mengering, sudah terjadi selama 6 sampai 7 hari ini,” jelas Suhali.

Kondisi kekeringan yang berdampak pada berbagai sektor tersebut dinilai membutuhkan kajian secara menyeluruh.

Pengamat Lingkungan Sungai Ari Subekti menilai data mengenai ketersediaan dan debit air perlu dihimpun secara komprehensif agar pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam menentukan kebijakan.

Menurut Ari, kajian tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan sumber air dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, baik untuk pelayanan air bersih maupun kebutuhan pertanian.

Untuk PDAM, data debit air dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi pelayanan kepada pelanggan.

Dengan begitu, potensi terganggunya distribusi air secara keseluruhan dapat diantisipasi lebih awal.

Selain persoalan kuantitas air, Ari mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas air Sungai Silugonggo.

Debit air yang semakin sedikit dapat membuat pencemaran menjadi persoalan yang lebih serius apabila terdapat limbah yang masuk ke sungai.

Karena itu, pengawasan terhadap aktivitas perusahaan di sekitar sungai dinilai perlu diperkuat. Terutama terhadap perusahaan yang diduga membuang limbah ke aliran sungai.

Menurut Ari, ketika volume air masih besar, pencemar mungkin lebih mudah terdilusi.

Namun saat debit air menurun drastis, konsentrasi pencemar berpotensi meningkat dan memperburuk kondisi lingkungan sungai.

Kekeringan Sungai Silugonggo akhirnya menjadi persoalan yang tidak hanya menyangkut pertanian.

Ketersediaan air baku, kondisi lingkungan, hingga risiko bencana turut menjadi bagian yang perlu diperhatikan secara bersama-sama selama musim kemarau masih berlangsung. (adr)

Editor : Ali Mustofa
sungai silugonggo debit air pertanian musim kemarau