PATI – Penetapan Bupati Pati Sudewo sebagai tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengejutkan warga di lingkungan tempat tinggalnya.
Kabar tersebut cepat menyebar dan memantik beragam reaksi dari tetangga hingga orang-orang yang selama ini mendukungnya.
Banyak yang mengaku terpukul dan menyayangkan peristiwa itu, mengingat Sudewo dikenal dekat dengan masyarakat serta kerap menunjukkan sikap sederhana dan merakyat.
Kemarin, suasana di kediaman Sudewo di RT 1/RW 3 Desa Slungkep, Kecamatan Kayen, tampak lengang.
Rumah bergaya klasik dengan sentuhan arsitektur Jawa itu terlihat tertutup rapat.
Gerbang besi berwarna merah yang menghadap ke jalan utama terkunci, diapit dua bendera Merah Putih.
Pagar rumah terbuat dari batu bata ekspos yang dicat senada dengan gerbang, memberi kesan kokoh sekaligus mencolok.
Di sisi kanan gerbang, terpasang sebuah banner berukuran sekitar 3 x 2 meter bergambar Sudewo bersama sang istri, Atik Sudewo, dengan ucapan “Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2026”.
Dari balik pagar, halaman rumah terlihat asri. Sejumlah pepohonan besar, didominasi pohon pule, berdiri rindang.
Baca Juga: Selain Perkara Desa, Bupati Pati Sudewo Juga Dijerat Kasus Suap Proyek Jalur Kereta Api
Di bagian dalam, tampak bangunan joglo khas Jawa, disusul rumah utama yang juga mengusung desain serupa.
Penetapan Sudewo sebagai tersangka dilakukan KPK setelah yang bersangkutan terjaring OTT pada Senin (19/1) malam.
Ia diduga terlibat praktik jual beli jabatan yang disertai pemerasan terhadap calon perangkat desa.
Meski demikian, aktivitas warga di sekitar rumahnya tetap berjalan normal. Beberapa warga tampak melintas di jalan depan rumah, seolah tak terjadi peristiwa besar.
Ketua RT 1/RW 3, Suparno, mengaku terkejut saat pertama kali mendengar kabar penangkapan tersebut.
Ia mengatakan awalnya tidak percaya ketika mendapat informasi dari rekan-rekannya.
“Saya benar-benar kaget. Awalnya hanya dengar kabar dari teman, katanya Pak Sudewo ditangkap KPK,” ujarnya.
Rasa penasaran mendorong Suparno mengecek informasi di media sosial. Setelah melihat berbagai pemberitaan, ia pun tak bisa lagi menyangkal kenyataan tersebut.
“Saya lihat sendiri di Facebook. Jujur saya sangat menyayangkan. Selama ini beliau baik dan dekat dengan warga,” katanya.
Menurut Suparno, sebelum menjabat sebagai Bupati Pati, Sudewo yang pernah menjadi anggota DPR RI dikenal aktif berinteraksi dengan warga sekitar.
Ia rutin pulang ke kampung halaman, setidaknya sekali dalam sepekan.
“Kalau pulang ke sini, pagi-pagi beliau sering jalan kaki, menyapa warga. Kadang ibu-ibu yang sedang berkumpul juga diberi uang belanja,” kenangnya.
Namun, pandangan berbeda datang dari salah satu pendukung Sudewo saat pemilihan kepala daerah, yang enggan disebutkan namanya.
Baca Juga: Gantikan Sudewo, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra Tinjau Banjir Juwana
Ia mengaku kecewa dengan kasus yang menjerat sosok yang selama ini didukungnya.
Menurutnya, dugaan praktik setoran dalam pengisian perangkat desa dilakukan terlalu terang-terangan.
“Kami ini sebenarnya menyayangkan. Cara seperti itu ngawur, terlalu terbuka,” ujarnya. Ia juga menyinggung janji politik Sudewo yang dinilai tidak ditepati, khususnya terkait pengisian perangkat desa secara mandiri. “Seharusnya pengisian perangkat desa itu mandiri. Nyatanya ada yang kecewa karena janji itu tidak terwujud,” tandasnya.
Peristiwa ini meninggalkan duka dan kekecewaan bagi sebagian warga yang selama ini menaruh harapan pada kepemimpinan Sudewo.
Di kampung halamannya, nama besar yang pernah dibanggakan kini berubah menjadi perbincangan, seiring proses hukum yang tengah berjalan. (adr)