PATI – Ribuan warga memadati jalan-jalan di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, untuk menyaksikan Kirab Budaya dalam rangka Haul Syekh Ahmad Mutamakkin.
Tradisi yang digelar setiap tahun ini kembali menjadi magnet bagi masyarakat karena memadukan nuansa religius dengan kekayaan seni dan budaya lokal.
Sepanjang rute kirab, peserta menampilkan beragam atraksi budaya yang menghibur.
Mulai dari marching band, tari tradisional, hingga arak-arakan kereta hias bertema naga raksasa yang diiringi dentuman musik tongklek.
Meski cuaca cukup terik, antusiasme warga yang memadati lokasi acara tetap tinggi hingga kegiatan berakhir.
Tokoh Pemuda Desa Kajen, Ulil Amri atau yang akrab disapa Cak Ulil, menjelaskan bahwa rangkaian Haul Syekh Ahmad Mutamakkin terbagi menjadi dua bagian, yakni kegiatan yang diselenggarakan yayasan serta agenda yang diprakarsai Pemerintah Desa Kajen.
Menurutnya, pihak yayasan menggelar berbagai kegiatan keagamaan seperti khataman Al-Qur'an binnadhor dan bil ghaib, pembukaan selambu makam, serta sejumlah ritual lainnya.
Sementara pemerintah desa menghadirkan kirab budaya sebagai salah satu agenda utama yang selalu dinantikan masyarakat.
Cak Ulil berharap kirab budaya tersebut dapat terus dilestarikan sebagai upaya menjaga warisan budaya Nusantara agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Ia juga menyebut peserta maupun peziarah yang hadir tidak hanya berasal dari Desa Kajen, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, terutama para alumni pondok pesantren di Kajen yang kini telah tersebar di berbagai wilayah.
Melalui peringatan haul ini, ia berharap masyarakat dan para alumni pondok pesantren dapat terus meneladani ajaran serta perjuangan Syekh Ahmad Mutamakkin sekaligus menjaga kehormatan para ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam.
Sementara itu, Ketua Panitia Desa, Syamsul Bakri, mengatakan selain kirab budaya, panitia juga mengadakan berbagai kegiatan lain seperti perlombaan bagi ibu-ibu PKK dan panjat pinang.
Meski demikian, kirab budaya tetap menjadi acara puncak dalam rangkaian peringatan haul tahun ini.
Kirab budaya diikuti oleh 22 kelompok yang berasal dari 13 RT, pondok pesantren, hingga lembaga pendidikan di Desa Kajen.
Syamsul menjelaskan bahwa musik tongklek dipilih sebagai identitas utama kirab agar memiliki ciri khas yang membedakannya dari perayaan serupa di daerah lain.
Menurutnya, konsep kirab disesuaikan dengan semangat peringatan haul sehingga berbeda dengan kegiatan sedekah bumi maupun festival desa pada umumnya.
Demi menjaga kebersamaan, panitia juga memutuskan tidak mengadakan perlombaan dalam kirab budaya agar tidak memunculkan persaingan maupun gesekan antarpeserta.
Ke depan, panitia berkomitmen terus melakukan evaluasi setiap tahun guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan Haul Syekh Ahmad Mutamakkin.
Harapannya, tradisi tersebut dapat terus berkembang tanpa menghilangkan nilai-nilai religius dan budaya yang selama ini menjadi ciri khas perayaan di Desa Kajen. (aua)
Editor : Ali Mustofa