Miris! 7 Tahun Pasca Longsor, Siswa SDN 2 Sukolilo Pati Masih Belajar di Bangunan Nyaris Ambruk

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 11:50 WIB
AMBROL: Salah satu ruang kelas di SDN 2 Sukolilo ambrol belum mendapatkan perhatian dari pihak terkait. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
AMBROL: Salah satu ruang kelas di SDN 2 Sukolilo ambrol belum mendapatkan perhatian dari pihak terkait. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI – Tujuh tahun sudah anak-anak SD Negeri 2 Sukolilo belajar di bawah bayang-bayang reruntuhan.

Sejak longsor menerjang pada 2019, sekolah ini tak pernah benar-benar pulih, dan sampai hari ini, tak satupun perbaikan datang.

Pemandangan di lokasi cukup bikin miris, sembilan ruang rusak berat, dua di antaranya sudah tak bisa dipakai sama sekali karena atapnya ambrol.

Enam ruang sisanya tetap dipaksakan untuk kelas 1 sampai 6, satu lagi jadi kantor guru, semuanya dengan plafon bolong dan mulai lapuk.

Kamar mandi sekolah pun sudah lumpuh total, tak bisa digunakan.

Kepala SD Negeri 2 Sukolilo, Arif Rifai, menjelaskan sekolah ini dulu bernama SD Negeri Su kolilo 5, sebelum resmi berganti nama menyusul proses regrouping pada 2026.

Namun ganti nama tak mengubah nasib bangunannya.

Kerusakan terparah ada di lokasi Dukuh Ledok, Desa Sukolilo,tembok kelas retak, sebagian atap runtuh, dan sisa-sisa longsor 2019 masih membekas tanpa sentuhan perbaikan.

“Hingga sekarang belum ada perbaikan sejak kejadian longsor itu,” ujarnya.

Sekolah ini punya dua lokasi, di Dukuh Ledok dan Dukuh Misik.

Dari seluruh bangunan yang ada, 11 ruangan berstatus rusak ringan hingga berat.

Ironisnya, di tengah kondisi genting itu, sekolah tetap menampung 291 siswa dan baru saja menerima 42 peserta didik baru,anak-anak yang harus belajar sambil menahan cemas.

Setiap hari, guru dipaksa merangkap jadi penjaga keselamatan.

Siswa dilarang mendekati bangunan lapuk atau ruang beratap ambrol.

Dan begitu hujan deras turun, kepanikan naik satu level: atap bocor di mana-mana, siswa dipulangkan lebih awal karena takut bangunan roboh mendadak.

Arif mengaku sudah berkali-kali mengetuk pintu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati.

Survei demi survei dilakukan — tapi pembangunan tak kunjung terealisasi.

“Kami berharap segera ada perbaikan karena kondisi bangunan sudah sangat memprihatinkan dan berisiko bagi siswa maupun guru,” tegasnya.

Kecemasan yang sama dirasakan guru kelas V, Rifa Nashihatin.

Ia mengaku waswas setiap kali mengajar, terus mengawasi murid agar tak mendekati titik-titik rawan runtuh.

“Kalau hujan kami semakin khawatir karena atap banyak yang bocor dan takut bangunan ambruk sewaktu-waktu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Disdikbud Kabupaten Pati, Sri Handayani, mengakui perbaikan sebenarnya bisa dibiayai lewat dana BOS atau APBD, tapi anggaran yang ada jauh dari cukup.

“Kalau mengandalkan dana BOS tentu tidak mencukupi. Pihak sekolah juga sudah mengusulkan bantuan ke pemerintah pusat,” ujarnya.

Sri menyebut sekolah ini dijadwalkan ikut pembahasan bersama kementerian terkait pada 20–22 Juli, kemungkinan digelar di Jakarta atau Yogyakarta.

Disdikbud Pati juga telah mengusulkan sekolah ini masuk program revitalisasi tahap kedua, dengan prioritas untuk sekolah dengan kerusakan paling parah.

Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan, mengingat lokasi sekolah berada di kawasan rawan bencana.

Warga dan pihak sekolah diminta memperkuat mitigasi lewat penghijauan dan kerja bakti.

“Kami sudah mengimbau agar dilakukan upaya pencegahan longsor karena lokasi sekolah memang berada di daerah yang rawan,” pungkasnya. (adr/ali)

Editor : Ali Mustofa
sdn 2 sukolilo pati peserta didik dana bos dinas pendidikan Perbaikan