Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Haru di Tengah Banjir, Jenazah di Mintobasuki Pati Diantar ke Makam dengan Perahu

Andre Faidhil Falah • Kamis, 15 Januari 2026 | 11:17 WIB
DIANTAR: Warga Desa Mintobasuki, Gabus hendak mengantarkan jenazah dengan menerjang banjir di desa setempat pada Kamis (15/1).
DIANTAR: Warga Desa Mintobasuki, Gabus hendak mengantarkan jenazah dengan menerjang banjir di desa setempat pada Kamis (15/1).

PATI - Suasana duka menyelimuti Desa Mintobasuki, Gabus, Kabupaten Pati, yang hingga kini masih terendam banjir.

Di tengah genangan air yang menutup hampir seluruh akses darat, warga terpaksa menggunakan perahu untuk mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman umum.

Kamis pagi (15/1), sebuah perahu kayu bermesin tempel tampak melaju perlahan di atas air kecokelatan yang merendam permukiman hingga setinggi paha orang dewasa.

Perahu tersebut difungsikan sebagai ambulans air darurat.

Di atas perahu, jenazah almarhum Warsono (53), warga RT 4 RW 1 Desa Mintobasuki, dibaringkan di dalam keranda dan ditutup terpal biru.

Beberapa pengiring jenazah duduk di atas perahu sambil memegang payung untuk melindungi jasad almarhum dari rintik hujan.

Sementara itu, sejumlah warga lainnya berjalan setapak demi setapak menerjang air sedalam paha untuk menuntun perahu agar tetap aman hingga tiba di lokasi pemakaman.

Warga harus berjuang ekstra di tengah kepungan banjir yang terus meninggi.

Akses jalan menuju permakaman umum lumpuh total karena terendam, sehingga jalur air menjadi satu-satunya pilihan untuk mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir.

Dengan penuh khidmat, keranda jenazah dinaikkan ke atas perahu kayu untuk menempuh perjalanan sejauh kurang lebih dua kilometer.

Rute yang dilalui melewati area persawahan yang kini telah berubah menjadi hamparan air.

Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, membenarkan bahwa penggunaan perahu dilakukan atas kesepakatan keluarga dan masyarakat setempat.

Hal tersebut ditempuh lantaran mobil jenazah yang biasa digunakan sedang bertugas di tempat lain.

“Tadi kami menghubungi mobil jenazah, namun sedang dipakai. Akhirnya keluarga dan masyarakat sepakat jenazah diantar menggunakan perahu. Apalagi lokasi makam melewati jalur sawah yang semuanya sudah terendam, sehingga memungkinkan dilalui perahu,” ujar Abdul Mustaji.

Ia menambahkan, meski sebagian area permakaman telah tergenang air, pihak desa memastikan masih terdapat titik tanah yang cukup tinggi untuk proses pemakaman.

Menurut Abdul Mustaji, banjir di Desa Mintobasuki mulai terjadi sejak Sabtu sore (10/1/2026) akibat luapan Sungai Silugonggo.

Hingga Kamis ini, ketinggian air terus menunjukkan peningkatan.

Data pemerintah desa mencatat sedikitnya 241 rumah terendam banjir, berdampak pada 313 kepala keluarga atau sekitar 800 jiwa.

Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter, sementara di jalan raya mencapai 5 hingga 90 sentimeter, sehingga sepeda motor kecil sudah tidak dapat melintas.

Tak hanya merendam permukiman, banjir juga melumpuhkan sektor pertanian.

Sebanyak 6 hektare tanaman padi muda dan 65 hektare padi siap panen terendam air.

Kerugian materi akibat kerusakan lahan pertanian tersebut diperkirakan mencapai Rp515 juta.

Kondisi warga pun mulai memprihatinkan. Abdul Mustaji menyebut, banyak warga mengeluhkan gangguan kesehatan, terutama penyakit kulit seperti gatal-gatal.

Namun hingga saat ini, posko kesehatan darurat belum tersedia di lokasi bencana.

“Keluhan gatal-gatal sudah banyak. Posko kesehatan belum ada, mungkin masih dalam tahap koordinasi," ujarnya.

"Untuk bantuan, kemarin baru ada kiriman mi instan dari Kemenag. Dari donatur lain kemungkinan bantuannya terbagi karena banjir ini terjadi hampir merata di wilayah Pati,” pungkasnya. (adr)

Editor : Ali Mustofa
#jenazah #perahu #pati #luapan sungai #pertanian