Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kemeriahan Prosesi Larungan Kepala Kerbau dalam Tradisi Lomban Kupatan di Sungai Tayu Pati, Begini Potretnya

Achmad Ulil Albab • Rabu, 9 April 2025 | 18:51 WIB

 

MERIAH: Panitia Bersiap melarung kepala kerbau ke muara Sungai Tayu pagi kemarin.
MERIAH: Panitia Bersiap melarung kepala kerbau ke muara Sungai Tayu pagi kemarin.

PATI – Kemeriahan tersaji dalam tradisi lomban kupatan di Sungai Tayu pagi kemarin.

Sesaji berupa kepala kerbau, kaki, dan ekornya dilarung di muara sungai. Kegiatan tradisi lomban ini dipusatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sambiroto.

Ratusan orang memadati tempat ini untuk menunggu rombongan dari balai desa Sambiroto.

Sesampainya di TPI Sambiroto, mereka pun berdoa bersama. Meminta keselamatan dan rejeki yang melimpah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah itu kepala kerbau yang dihiasi janur dan beberapa sesaji berupa makanan itu pun dibawa ke atas perahu nelayan. 

Lantunan musik barongan mengiringi prosesi pelarungan kepala kerbau ke muara Sungai.

Sesampainya di muara sungai, kepala kerbau kemudian dilarung untuk mencapai Laut Jawa. 

Ketua Panitia Lomban Kuptan Tayu Agus Mulyono mengungkapkan, tradisi ini dilakukan setiap tahun.

”Diawali dengan karnaval kemudian dilanjutkan larung sesaji. Kali ini ada 20 rombongan karnaval plus 5 kereta untuk tamu undangan, jelasnya.

Lebih lanjut Agus Mulyono mengaku tradisi ini sudah ada sejak tahun 1958 yang diprakarsai oleh Wedono Kawedanan Tayu.

Tradisi ini terus dipertahankan oleh masyarakat Tayu hingga saat ini. 

”Kegiatan ini menjadi tradisi tahunan. Untuk larung kerbau sebagai persyaratan sesaji yang telah dilakukan sejak dahulu. Sebelumnya tadi pagi juga ada kepala kambing yang ditempatkan di barat jembatan Tayu," lanjutnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati Rekso Suhartono menambahkan, tradisi ini berpotensi menarik wisatawan dari luar Kabupaten Pati.

Selain mempertahankan tradisi leluhur, ia pun mengungkapkan makna larung kepala kerbau. Menurutnya, larung kepala kerbau ini wujud syukur masyarakat. 

Sebelumnya, warga menyembelih kerbau dan dibagikan ke masyarakat. Larung kepala kerbau merupakan tradisi.

Warga menaruh harapan agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan keselamatan dan ketentraman. Ini menjadi bentuk ungkapan syukur.

Kegiatan ini membuat perekonomian masyarakat bergeliat. Bahkan menjadi satu atraksi wisata budaya yang ditunggu-tunggu masyarakat. (aua/war)

Editor : Ali Mustofa
#muara sungai #pati #kepala kerbau #nelayan #tradisi lomban